22 Mei 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Buah KesehatianBy: yoh | Kesaksian | 30 Agustus 2011, 00:31:04 | Dibaca: 847 kali Kami mengerti betapa pentingnya arti kesehatian bagi suami istri, lebih tepatnya antara anggota keluarga. Kesehatian membuat keluarga dapat melalui masa-masa sukar dengan saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling menghibur. Berkat Tuhan pun tercurah di sana. Tahun 1999 adalah masa-masa yang sukar bagi keluarga kami. Suamiku menganggur karena perusahaan kontraktor tempatnya bekerja bangkrut. Kami tinggal perumahan dengan satu anak berusia 3 tahun, sedang kuatkuatnya minum susu. Aku bekerja di salah satu gereja kecil dengan gaji yang tidak bisa menutup kebutuhan sehari-hari. Suamiku sebenarnya sudah melamar pekerjaan ke mana-mana, tetapi belum ada yang menanggapi. Sambil terus mencari pekerjaan, ia juga malu menjual buku tulis ke kampungkampung. Sebagai istri yang setiap hari harus menyiapkan makanan dan memberi susu anak, kondisi ini nyaris membuatku putus asa. Cicilan rumah, rekening listrik, dan biaya PAM sudah menunggak beberapa bulan. Ekonomi kami benar-benar terpuruk. Setiap kali aku berdoa sambil menangis karena merasakan beban yang berat. Kami kasihan juga melihat susu anak kami yang berganti-ganti dari berbagai merk. Namun, puji Tuhan anak kami tidak ada masalah dengan hal itu. Terus Berdoa dan Berusaha Sementara itu, setiap malam kami berdoa bersama, bersama anak kami tersebut, untuk bersehati memohon kekuatan dan pertolongan Tuhan. Suamiku pun berdoa setiap jam lima pagi di gereja. Kami belajar mencari Tuhan dan mengejar-Nya karena hanya Dialah yang sanggup melepaskan kami dari kesesakan hidup. Nah, di saat suamiku rajin berdoa, ia malah kehilangan sepedanya di gereja. Padahal, sepeda itu menjadi satusatunya alat transportasi yang bisa kami pakai. Usaha mencari sepeda itu juga tidak membuahkan hasil. Setelah itu, suamiku sempat merasa down dan sedikit berputus asa. Ia sempat mengurung diri di rumah dan menghindari segala jenis kegiatan di kampung. Namun, kami tetap percaya bahwa kasih karunia Tuhan nyata atas keluarga kami. Pertolongan- Nya dapat datang dari siapa pun. Kami berusaha untuk tetap sehati dan tidak saling menyalahkan atau bersungutsungut. Kami juga saling menguatkan dan meyakini bahwa masa-masa sukar tersebut pasti dapat kami lalui bersama. Kami yakin badai ini pasti berlalu. Apa yang kami tabur akhirnya kami tuai. Tahun 2000, suamiku mendapat tawaran pekerjaan di salah satu perusahaan farmasi di Solo melalui tetangga kami, Ibu Ningrum. Suamiku mendapat bagian mencampur bahan obat-obatan yang akan diaduk dalam mesin lalu dikemas. Masalah muncul ketika ruangan kerja suamiku termasuk ruangan berisiko tinggi dibanding ruangan-ruangan lain. Ruang kerjanya diisolasi supaya bahan-bahan obat yang dicampur tersebut steril. Nampaknya, bahan obat-obatan itulah penyebab munculnya alergi pada kulit suamiku. Setiap pulang dari bekerja suamiku mengalami gatal-gatal di sekujur tubuh serta bentol-bentol. Setiap melihat hal itu, hatiku pun ikut sedih. Kami lalu berdoa agar Tuhan memberi posisi yang tidak terlalu berisiko. Tuhan mendengar doa kami. Suamiku dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Bukan hanya itu, pelan tetapi pasti posisinya terus naik hingga dipercaya menjadi kepala bagian umum. Suatu posisi yang cukup nyaman. Kami sangat bersyukur untuk semua itu. Seiring berjalannya waktu, suamiku dipercaya pekerjaan-pekerjaan lebih besar. Otomatis taraf hidup kami mulai meningkat. Kami pun berencana untuk menjual rumah kami dan ingin membeli rumah yang tak perlu mencicil tiap bulannya. Puji Tuhan, Ibu Ningrum mau membeli rumah kami sehingga uang hasil penjualan dapat kami pakai untuk membeli rumah lagi di kampung. Sungguh indah ketika kami menuai apa yang pernah kami tabur. Kami menabur perkataan iman, menabur janji-janji Firman Tuhan, kesehatian, kesepakatan, sukacita, dan percaya. Kami jadikan lahan hidup kami yaitu persoalan-persoalan sebagai lahan yang subur untuk benih-benih itu semua. Maka ketika menuai, buahnya pun sangat lebat dan mendatangkan kebahagiaan. Kami percaya, semua itu merupakan berkat yang Tuhan curahkan karena kami belajar percaya, sehati, dan sepakat dalam satu permohonan. Kesehatian ibarat kepingan-kepingan wadah yang disatukan sehingga dapat menampung berkat-berkat Tuhan. Aku bersyukur untuk semua yang kualami dalam kehidupan ini. Haleluya! Sumber: Renungan Malam, Agustus 2011 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||