23 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Hayatilah Makna Natal yang SesungguhnyaBy: Manati I. Zega / Steve | Hot News | 24 Desember 2011, 13:46:49 | Dibaca: 469 kali Perayaan Natal sering membawa dampak negatif. Gereja pecah. Panitia berselisih paham. Timbul sakit hati di antara sesama rekan. Siapa yang salah? Benarkah diakibatkan oleh Natal, atau manusia yang tak bijaksana? Bila berkata jujur, kenyataan lapangan menunjukkan bahwa perayaan Natal sering menimbulkan masalah. Perayaan Natal dapat memecah kesatuan hati panitia. Sering terdengar kabar gereja menjadi pecah. Panitia bertengkar. Karena itu, seseorang pernah mengusulkan agar istilah perayaan diganti menjadi peringatan. Pada umumnya, perayaan identik dengan pesta. Sementara peringatan, tidak sama dengan pesta atau sejenisnya. Dampak negatif perayaan Natal yang sering kita temukan menyebabkan sebagian saudara Kristen tidak merayakan Natal. Mereka menjadi alergi dengan Natal. Dengan segenap kekuatan dan argumentasi logis, Natal berusaha ditiadakan dari perayaan kristiani. Perayaan Paskah dianggap sudah cukup. Namun, mereka lupa kalau kelahiran saja diragukan, bagaimana mungkin merayakan kematian dan kebangkitan? Ini sesuatu yang tak masuk akal. URAI SECARA TEPAT Natal sesungguhnya tidak bermasalah. Yesus Kristus adalah tokoh terbesar sepanjang zaman. Dia adalah Tuhan. Pribadi yang Mahakuasa. Sebenarnya yang membuat masalah dalam Natal adalah manusia. Manusia merayakan Natal dengan cara yang kurang bijaksana. “Pesta, perpecahan, perselisihan, dan sejenisnya bukan karena Natal itu sendiri,” ujar Pdt. Fatinaso Dawolo, M.A. (40). Di sini, ketemulah akar masalahnya. Berarti, masalahnya terletak pada manusia. Kalau demikian halnya, manusialah yang perlu dibereskan. Jika masalahnya panitia, pilihlah orang-orang yang mudah bekerja sama. Pst. Dr. Djohan E. Handojo punya banyak pengalaman mengenai perayaan Natal yang diselenggarakan besarbesaran. “Kuncinya panitia dan tim harus solid,” ujarnya kepada BAHANA. “Panitia solid, saling memahami, pasti tidak ada perpecahan,” urai Director Division of Apostolic and Overseas Mission GBI Gatot Subroto, Jakarta itu. Secara konkret, kata Pdt. Fati, dapat dianalisis bagian-bagian dalam perayaan Natal yang biasa memicu masalah. Misalnya, perihal perayaan yang menghamburkan dana yang tak sedikit. Bila penyebabnya itu, Natal dapat dibuat lebih sederhana. Esensi Natal bukan perayaan melainkan kesederhanaannya. “Bisa juga gereja mengurai masalah lain. Semua itu dapat dibuat analisis,” kata Fati, Gembala Jemaat Gereja Kristus Tuhan (GKT) Jemaat 1 Malang tersebut. Ibarat ulat yang merusak tanaman, untuk menyelamatkan tanaman, ulatlah yang harus dibasmi, jangan tanamannya ditebang. Demikian pula Natal. Suatu kekeliruan besar bila orang tidak memperingati Natal hanya karena hal-hal yang tidak prinsip. Pohon natal, pesta yang tidak seharusnya, lalu orang menyalahkan Natal. Dengan sinis mengatakan ini gara-gara perayaan Natal. Jelas, cara berpikir demikian keliru. MEMORI JANGKA PENDEK Kini, ada kecenderungan merayakan Natal secara berlebihan. “Saking berlebihan, kadang-kadang kita melupakan Tuhan,” beber kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah itu. Menyelenggarakan event Natal besar-besaran perlu bijaksana. Perlu dihitung ongkos yang dikeluarkan. Jikalau terlalu besar, tidakkah lebih baik di-invest -kan untuk sesuatu yang lebih baik. Maksudnya, untuk sesuatu yang punya dampak jangka panjang. Memberi beasiswa untuk anggota jemaat yang kurang mampu, dampaknya jangka panjang. Seumur hidup orang itu terus mengingat dan mendoakan gereja yang telah menolongnya. Bandingkan memberi nasi bungkus ketika Natal menjelang. Nasi bungkus diingat sebentar. Setelah itu dilupakan. Beasiswa dan nasi bungkus sama-sama pemberian. Namun, beasiswa memiliki memori jangka panjang. Kurang tepat bila memberikan sesuatu hanya saat Natal. Tindakan sesaat itu kurang melekat dalam diri orang yang pernah ditolong. Kegiatan-kegiatan sosial ketika Natal memang tidak salah. Namun, lebih baik dilakukan terus-menerus, kata Pdt. Gilbert Lumoindong. “Jangan hanya mengerjakannya saat Natal,” ungkap gembala senior GLOW FC Jakarta tersebut. Sebagai umat kristiani, kata Irwanto, kita harus banyak berbuat. Natal menginspirasi kita. Yesus tidak hanya berbicara melainkan berbuat. Tidak sekadar mengumbar janji bak orang kampanye. Dia tidak hanya memboroskan kata-kata melainkan membuktikan katakata- Nya. “Saya mengharapkan masyarakat kristiani lebih banyak do (bekerja-red) untuk orang