Musik dan Lagu Ibarat Kendaraan

By: Manati I Zega, Lex, Grollus | Hot News | 04 Nov 2008, 10:33:06 | Dibaca: 3688 kali

Musik dan lagu hanya sarana untuk membantu kita menyembah Tuhan. Warna musik dan lagu tidak perlu diperdebatkan. Allah tidak pernah melarang jenis musik dan lagu rohani apa pun.

Seorang warga gereja berkisah. Sekitar awal 2005, gerejanya menyelenggarakan kebaktian istimewa. Kebaktian pujian dan penyembahan. Akibat kebaktian istimewa tersebut, ia langsung meninggalkan ruang kebaktian saat itu. Mengapa? Karena dirinya merasa tidak nyaman dengan kebaktian pagi itu. Musiknya terlalu ramai. Pujiannya meriah. Tanpa dikomando, ia memutuskan pergi ke salah satu gereja yang dianggapnya tidak terlalu ribut. Begitu tiba di gereja itu, ia merasa tidak nyaman lagi. Pasalnya, pujiannya terlalu kalem. Bikin ngantuk. 

Kurang lebih sepuluh menit kemudian ia meninggalkan ruang kebaktian gereja itu dan cari gereja lain. Ia masuk salah satu gereja. Kurang lebih sepuluh menit duduk mengikuti ibadah. Tetapi, lagi-lagi ia meninggalkan ruang kebaktian. Mengapa? Ia merasa tidak tepat berada di sana. Puji-pujiannya terasa kering karena tidak diiringi musik.
Beberapa saat setelah kejadian itu, ia merenung. Batinnya yang bergolak dibiarkannya tenang. Dalam keheningan malam ia sadar. Ternyata, seharusnya ia tidak perlu bersikap demikian. Seharusnya ia sadar, musik dan pujian di masing-masing gereja punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada gereja, musik dan lagu yang sempurna. Tergantung bagaimana ia merespons. Respons seorang yang dewasa dalam iman.

MENDESAU ATAU TENANG
Musik sudah lama ada. Sejak penciptaan, musik pun sudah ada. Hal ini diyakini oleh Dra. Nanik Kristiana Ohmar (42). Merujuk Kejadian 1:2, Nanik yakin bahwa saat itu musik sudah ada. Ayat firman Tuhan itu mengatakan, “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2). Kalimat melayang-layang di atas permukaan air menurut jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini menunjuk bahwa di sana musik sudah ada. “Permukaan air pasti mengeluarkan bunyi. Entah bunyi yang tenang atau mendesau,” kata istri dr. Venny Pungus itu.

Kalau demikian, apakah bunyi identik dengan musik? Atau, musik identik dengan bunyi? “Menurut saya, sebagai musikolog, bunyi salah satu unsur musik,” tandas Nanik. Berarti, musik sudah setua budaya manusia. Nanik juga menambahkan, sebenarnya tubuh manusia adalah salah satu unsur musik. Amatilah detak jantung manusia. Detak jantung itu merupakan ritme alami yang dimiliki manusia. Hal senada diamini Godlief Soumokil (50). Godlief menggolongkan suara manusia sebagai alat musik tertua. Pencipta lagu rohani Yayasan Musik Gereja (Yamuger) merasa bangga dengan suara manusia. 

Kaitannya dengan ibadah, musik memegang peranan penting. Menurut Bhree Debby Roosvianc, S.Th (31), musik sudah ada sejak zaman Mesir. Mulanya, musik digunakan untuk penyembahan kepada para dewa. Dalam perkembangan selanjutnya, akhirnya musik dipakai dalam ibadah atau upacara-upacara keagamaan. Ketua jurusan musik gereja Sekolah Tinggi Teologi (STT) Abdiel Ungaran—Jawa Tengah ini membuktikannya. “Ukiran-ukiran prasasti, monumen, makam-makam, gambar-gambar pemain harpa menunjukkan bahwa musik terkait dengan upacara-upacara keagamaan,” jelas Debby. Dosen musik STT Abdiel ini menambahkan bahwa sejak zaman Musa, zaman Daud, musik sudah dipakai dalam ibadah Israel. “Lihat saja, rebana sudah digunakan sebagai alat musik dalam ibadah waktu itu.” 

