23 Mei 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Arend Stevanus Michiels - Optimis Bisa Lestarikan Musi KeroncongBy: Ret | Inspirasi | 03 Desember 2011, 13:46:49 | Dibaca: 759 kali Banyak anak muda Indonesia yang melupakan musik keroncong. Padahal musik keroncong berasal dari Tanah Air kita. Untunglah di tengah kondisi tersebut masih ada yang bersedia melestarikannya, salah satunya Arend Stevanus Michiels. Awalnya Arend Stevanus Michiels atau yang biasa disapa Arend, tidak suka dengan musik keroncong. Ia menggeluti musik keroncong karena dipaksa oleh ayahnya. Sang ayah, Andre Michiels, yang juga musisi keroncong senior Krontjong Toegoe, meminta Arend melestarikan musik keroncong. “Awalnya memang paksaan. Papa bilang keroncong lahir di Tugu (Jakarta Utara-red). Apa jadinya kalau orang Tugu tidak main keroncong. Jadi, mau tidak mau saya ikut terjun main keroncong,” kenang Arend. Akhirnya walau terpaksa, Arend mulai mempelajari musik keroncong saat kelas 6 SD. Saat itu, Arend memulainya dengan belajar bermain alat musik biola. Buat Arend tidak mudah memainkan alat musik biola, apalagi musik keroncong. Namun berjalannya waktu, Arend pun bisa memainkan biola. Tidak hanya itu, ia pun akhirnya bisa jatuh hati pada keroncong. “Awalnya aku enggak langsung suka sama keroncong. Tapi, sekarang sudah keterusan, sudah mencintai,” ujar remaja yang menyukai musik keroncong sejak kelas 2 SMP. De Mardijkers Sang Ayah yang merasa prihatin dengan keberadaan musik keroncong akhirnya berinisiatif membentuk kelompok musik keroncong yang personilnya orang-orang muda. Akhirnya pada 2008 dibentuklah kelompok musik keroncong orang muda yang dinamai De Mardijkers. Kata De Mardijkers berasal dari bahasa Portugis, artinya yang dimerdekakan. “Alasan kami memakai nama De Mardijkers karena kami adalah kaum yang dimerdekakan,” jelas Arend. De Mardijkers punya visi, yakni membuat kaum muda mencintai musik keroncong. “Dengan begitu musik keroncong enggak dilupakan,” ujar pemuda kelahiran Jakarta, 6 September 1996. Arend pun menjadi personil pertama De Mardijkers. Tidak berapa lama Arend masuk, muncullah para personil lainnya. Sayang, di tengah jalan personil De Mardijkers kerap bergonta-ganti. Untuk saat ini, personil De Mardijkers berjumlah 10 orang. Personil yang paling dewasa berumur 19 tahun, sementara yang paling muda berumur 11 tahun. Arend optimis mampu mewujudkan visi De Mardijkers. Kendati pernah diejek oleh temannya karena musik keroncong, ia tetap berani berkomitmen melestarikan musik keroncong. “Kami generasi muda yang meneruskan keroncong. Kalau bisa saya harus bisa, sebab kalau bukan saya siapa lagi,” tegas Arend trenyuh. Bersama teman-teman dan dibantu para musisi Krontjong Toegoe, Arend berusaha mengemas musik keroncong bergaya anak muda. “Kami masuk dengan gaya yang baru, dengan gaya tampilan anak muda. Tujuannya supaya orang muda juga suka musik keroncong. “ Usaha mereka pun membuahkan hasil. Musik mereka akhirnya dilirik oleh pasar musik Indonesia. Bersama dengan De Mardijkers, Arend sudah tampil berkali-kali di panggung bergengsi. Antara lain, tampil di INBOX SCTV, Pesta Kesenian Anak di Gedung Kesenian Jakarta, dan Festival Kampung Tugu. “Di Festival Kampung Tugu kami bermain di depan empat duta besar Brazil, Portugal, Mozambik, dan Timor Leste. Pengalaman itu berkesan banget.” Arend berharap apa yang dilakukannya itu bisa menginspirasi anak muda lainnya untuk melestarikan musik keroncong. Sumber: Majalah Bahana, Desember 2011 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||