By: Leni Marlin/Gro/Ret/Lea | Hot News | 31 Desember 2011, 09:18:17 | Dibaca: 266 kali
Aroma Natal sudah mulai menguar di udara Desember. Rasanya lantas rindu dengan kidung penuh sukacita, kebersamaan, dan perubahan hidup.
Natal tahun ini, lelaki itu berencana akan datang ke Bantul, Yogyakarta. Tujuannya sederhana. Pengen menikmati Natal dengan suasana yang njawani. Ia diundang oleh seorang teman dari kota Gudeg itu untuk melewatkan momen penuh sukacita. “Saya pengen Natal di Jogja yang misanya pakai gending. Rasanya kalau mendengar itu, saya jadi ingat masa kecil. Pengen mengulang lagi masa-masa itu. Rencananya saya akan berangkat tanggal 23 Desember nanti bersama istri,” kata Philipus Dayani (59), laki-laki berdarah Jawa yang kini tinggal di Jakarta, sambil tersenyum.
Rencana ini disusunnya sejak tahun lalu. Kerinduan terhadap suasana Natal yang sederhana mendorongnya berani mengambil keputusan. Merayakan Natal dengan cara demikian rasanya membuat ia lebih menghayati dan meresapi makna Natal.
Biasanya, saat Natal tiba, Philipus mengunjungi tetangga sambil mengantarkan makanan karena ia bersyukur masih bisa merayakan Natal lagi. Lalu ketika ia menjadi Ketua RT, warga datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat. “Saya bahagia sekali. Dengan cara kita berkomunikasi dan bergaul, firman Tuhan ditabur,” akunya. Menurutnya, melalui pribadi dan tingkah laku seseorang, orang lain dapat mengenal Kristus, bukan hanya lewat perkataan.
Namun, Natal juga pernah dilewatinya dengan rasa kesal. “Waktu itu perayaan Natal 2.
Saya jadi Wakil Ketua Natal Lingkungan St Antonius, Jakarta Utara. Sebetulnya antara kesal dan enggak kesal. Semua pekerjaan diambil alih oleh Ketua Lingkungan. Kayaknya saya dianggap tidak bisa melakukan pekerjaan itu. Tapi saat Bruder Petrus berkhotbah, hilang semua rasa kesal saya. Saya ditegur oleh Tuhan lewat firman. Saya sadar enggak boleh seperti itu. Sejak kejadian itu, saya diingatkan Tuhan untuk tidak menumbuhkan rasa benci pada saat Natal apa pun keadaannya,” kenang Philipus.
Sebatas Rutinitas Pengalaman buruk soal kepanitiaan juga pernah dialami Rode Betty Taebenu (30). Jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Koinonia, Kupang ini bisa disebut langganan jadi panitia Natal setiap tahun. Alkisah, tiga tahun lalu, ia didaulat menjadi seksi acara di kepanitiaan natal pemuda gereja. Waktu itu, Rode merasa begitu senang dan bersemangat bisa terlibat.
“Proses awalnya berjalan dengan lancar. Tapi, seminggu sebelum acara berlangsung, ada perselisihan antarpanitia. Ada beberapa panitia yang ingin menambahkan acara hura-hura. Usulan itu menjadi masalah karena seksi acara menolak. Takutnya, akan timbul masalah baru, misalnya perselisihan antarjemaat atau pemuda yang hadir,” kata Rode.
Hura-hura adalah istilah yang digunakan menyebut acara bebas yang isinya berupa kegiatan berdansa berpasang-pasangan sambil mendengarkan musik. Acara tersebut kadang berakhir ricuh karena berbagai alasan. Bisa jadi dipicu oleh kecemburuan anak-anak muda terhadap pasangannya yang berdansa dengan orang lain. Belum lagi jika ada oknum tertentu yang menyusup sambil membawa minuman keras.
Sebetulnya semua panitia sudah mengerti makna Natal, sebut Rode. Tetapi ada saja yang ingin memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan sesuatu yang kurang penting seperti hura-hura. Mumpung ada acara besar yang melibatkan banyak orang.
Meskipun perayaan Natal berjalan seperti biasa, tapi ketika ibadah selesai, panitia berjalan masing-masing sesuai dengan keinginan mereka. “Yang tidak setuju menyelipkan hura-hura dalam acara memilih pulang dan sebagian lain tetap tinggal. Acaranya pun tidak sampai pagi karena satu jam kemudian gedung sudah kosong. Orang-orang malah sudah pada pergi,” ujar Rode.
Kejadian itu membuat Rode kecewa. Walaupun ia berusaha memahami bahwa setiap orang punya sisi lain dalam dirinya yang ingin ditonjolkan pada kesempatan-kesempatan tertentu. Padahal awalnya panitia punya komitmen untuk merayakan Natal dengan makna yang sesungguhnya. Rode mengatasi hal tersebut dengan mencoba fokus pada tujuan awal. Namun, ia tetap merasa ada yang hilang sehingga ia tidak bisa merasakan damai di hati secara total.
Kehilangan damai sejahtera itu berlangsung cukup lama. Bahkan setelah selesai ibadah Natal, ia juga memilih langsung pulang. Ia menyesali kejadian tersebut. Tanpa damai sejahtera, ia tidak merasakan sesuatu yang berbeda pada hari Natal. Semua tinggal sebatas rutinitas saja.
Lebih Sepuluh Juta Binsar Halomoan Tobing (35) adalah seorang pedagang rempah-rempah asal Medan yang kini tinggal di Jakarta. Saat masih lajang, pulang kampung adalah tradisi yang wajib dilakukannya untuk menyambut Natal. Laki-laki yang lahir dan dibesarkan di Medan ini tidak ingin melewatkan momen untuk berkumpul bersama keluarga besar. Natal adalah waktu yang tepat.
Tahun 2001, ia menikah. Tentu keadaannya sudah berbeda. Ia tidak hanya mempersiapkan dana pulang kampung untuk dirinya sendiri. Saat mudik tahun 2002, mereka menghabiskan uang sepuluh juta rupiah. “Saya pulang bersama istri, anak yang masih bayi, dan babysitter,” cerita Binsar. Uang sebanyak itu biasanya dipakai untuk membeli tiket perjalanan dan oleh-oleh untuk keluarga di Medan.
Pada tahun-tahun ganjil berikutnya, Binsar dan keluarga pun menjalani ritual yang sama. “Kami pulang kampung bukan semata-mata karena keinginan kami, tapi keluarga yang di sana juga mengharapkan kami untuk pulang.”
Kerinduan untuk berkumpul membuat Binsar rela merogoh kocek dalam-dalam. Tahun 2009 lalu, sekitar lima belas juta rupiah dipakai untuk mudik. Ia jujur menyebut itu pemborosan. Namun, lunasnya rasa rindu sanggup menutupi semua pengurbanan itu. Apalagi profesinya sebagai pedagang yang tidak terikat waktu. Mereka sekeluarga bisa tinggal hingga tiga minggu di kampung halaman.
“Jauh-jauh hari, sebelum kami memutuskan untuk pulang kampung, kami telah mempersiapkan segalanya, termasuk uang,” tegas Binsar. Biasanya, sebelum berencana mudik, tabungan sudah cukup besar. Tidak perlu berutang ke sana kemari.
Hal yang tidak mengenakkan pasca mudik dan merayakan Natal di kampung halaman paling banter adalah kelelahan fisik, terutama anak-anak yang masih kecil. Namun, itu pun tidak sampai membuat mereka jatuh sakit.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)