ROCK DAN MOZART
Sesuatu yang tidak berdampak tidak ada gunanya. Hidup yang tidak berdampak tidak ada artinya. Demikian pula dengan musik. Apa dampak musik dalam kehidupan ini? Apa dampak musik dalam ibadah kita? Godlief yang memulai kariernya di Yamuger sejak 1982, mengakui ada dampak musik dalam kehidupan. Menyitir hasil penelitian di Australia, Godlief yakin musik punya dampak yang luar biasa dalam pertumbuhan bayi. Sebuah penelitian pernah dilakukan di Australia. Penelitian itu dilakukan terhadap bayi. Bayi yang menyusui dikasih musik rock dan Mozart. Bagaimana hasilnya? Ditemukan bahwa musik klasik Mozart punya dampak psikologis bagi pertumbuhan. 

Dampak yang sama dirasakan dalam ibadah. Tentang hal ini, menurut Godlief, ia pernah bertanya kepada beberapa orang. Mereka berkata, lebih mudah menghafal lagu dari pada menghafal Alkitab. Berarti, musik dan lagu dapat menjadi sarana untuk pertumbuhan iman. Dalam hal apa? Tentu, menolong umat Tuhan untuk memahami firman Tuhan. Dengan memahami firman, mereka semakin dekat dengan Tuhan. Semakin dekat dengan Tuhan, semakin serupa dengan Kristus. Semakin serupa dengan Kristus adalah tujuan Allah dalam kehidupan orang percaya. 

Lain lagi dengan Erwin J. Krisnanda. Pemusik yang sudah menjadi konsultan musik selama 20 tahun ini melihat dari sisi yang berbeda. Menurutnya, musik adalah sarana pembentukan karakter para pemusik. “Di sini seharusnya gereja berperan untuk mengubah karakter pemusik. Pembentukan karakter pemusik di keluarga tentu masih kurang. Karena itu, pemusik harus bertemu di gereja, berinteraksi serta mendengar arahan gembala,” tandas pemusik asal Surabaya ini. 

Musik pasti punya dampak dalam kehidupan umat. “Musik dan lagu lebih mengena pada jemaat,” kata Bhree Debby Roosvianc. Musik menolong jemaat memahami firman Tuhan yang diberitakan melalui lagu. “Sesuatu yang dijelaskan melalui kata-kata, mungkin cepat lupa. Tetapi, kalau disampaikan melalui lagu dan musik lebih gampang diingat,” katanya. Debby secara pribadi punya pengalaman. Suatu kali lagu dan musik yang didengarkan sesuai dengan kondisi yang dialaminya. Ia tersentuh lewat lagu dan musik yang dimainkan. “Saat itu hati saya tersentuh & iman saya pun dikuatkan,” kata Debby mengenang masa indah itu. 

SYAIR & MELODI 
Kini, lagu dan musik rohani berkembang pesat. Stasiun radio, TV dan gereja-gereja mengumandangkan lagu-lagu baru. Demikian pula konser-konser lagu pujian menjamur di mana-mana. Perkembangan tersebut disambut baik oleh gereja dan anak-anak Tuhan di negeri ini. Tetapi, tidak sedikit juga yang mengkritik habis-habisan. Pihak yang mengkritik merasa lagu-lagu kontemporer dangkal. 

Bagaimana sikap yang arif? Apakah sikap pro kontra terus dipelihara? Atau, memilih sikap lain yang lebih bijaksana? Adalah Marsius Tinambunan, S.Th, B.Ch. M. Ia mencoba memberi pandangan. Menurut pakar musik gereja dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta ini, penolakan pada beberapa jenis musik tertentu bisa terjadi karena orang tidak memahami sejarah musik gereja. Kalau kita tidak mengetahui perkembangan sejarah musik gereja, kita akan berpikir pada suatu saat musik tersebut muncul hanya dengan gaya tertentu saja. 

Sebagai contoh. Kalau kita menilik pada abad 16, musik gereja hanya dipakai oleh orang-orang tertentu dan untuk kepentingan tertentu saja. Tetapi, setelah terjadi reformasi dalam gereja, musik gereja juga ikut direformasi. Misalnya, gereja Katolik yang terkenal dengan lagu-lagu Gregorian mulai mengadakan sedikit perubahan. Terutama lagu-lagu Gregorian juga dipakai oleh gereja-gereja reformasi. Mereka tidak menolaknya, hanya diubah. Gregorian itu sebenarnya tidak bisa diketuk secara eksak, dan harus sesuai rythem. Tetapi di gereja reformasi lalu diberi ketukan, sehingga lagu-lagu ini semakin mudah dipahami. 

Mengutip pandangan Martin Luther dan Yohanes Cavin, Tinambunan mengatakan, kembalikanlah musik gereja kepada umat yang menyanyi. Perkembangan berikutnya (abad 18-19), orang lebih mengarah kepada spiritisme. Maka lagu-lagu gereja pun diciptakan lebih mengarah kepada Tuhan, Tuhanlah segalanya. Hubungan Tuhan dan manusia menjadi segalanya. Singkatnya, sebenarnya musik gereja selalu ada di sepanjang zaman, dan juga selalu mengikuti perubahan zaman. 

