By: Jaclyn Litaay | Hot News | 09 Juli 2009, 09:33:33 | Dibaca: 983 kali
Mau ke luar kota nggak punya duit. Mau ke luar negeri? Kejauhan! Kenapa nggak putar-putar keliling kota Jogja dulu?
Maka ketika bulan Juni datang dan plat-plat luar kota mulai memenuhi jalan-jalan Jogja, saya makin bersemangat untuk plesir ke berbagai tempat itu. Plat B, D, H, AD, K, W bahkan Z membuat macet di mana-mana.
Apa sih yang bisa dilihat di Jogja? Banyak. Jika Anda cuma punya sehari untuk tour de Jogja rasanya tidak cukup. Saya sendiri hanya punya waktu setelah pulang bekerja. Berlibur adalah waktu untuk bersantai. Jadi, mulailah dari kemampuan.
Hari itu hari Minggu. Nyaris dua minggu saya berkutat dengan deadline. Urat-urat di otak saya perlu diregangkan. Lebih asyik lagi kalau mengajak teman. Leni, teman saya, siang itu sedang mengikuti Seminar Jurnalistik. Saraf-saraf menulisnya harus terus diasah. Saya sendiri tak bisa hadir di acara penting itu. Kelelahan karena deadline membuat saya harus memilih. Saya pergi ke gereja. Lagipula pemazmur berkata, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain”.
TRANS JOGJA Leni datang ke kos saya. Setelah meringkas kamera dan perlengkapan seperlunya, kami langsung ke halte bus Trans Jogja. Kalau di Jakarta biasa disebut busway, di Jogja kami menyebutnya trans. Ongkosnya Rp3000. Untuk menuju Malioboro kami harus menggunakan jalur 1A. Kami melangkah masuk dan mengambil tempat duduk strategis. Dalam Trans, kamera saya keluarkan. Sore itu, dalam Trans cukup lowong. Penumpang di kanan, kiri, dan depan saya melirik. Ada yang tampak malumalu dan ada yang cuek saja. Jepretjepret!
Usia Trans Jogja belum setahun. Namun menurut info dari salah satu pramugara (baca: kenek, kondektur), satu hari saja jalur 1A ini mampu mengangkut 4000 penumpang! Maklumlah, 1A adalah jalur terpadat dari 6 jalur yang tersedia. Terminal Prambanan – Bandara Adisucipto – Jl. Solo - Stasiun Tugu – Malioboro – Janti adalah titik-titik pusat aktivitas masyarakat Jogja.
Trans melaju santai. Penumpang masuk keluar Trans. Kami turun di halte Senopati 2 yang terletak persis depan Taman Pintar yang berseberangan dengan Gereja Katolik Franciscus Xaverius atau disebut Gereja Kidul Loji.
BERMAGNET Melewati Gereja Kidul Loji, kami singgah ke halaman gedung Bank Indonesia. Belasan bus tur anak sekolah dari beberapa kota di Jawa parkir disitu. Tukang es, tukang rujak, penjual permen dan rokok menjajakan barangnya disana. Pedagang baju-baju menggelar lapaklapaknya di lesehan halaman itu.
Pada salah satu sudut, enam anak laki-laki duduk bergerombol. Tiga di antaranya sedang menyulut rokok. Semuanya bercelana seragam SMP. Asap mengepul dari mulut kencur mereka. Terlintas dalam benak, kira-kira alasan apa yang mereka pakai agar diberi uang oleh orangtua? Dengan wajah malu-malu dan sembunyisembunyi mereka menoleh ke arah saya. Jepret-jepret! Rokok di tangan disembunyikan di balik badan.
Kota ini memang bermagnet. Dari Kantor Pos Besar, kami berbelok kiri menuju ke Alun-alun Utara. Jalan-jalan di antara gedung-gedung tua peninggalan Belanda tadi dipenuhi manusia dari berbagai latar belakang. Saya dapat melihat mereka yang wangi, bersih, dan modis. Yang kusut, bau dan sok modis. Yang naik kendaraan maupun berjalan kaki. Tidak semua mengenal Tuhan. Saya juga tak tahu isi kepala dan hati mereka. Yang alim belum tentu tertutup semua. Tapi yang banyak lubang anginnya tidak berarti tak bermoral dan liar hidupnya. Saya tak berhak menghakimi hidup mereka, namun Tuhan mengenal umat kepunyaan-Nya.
MERIAH Makin sore, makin banyak orang lalu lalang di kawasan Malioboro. Anak-anak sekolah berkelompok berseliweran. Mereka memakai identitas khusus agar mudah dicari jika terpisah dari kelompoknya. Ada yang berbatik satu motif, ada yang semuanya memakai topi kuning. Meriah! Langit mulai tampak merah saat kami sampai di depan Kraton. Semilir angin sejuk menyapa lembut bersahabat. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan perut mulai keroncongan. Angkringan banyak, tapi yang membeli lebih banyak. Jika terlalu lama mengantri, cacing-cacing di perut kami bisa mengganas. Setelah melongok kesana kemari, akhirnya mata kami tertuju pada sebuah gerobak persis di depan pagar Kraton. Wedang ronde! Aaah..nikmat sekali itu. “Saya pesan dua!”, tandas saya mantap. Penjualnya seorang wanita paruh baya berkulit gelap dengan wajah sedikit sangar; tipikal perempuan pekerja keras yang hidup di jalan.
Duduk di atas tikar, kaki-kaki yang kelelahan ini harus kami selonjorkan. Alun-alun memang ruang public masyarakat Jogja. Semua orang yang ingin santai, sekadar cuci mata atau berolahraga bisa kita temukan setiap sore. Yang berpacaran bertaburan di seluruh penjuru. Gaya mereka bervariasi. Mulai dari yang sopan berjarak sampai vulgar berhadap-hadapan tanpa menyisakan rongga udara di antaranya! Tanpa sungkan mereka saling peluk cium di depan umum. Oh my God!
WEDANG RONDE Ah, pesanan ronde datang! Daripada pusing memikirkan pemandangan aneh di depan mata, lebih baik saya menikmati minuman panas ini. Isinya kolang-kaling, roti tawar, kacang tanah sangrai, dan ronde. Yang disebut ronde adalah tepung ketan yang berbentuk bulat kecil dan diisi gula jawa, lalu direbus. Ronde dan teman-temannya ini dinikmati bersamaan dengan air jahe yang dituang dalam mangkuk berukuran sedang.
Di sebelah kanan kami, di atas motor, dua sejoli muda berkasihkasihan. Di kiri, anak-anak dan para orangtua mereka sedang menyeruput ronde. Penjual ronde yang duduk membelakangi kami sedang mengisap rokok. Matanya nanar. Inilah realita.
Dunia kita memang keras. Tak banyak yang menyadari karena sibuk hidup dalam hedonisme, atau takut tercemar sehingga terkurung dalam kenyamanan gereja. Semua yang tumpah di alunalun adalah gambaran nyata terang gelapnya hidup warga Jogja.
Malam makin gelap. Bintang-bintang mulai menitik di langit hitam. Saya dan Leni harus beranjak pulang. Kami tak ingin ketingggalan bus Trans Jogja. Besok, kami harus membanting tulang memenuhi ruang-ruang kosong jiwa manusia yang haus akan kasih Tuhan.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)