23 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Bapak Rumah Tangga, Apa yang Salah?By: Manati I. Zega | Hot News | 20 Januari 2012, 10:36:49 | Dibaca: 205 kali Bapak rumah tangga, konsep ini masih baru di negeri kita. Di luar negeri, sebagian orang menganggapnya lumrah. Namun, di Indonesia masih kontroversi. Bagaimana umat Kristen menyikapi? Apa kata firman Tuhan? Secara umum, orang memahami bahwa pria, dalam hal ini ayah, berperan mencukupkan kebutuhan keluarga. Karena itu, seorang ayah akan berada di luar rumah untuk bekerja. Segala upaya dikerahkan agar kebutuhan keluarga tercukupi. Pria yang baik akan bekerja dan berjuang kreatif untuk mendapatkan uang demi masa depan keluarga. Bekerja dan terus bekerja demi istri, anak-anak, dan keluarga. Akan tetapi, tahun-tahun terakhir ini, khususnya di Indonesia, muncul fenomena baru yang dikenal sebagai bapak rumah tangga. Kita mengenal istilah ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga adalah ibu yang tidak bekerja di luar rumah, di kantor misalnya, melainkan berada di rumah untuk mengurus keluarga. Tentu, hal ini sudah biasa kita dengar, bukan? Namun, bagaimana dengan bapak rumah tangga? Prinsipnya sama. Bapak rumah tangga adalah pria yang bertukar peran dengan istri. Bapak rumah tangga berada di rumah untuk mengurus keluarga atau melakukan pekerjaan rumah, sementara istri berada di luar rumah untuk bekerja, menafkahi keluarga. Tentang hal ini, pendapat prokontra beredar di masyarakat. Sebagian mengatakan, apa yang salah dengan bapak rumah tangga? Toh, zaman sekarang sukar. Tidak mudah bagi pria mendapatkan pekerjaan. Kalau karier istri lebih bagus, ya suami di rumah juga enggak masalah. Namun, di sisi lain tidak sedikit yang kurang bisa mengerti. Bila pria berada di rumah sebagai bapak rumah tangga, berarti pria tersebut menyalahi kodrat. Ada pula yang menyebut sebagai pria yang tak bertanggung jawab. Apalagi masalah budaya. Budaya masyarakat kita menyebutkan bahwa pria haruslah berusaha demi masa depan anak, istri, dan keluarga besar. Lantas, bagaimana ini? SABDA TUHAN Lalu, sebagai umat Tuhan bagaimana kita bersikap? Ada baiknya kita memperhatikan bagian ayat ini. “Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu,” (Kej. 3:17-19) Ayat firman Tuhan ini muncul tatkala manusia jatuh ke dalam dosa. Hawa akan mengalami kesusahan dan kesakitan waktu melahirkan. Sementara itu, Adam akan bersusah payah untuk mendapatkan rezeki karena tanah telah terkutuk. Bagian ayat ini tidak dialamatkan kepada Hawa, melainkan Adam. Berarti, Adamlah yang bertanggung jawab untuk memenuhi keperluan keluarganya. Beban mencari nafkah tidak diberikan kepada Hawa. Adam yang harus berjerih lelah mendapatkan kebutuhan keluarga. Perhatikan pula bagian lain dari Alkitab. “Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!” (Mzm. 128:2). Ayat ini ditujukan kepada pria, bukan wanita. Tidak pula disebutkan apabila engkau memakan hasil jerih payah tangan istrimu. Firman Tuhan menyebut, hasil jerih payah tanganmu (laki-laki) baru diikuti dengan kalimat berikut, “Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!” (Mzm. 128:3). Dalam tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus disebutkan demikian, “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh,” (Ef. 5:23). Lagi-lagi, ayat ini menyebutkan suami adalah kepala istri, sama seperti Kristus sebagai kepala jemaat. Secara logika, berbicara mengenai kepala, tentu tak dapat dipisahkan dengan tanggung jawab. Tanggung jawab di sini memiliki arti yang luas, termasuk di dalamnya tanggung jawab memenuhi keperluan hidup istri, anak, dan keluarga. Suami bekerja keras demi keluarga. PROBLEM TEOLOGIS DAN SOSIAL Selain itu, ada dampak sosial yang akan diterima oleh pria yang hanya mengurus rumah tangga (selanjutnya baca di Perspektif Pakar). Ini sebuah fakta yang tidak bisa dihindari. Pada umumnya, tidak sedikit orang yang memandang rendah pria yang hanya tinggal di rumah menggantikan peran istri. Kalau itu yang terjadi, pasti konsep diri pria tersebut akan menjadi kacau. Setidaknya dalam pergaulan sehari-hari ia menjadi minder. Belum lagi kalau ada pertanyaan semacam ini, “Bapak bekerja di mana?”. Bukan hanya salah tingkah, bisa jadi pria tersebut kewalahan menjawab. BILA KEADAAN TIDAK NORMAL Menjadi bapak rumah tangga karena sengaja, alasan malas misalnya, inilah yang tidak dapat ditolerir. Suami harus bertanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga. Ia berjuang untuk melakukan sesuatu agar dapur tetap berasap. Namun, ketika kondisi khusus terjadi, kecelakaan, PHK, cacat fisik, tentu masih dapat dimengerti. Itu pun dilakukan melalui kesepakatan dengan istri. Tuhan tentu sangat memahami keadaan masing-masing keluarga. Dia tahu suami yang sengaja bermalas-malasan. Tidak mau bekerja. Hanya mengandalkan penghasilan istri, bahkan memanfaatkan keahlian istri. Namun, Dia juga sangat paham suami yang telah berusaha tetapi gagal, pekerjaan belum juga diperoleh. Dalam kasus terakhir ini, kita dapat melihat hal positif, siapa tahu Tuhan sedang menuntun untuk berwiraswasta. Suatu pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah. Bisa jadi demikian. So, bagaimana kita menyikapi bapak rumah tangga? Jelas, bila suami tinggal di rumah karena malas, hal ini tidak dibenarkan. Suami seperti ini mengabaikan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. Namun, ketika terpaksa menjadi bapak rumah tangga karena kondisi yang tidak memungkinkan, di sini perlu dibicarakan berdua dengan istri. Kalau keduanya sepakat, berlakulah hukum: istri tunduk kepada suami dan suami mutlak mengasihi istrinya. Sumber: Majalah Bahana, Januari 2012 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||