Kalau sekarang musik gereja menjadi persoalan, menurut saya, karena pemahaman umat belum sama. Mengapa musik-musik yang “kuno”, taruhlah dari abad 17,18, 19, masih tetap dipakai? Karena memang lagu-lagu yang diciptakan setelah reformasi itu disesuaikan dengan teologi yang ada pada masa itu. Misalnya di Inggris, lagu-lagu gerejanya diformat seperti untuk menghormati seorang ratu, karena sistem pemerintahan mereka. Maka, Tuhan itu digambarkan seperti raja yang harus dihormati dengan formal. Sehingga lagu-lagunya tenang, kalem dan jauh dari tepuk tangan. Mengapa? Karena pada zaman itu orang tidak berani membuat ibadat dengan tepuk tangan. Bangunan gereja juga disesuaikan dengan gambaran keagungan Tuhan yang luar biasa. Maka gerejanya dibikin besar dan megah. Jadi, zaman itu musik gereja dipengaruhi oleh tata cara dan sopan santun yang berlaku pada masa itu. 

Apa pelajaran yang dapat kita petik dari zaman itu? Pelajaran berharga adalah dalam mencipta lagu mereka selalu menatanya sebagus mungkin; bagaimana lagunya, pilihan katanya, aksentuasi lagu harus sama dengan aksentuasi pada lirik, syairnya berakhiran sama, karena menurut mereka lagu sama dengan karya sastra. Secara tata bahasa mereka bagus sekali. 

Perkembangan selanjutnya, tahun 1920-an adalah era revival movement. Karena kebutuhan para revival, yang datang ke suatu tempat, mengumpulkan orang banyak, maka lagu-lagu yang sesuai adalah yang bisa membangkitkan semangat. Karena itu isinya terbanyak, adalah mengangkat dan meninggikan Tuhan. Intinya adalah praise! Para revival ini tidak memikirkan hal yang berat-berat. Lihat saja khotbah mereka yang ringan-ringan saja. Maka lagu-lagu dan syair yang dibuat pun tidak sulit. Mudah sekali dimengerti. 

Cuma tetap ada kelebihan dan kelemahannya. Lagu-lagu yang kita sebut kuno tadi secara aksentuasi, pilihan kata, syair, gramatika, dan muatan teologisnya cukup terjaga, meskipun memang harus tetap diupdate supaya sesuai zaman di mana lagu itu hidup. Nah, lagu-lagu sekarang yang kita sebut musik gospel atau pop musik, pujian rohani, justru kelemahannya, (tidak semuanya) adalah apakah bisa dipertanggungjawabkan syair dan muatan teologinya? Kalau ya, menurut saya tidak apa-apa. Teologinya mau diarahkan kemana? Teologinya īkan tidak hanya kepada Tuhan, tetapi bisa kepada sesama, lingkungan.

Hal senada ditambahkan oleh Godlief Soumokil. Menurut pria kelahiran Papua ini, setidaknya tiga unsur penting yang harus melekat kuat dalam suatu lagu. Pertama, syair lagu teologinya harus benar. Kedua, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan sampai gereja dituduh merusak kaidah bahasa Indonesia. Ketiga, musik dan melodinya haruslah pas. Ketiga hal di atas menjadi barometer untuk sebuah lagu pujian yang baik.

BUKAN SEKADAR MENGARANG
Untuk memenuhi ketiga barometer di atas, pencipta lagu tidak sekadar mengarang. Lagu rohani harus berbeda dengan lagu sekuler. Mengapa? Karena lagu rohani ditujukan untuk meninggikan Tuhan Yesus. Karena itu seorang pencipta lagu rohani harus memenuhi kriteria tertentu. Menurut Dra. Nanik Kristiana Ohmar, seorang pencipta lagu harus sudah lahir baru. Bagaimana seseorang menceriterakan Yesus yang tidak dikenalnya dengan baik? Itu sulit. Namun, kalau ia sudah lahir baru pasti lagu yang diciptakan berasal dari pergumulannya dengan Yesus.

