By: Benni E.Matindas | Vitamin | 31 Desember 2011, 09:24:26 | Dibaca: 563 kali
Sekarang semakin sering kita bertemu dialog tajam antara agama mainstream dan para perindu agama asli dari budaya leluhur. Budayawan pendukung agama suku menuding agama-agama ex-import telah memberangus kepercayaan dan budaya asli yang sebetulnya sudah baik. Kepercayaan tua diagungkan kembali, dipermuliakan dengan status ‘ilmiah’ perenialisme, sedang agama besar dikritik sebagai bagian dari kerakusan kolonialisme yang datang menguras kekayaan alam negeri ini sambil melancarkan kejahatan kultural menghegemoni sistem kesadaran masyarakat pribumi.
Banyak teolog Kristen melakukan otokritik, meninggalkan pola pikir hitam putih yang biasa membabat habis semua kepercayaan lain yang dicap “kafir”, merangkul unsur-unsur agama suku melalui inkulturasi gereja, bahkan berupaya memaklumi segala ritus dan praktik magis dari kepercayaan tua.
Haruskah kita sekarang membuang agama kita dan kembali menganut agama leluhur lengkap dengan segala praktik magis dan kemusyrikannya?!
Agama adalah soal kebenaran. Benar, lebih benar, kurang benar, kebenaran yang belum memadai, atau memang salah. Dalam proses perjumpaan antarbudaya, yang memang alamiah dan lumrah, suatu ajaran agama akan diterima meluas jika mengandung kebenaran lebih tinggi dan menjawab kebutuhan manusia. Apa yang semula hanya dipandang sebagai agama suku, bisa dianut suku lain bahkan ras lain di benua lain, Karena kebenarannya telah memajukan peradaban sukunya atau bangsanya dan kemudian memampukan mereka menjangkau sumber-sumber penghidupan di wilayah-wilayah sejauhnya sambil menunaikan misi mulia menyebarkan kebenaran. Umumnya penggusuran serta pemusnahan agama suku berlangsung dalam proses seperti itu, yaitu proses penyebaran budaya dan agama suku yang lain.
Teori Post-Kolonialisme jelas keliru secara mendasar ketika menyalahkan budaya serta agama import yang menggusur paksa budaya lokal. Bahkan kemampuan memaksa, sesuai sistem nilai etika pada zaman itu, adalah wujud keunggulan budaya yang dicitakan semua pihak. Pelbagai ekses yang terjadi, seperti kekerasan dan pemberangusan berlebihan, adalah konsekuensi wajar dari apa yang dibilang Arnold Toynbee sebagai pengrusakan yang diakibatkan akulturasi secara “sinar laser”. Menurut Prof. Toynbee, masuknya budaya asing, bila dibendung secara salah, akan menembus dengan hanya satu bagian dari budaya itu, yang justru menghimpun seluruh kekuatan dalam satu sinar laser yang sangat kuat dan berbahaya.
Sekarang, kita semua, yang mesti diakui sudah hidup dan tumbuh dalam tradisi agama mainstream (sejumlah komunitas daerah di Nusantara sudah Muslim ataupun Kristen sejak puluhan bahkan ratusan generasi sebelumnya), perlu diberi kesadaran tentang kebutuhan mutlak kita pada akar budaya asli.
Hanya dengan itulah, kita akan dapat memiliki ekspresi ibadat yang otentik sehingga bisa mencapai keimanan optimum di hadapan Tuhan, sekaligus memiliki local-genius sehingga dapat mencapai peradaban optimum. [Local-genius adalah terminologi yang diperkenalkan oleh arkeolog Horace Geoffrey Quaritch Wales pada 1948 mengenai daya tahan budaya suatu masyarakat untuk tidak tergusur atau tertelan oleh budaya lain dan sebaliknya mampu memanfaatkan setiap proses akulturasi demi pengunggulan peradabannya sendiri.] Gereja harus dengan ikhsan melakukan inkulturasi bahkan indigenisasi (pemribumian), harus menghargai keragaman budaya dan ekspresi iman, sebab sangat mungkin itu adalah (kata Frithjof Schuon) warna-warni pelangi yang terurai dari satu sinar terang yang sama.
Harus berhikmat. Religi budaya asli bukan sepenuhnya salah. Sebagaimana hasil penelitian Andrew Lang dan Wilhelm Schmidt yang mematahkan teori sejarah evolusi agama, banyak agama suku ternyata sedari awalnya sudah berdasar wahyu monoteisme. Segala politeisme, animisme, musyrik, simpul Prof. Robert Brow, hanyalah penyimpangan yang dibuahkan dari ambisi dan kepentingan pribadi para pemimpin jemaat.
Harus berhikmat, sebab di sisi lain banyak unsur kepercayaan tua yang tidak benar. Penelitian terkenal Tylor dan Frazer mengungkapkan, banyak unsur agama asli maupun praktik magis tak lain hanyalah iptek-nya masyarakat primitif yang kecerdasannya belum tumbuh memadai. Seperti voodoo dan santet, harapan keji pelakunya yang dikabulkan Iblis.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)