By: Sr.Paulina Made SSpS | Misi Gereja | 26 Mei 2009, 09:57:22 | Dibaca: 1767 kali
Ketika saya melamar untuk menjadi suster SSpS (propinsi jawa) tahun 1982, saya diminta mengisi formulir. Salah satu pertanyaan dalam formulir tersebut adalah “Apakah anda bersedia dikirim ke mana saja kongregasi mengutus kamu?” Saya langsung menulis “Ya, saya bersedia”, walaupun saya tidak mengerti betul apa maksudnya. Saya mengira, bahwa saya akan dikirim ke pulau lain di Indonesia. St. Arnoldus Jansen, SVD mendirikan tarekat SVD dan SSpS dengan tujuan untuk mewartakan Sabda Allah terutama di mana Sabda Allah belum cukup berakar. Pada tahun 1990, saya mengikrarkan kaul kekal dan diutus ke Botswana (Africa) untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Pada tahun 1992, saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Botswana, di tanah Africa.
Botswana adalah negeri padang gurun yang sangat kering. Hanya 30% dari negara ini yang dapat dihuni dan lainnya adalah padang gurun (Gurun Kalahari). Melihat tanah yang kering, saya terbanyang akan pulau “BALI” yg indah, hijau dan hal itu sangat contras dengan Botswana. Saya mengalami stress dan frustasi karena harus belajar bahasa lokal (Setswana) yang sangat sulit. Sementara selama belajar, saya tidak memiliki guru yang profesional. Guru saya adalah seorang tamatan SLTP. Jadi, guru tersebut hanya berbekal bahasa Inggris dan Setswana saja, tanpa memiliki keahlian untuk mengajar dan menjelaskan dengan baik. Selain itu, gaya dan cara hidup orang-orang Botswana juga sangat berbeda. Tidak jarang, saya berfikir negatif tentang mereka, karena saya menilai dan membandingkan dengan budaya saya. Sering kali, kita menggunakan kaca mata budaya dan pola pikir kita sendiri untuk menilai sesuatu yang lain sama sekali. Saya berkata kepada diri saya sendiri ”Mungkin saja saya lahir di sini, di tanah kering ini”. Kata-kata inilah yang membuat saya untuk bertahan. Oleh karena itu, saya tidak mau membandingkan mereka dengan budaya saya sendiri, tetapi saya berusaha untuk mengerti dan mencintai mereka. Mengganti pola pikir dan menyesuaikan dengan cara berfikir mereka.
Saat ini, saya bertugas pastoral di Katedral Francistown. Tugas pokok adalah membantu kehidupan rohani seperti: Counseling, memberi seminar bagi katekis di seluruh keuskupan, memberi pelajaran agama, beri komuni kepada yang sakit dan tua, mengunjungi dan membantu orang sakit dan miskin, pergi ke stasi dan lain-lain. Tantangan yang terbesar di Botswana adalah penyakit HIV/AIDS. Menurut data WHO, Botswana merupakan salah satu negara tertinggi pengindap HIV/AIDS. Orang dewasa pengindap HIV/AIDS 24,4% dari 1.842.000 orang, belum termasuk anak remaja dan anak-anak. Berdasarkan data tahun 2007, yang meninggal karena AIDS adalah 11.000 orang. Baru-baru ini saya menghadiri pemakaman. Saya melihat ada 7 orang yang dimakamkan di kuburan yang sama berdekatan satu sama lain. Ini baru di satu pemakaman dikuburan saja. Bagaimana dengan tempat makam lain? Ada berapa banyak tempat makam di Botswana? Akibatnya banyak anak-anak yang menjadi yatim piatu.
Menanggapi situasi ini, saya membantu anak-anak jalanan dan anak yatim piatu dengan memberikan tempat tinggal, menyekolahkan, memberi makanan, batuan moral dan spiritual dsb. Setiap hari Sabtu saya mempunyai proyek yang disebut “feeding project” untuk 250-300 anak-anak yatim piatu, miskin dan juga yang menderita akibat HIV/AIDS. Sebagian dari mereka juga terserang HIV/AIDS (terkontaminasi dari orang tua mereka). Satu hal yang sangat menarik adalah mereka makan bersama: satu piring berbagi 2 atau 3 orang. Namun mereka tidak pernah berkelahi untuk berebut makanan. Yang lebih tua rela mengantri makanan dan mencuci piring. Sementara yang kecil hanya duduk menunggu. Dengan rela hati mereka berbagi satu sama lain dan tidak pernah merasa makanan kurang. Banyak atau sedikit porsi makanan mereka tetap berbagi. Saya pernah iseng-iseng bertanya: “Mengapa kamu membagi makanan dengan temanmu kalau dia tidak baik terhadap kamu?” Lalu dia menjawab, “Dia memang jahat terhadap saya, tapi saya ngak bisa lihat teman saya merasa lapar”. Dalam program ini, kami tidak hanya memberi makan tetapi juga memberi cinta, perhatian, dan pendidikan moral. Mereka menikmati bernyanyi, menari, mendengarkan cerita Kitab Suci. Acara diakhiri dengan makan bersama. Pemerintah dalam arti tertentu memang membantu para anak yatim piatu, namun mereka lupa bahwa anak-anak tersebut membutuhkan cinta. Cinta dari orang tua yang tidak mereka miliki lagi. Cinta orang tua yang mendidik mereka soal moral, etika dan lain-lain. Banyak anak yang tumbuh dan berkembang tanpa cinta kasih orang tua.
Selain itu ditingkat Paroki, kami juga membentuk kelompok HIV/AIDS yang di bimbing oleh Sr. Debra SSpS. Pencegahan penularan HIV/AIDS dilakukan melalui seminar “Education for life” terutama kepada anak-anak muda yang bertujuan untuk merubah sikap dan sifat untuk mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Saya sedih melihat semakin banyak orang menderita penyakit ini dan semakin banyak yang meninggal. Kadang saya merasa, sepertinya usaha untuk memberi seminar dan pendidikan tentang HIV/AIDS adalah sia-sia. Akan tetapi, kami tidak pernah putus asa. Kami melakukan apa yang dapat kami lakukan dan melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Soal apakah berhasil atau tidak, kami serahkan kepada Tuhan. Ini adalah suatu proses yang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Kami yakin dan percaya bahwa Tuhan tentu mempunyai suatu rencana yang kadang tidak dapat dimengerti oleh manusia.
Saya sendiri merasa bahagia dan senang bekerja bagi orang-orang terlantar dan miskin. Saya adalah seorang misionaris yang meninggalkan tanah air tercinta nan indah, dengan rela datang ke Botswana. Lewat anak-anak yatim piatu, miskin, para penderita HIV/AIDS ini, saya mengerti apa itu arti kehidupan dan membuat saya semakin bersyukur kepada Tuhan atas kehidupan ini. Sering kali, kita lupa bersyukur atas apa yang kita terima, bahkan kita tidak pernah merasa puas akan apa yang kita peroleh. Namun, wajah orang-orang miskin, para yatim piatu ini, memancarkan sinar kebahagiaan. Saya tidak memiliki apa-apa yang dapat dibagikan selain hati yang lembut dan kebaikan. Pengalaman saya ini sangat memperkaya dan sesungguhnya memberi hidup bagi saya. Saya merasa bangga menjadi seorang suster SSpS dan menjadi bagian dari keluarga Bapak Arnoldus Jansen. St. Frainademetz mengatakan “Precious is the life given to the Mission” (Betapa indahnya mengorbankan hidup untuk misi).
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)