Namun, lahir baru tidaklah cukup. Seorang pencipta lagu rohani harus memenuhi persyaratan lainnya. Persyaratan apa yang dimaksud? Godlief menambahkan. Ia harus akrab dengan Alkitab. Ini dasar segalanya. Ia juga harus akrab dengan persekutuan dan memahami betul pergumulan gereja masa kini. Memahami pergumulan gereja membuatnya dapat menuliskan lagu rohani yang menguatkan iman. Karena itu, Godlief kurang setuju jika lagu rohani tidak menggunakan kata Yesus atau Tuhan. “Kalau lagu itu untuk memuliakan Yesus, ya sebutlah kata Yesus dalam lagu itu,” kata warga GPIB Surya Kasih, Pondok Kopi, Jakarta ini. Dan, yang tidak kalah penting, ia harus seorang yang rendah hati. Seorang yang rendah hati pasti konsisten meninggikan Yesus terhadap lagu yang dikarangnya. Bukan meninggikan diri atau kemampuan yang Tuhan anugerahkan.

Lahir baru, akrab dengan Alkitab tentu hal yang baik. Tetapi, nampaknya terasa kurang tanpa yang satu ini. Seorang pencipta lagu rohani harus punya musikalitas yang baik. Bhree Debby Roosvianc, S.Th menyebutkan meskipun bukan sarjana musik, seorang pencipta lagu harus punya musikalitas yang tinggi. Musikalitas itu sebenarnya dapat dilatih. Mengikuti kursus atau pendidikan singkat tentang musik adalah solusi terbaik.

TAK PERLU MENGHAKIMI
Menghakimi sesama orang percaya bukan hal bijaksana. Apalagi dasar penghakiman itu hanya karena warna musik atau lagu rohani yang dipakai di gereja. Bhree Debby Roosvianc, S.Th adalah contoh yang baik. Ia dilahirkan di tengah-tengah Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI). Ayahnya, Pdt. Ida Bagus Mamantaka, gembala jemaat GPdI Karangjati, kabupaten Semarang. Sejak kecil, ia dididik dalam gereja pentakosta. Ketika menyelesaikan kuliah di STT Abdiel Ungaran, masa praktik pelayanan dilakukannya di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Blora, Jawa Tengah.

Dalam pergaulan dengan jemaat dan teman-teman dari GKI, ia sadar bahwa saling menghargai adalah sikap yang penting ditumbuhkan. Debby yakin musik dan lagu hanyalah sarana agar kita menyembah Tuhan. Harus diakui lagu-lagu himne punya bobot teologis yang baik. Tetapi, bukan berarti lagu-lagu rohani yang berkembang sekarang harus ditolak. Lagu-lagu sekarang memang sederhana, tetapi punya peminat tersendiri. Kalangan muda senang dengan lagu-lagu kontemporer. Mereka diberkati. Mereka bereksplorasi. Mereka dapat mengekspresikan jiwa mudanya melalui lagu itu. 

Hal penting lain yang harus disadari, masih menurut Debby, pemakaian lagu untuk gereja di Indonesia tidak mungkin diseragamkan. Bagaimana mungkin menyeragamkan lagu dan warna musik untuk gereja dengan berbagai denominasi? Maka, sikap yang bijaksana adalah saling menghormati. Musik dan lagu rohani adalah selera. Dan yang lebih mendasar, sepanjang sejarah Allah tidak pernah melarang musik atau lagu tertentu. Gereja yang harus bijak dalam menentukan musik atau lagu yang tepat.

Hal ini pula diamini oleh Dra. Ari Tjahjani. Ia telah puluhan tahun melayani sebagai pemusik di gerejanya. Ia juga belajar musik dan lagu rohani secara otodidak. Menurutnya, kalau diibaratkan, musik dan lagu rohani itu adalah kendaraan. Kendaraan yang memudahkan kita untuk mengagungkan Tuhan. Musik dan lagu rohani hanyalah sarana bukan yang utama. Yang utama adalah hati umat yang punya sikap menyembah. Itulah yang Tuhan nantikan. Apabila hati seseorang berpaut untuk memuji Tuhan, tanpa musik pun ia dapat melakukannya dengan sukacita. Baik lagu-lagu himne, musik dan lagu kontemporer sama-sama dipakai untuk memuliakan Tuhan. 

Sumber: Majalah Bahana, Juni 2009

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer


Layanan SMS

Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REMA
Untuk Renungan Pagi
Ketik REG <spasi> REPA
Untuk Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG

Kirim ke:
Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363
XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363

Untuk berhenti:
UNREG PAGI / SIANG / MALAM
& kirim ke nomor yang sama diatas

Khusus untuk TELKOMSEL
Ketik REG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA)
Kirim ke 5454.
Untuk berhenti berlangganan, ketik UNREG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA) ke 5454
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN


Pengumuman

RALAT BAHANA cetak edisi November 2012
24 Okt 2012
Lowongan Penerbit Andi
15 Jun 2012
© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2014
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13