lain,” tegas Co-Director Pusat Perlindungan Anak di FISIP Universitas Indonesia (UI) itu. DUA SISI MATA UANG “Kasih Allah kepada dunia harus diproklamasikan,” jelas pendeta di Agape Evangelical Church California itu. Inilah misi, kehendak Allah bagi gereja-Nya. Tidak ada alasan untuk menunda mengabarkan Berita Sukacita tersebut. Dunia sekarang sangat memerlukan berita bahagia, tentang Anak Allah yang datang ke dunia. Kenyataannya tidak mudah. Berita Natal sering ditolak. Namun, bukan alasan untuk tidak membagikannya. Merayakan dan memproklamasikan peristiwa Natal, di setiap negara atau daerah dapat dilakukan dengan cara berbeda. Bercermin dari pelayanan di California, Rev. Bob melakukannya dengan mengunjungi para jompo. Selain kegiatan di gereja atau komunitas, perayaan dan proklamasi sangat dinantikan oleh mereka yang sudah tua. Mereka yang tidak bisa ke manamana karena faktor kesehatan. “Anda harus tahu, di Amerika, Natal adalah hari stres bagi orangtua,” ungkap hamba Tuhan yang telah puluhan tahun melayani di Amerika. Kesempatan ini dapat digunakan untuk perayaan dan proklamasi. MENGAPA NATAL? Selain tindakan kasih, apakah hakikat Natal sesungguhnya? Paling tidak ada tiga hakikat Natal menurut Pdt. Fatinaso Dawölö. Pertama, Natal merupakan klimaks wahyu Allah. Kita mengenal wahyu umum dan wahyu khusus. Dalam wahyu umum Allah mengenalkan diri melalui ciptaan-Nya. Saat menyaksikan gunung yang menjulang tinggi, kita memuji kebesaran Tuhan yang telah menciptakannya. Selanjutnya, dalam diri Yesus Kristus, wahyu khusus itu mencapai puncaknya. Kedua, Natal berbicara tentang Allah yang menggenapi janji-Nya. Kalimat ini mengandung pengertian bahwa Natal merupakan rencana Allah agar manusia memiliki relasi dengan-Nya. Ketiga, Natal adalah wujud penyertaan Allah. Kita mengenal istilah Imanuel. Kata itu menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari Allah hadir dan menyertai umat-Nya. Tuhan mendampingi perjalanan hidup kita hingga akhir zaman. Akan tetapi, setelah Natal diperingati, yang terjadi adalah kelesuan rohani. Saat Natal, semua gembira dan bersukaria. Namun, begitu Natal selesai, kehidupan menjadi loyo. Iman kepada Yesus pun ikut lesu. Apa sesungguhnya yang terjadi? Sebenarnya, semangat Natal dapat memengaruhi kehidupan umat sepanjang tahun. Namun, sering terjadi sebaliknya. Bercermin dari pengalaman penggembalaan, Pdt. Fatinaso Dawölö meyakini semangat Natal dimungkinkan bertahan sepanjang tahun. Wah, hebat sekali. Bagaimana caranya? “Selaraskan program Natal dengan program gereja tahun berikutnya,” urai ayah dua anak ini. Dalam hal ini, tema Natal dan gereja untuk satu tahun ke depan kiranya seirama. Peran gereja untuk membantu umat menghayati semangat Natal pastilah sangat besar. Gereja dapat memfasiltasi. Dengan demikian umat dapat menjalani kesulitan hidup dengan semangat, Tuhan itu Imanuel. Di samping itu, Rev. Bob menyebutkan harus ada pembaruan rohani. Setiap hari membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Saat teduh, doa, dan sebagainya harus dipelihara setiap saat. Artinya, ada upaya terus-menerus untuk membangun kehidupan iman. Jika hal itu tidak dilakukan, kekosongan bahkan kelesuan rohani setelah gegap gempita Natal, akan terjadi. Bukankah kondisi ini suatu ironi? “Saya menyaksikan keadaan seperti itu di Indonesia bahkan di luar negeri,” beber jebolan Fuller Theological Seminary, USA. Menarik untuk mencermati makna Natal bagi Prof. Irwanto, Ph.D. Baginya, Natal adalah sebuah kesempatan. Terutama kesempatan untuk lahir kembali. Natal merupakan kesempatan terbaik untuk mengoreksi diri. Saat Natal, kita harus punya pengharapan baru. Mengapa harus punya pengharapan? “Tuhan mengasihi dan selalu memberi kesempatan untuk berbenah diri,” ujarnya. Irwanto mencontohkan penjahat yang disalib bersama Yesus. Ketika penjahat itu bertobat, Yesus memberi kesempatan baru. Karena itulah, jelas suami Irene Indrawati Raman, kita harus memiliki optimisme dalam hidup. Tidak boleh ada pesimisme. Optimisme di sini bukan asal-asalan. Optimisme tersebut dibangun karena keyakinan yang teguh dalam Tuhan. Akhirnya, memperingati Natal tahun ini, kiranya kita kembali kepada makna Natal yang sesungguhnya. Natal bukan pesta. Natal bukan menikmati hari libur. Natal itu kasih Allah diwujudkan. Dengan demikian, mengakhiri tahun ini, kita punya semangat dan pengharapan dalam Tuhan. Selamat tinggal pesimisme. Selamat datang optimisme. Selamat Natal. Sumber: Majalah Bahana, Desember 2011 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||