By: Niken Maria Simarmata | Inspirasi | 27 Agustus 2011, 08:35:54 | Dibaca: 789 kali
Waktu kecil, sepotong kayu masuk ke mulutnya. Pernah hanyut di sungai. Mengalami bleeding karena demam berdarah. Umur 14 tahun lolos dari kecelakaan maut. Umur 19 tahun divonis mati atas penyakit langka yang menyerangnya. Maut seolah serupa sepasang mata yang siap merenggut hidupnya.
Bagi Obbie, hidup adalah mukjizat.“Saya akan selalu menceritakan kebaikan Tuhan, Jehova Rapha, Dia telah menyembuhkan saya,” tutur Obbie yang ditemui BAHANA setelah menjadi pembicara di GKNS-Bekasi, Jawa Barat.
Obbie dilahirkan di lingkungan keluarga hamba Tuhan. Pengginjil Djasolo Panggabean adalah ayah dari mamanya. Rumah mereka dipakai untuk kebaktian. “Orangtua saya adalah orang yang sungguh mencintai Tuhan. Doa, puasa, baca Alkitab, ibadah. Itulah kegiatan di rumah kami. Namun, saya sering malas ikut ibadah karena memakan waktu lama banget. Doa penyembahannya lama sekali bisa satu setengah jam, nah saya sering ngilang, pergi terus masuk lagi. Soalnya mama dan papa ultimatum, kalau tidak ikut ibadah saya tidak dapat uang jajan,” tutur anak ketiga dari empat bersaudara, pasangan Haposan ML Tobing dan Esther Panggabean ini.
KECELAKAAN MAUT Obbie kerap diajak pelayanan oleh Esther yang seorang pengkhotbah. Ia tak menolak karena rasa sayangnya terhadap ibunya. Padahal, tidak menikmati pelayanan itu. Ia lebih senang berkumpul dengan teman-teman sebaya, main kebut-kebutan dengan motor. “Seperti hari itu dengan empat teman naik dua motor dari Medan ke Brastagi. Target hanya 20 menit. Kecepatan sangat tinggi mungkin 120. Kami tancap gas, tanpa pijak rem. Pokoknya ugal-ugalan. Motor seperti terbang. Posisi saya membonceng teman saya bernama Sholat di motor pertama. Di depan kami mobil yang dikemudi anak muda yang tak mau kasih jalan. Di depan mobil ada angkot. Sedangkan di jalur berlawanan, ada truk. Saya ngeri dan berteriak, “Tuhan Yesus tolong!” dan beberapa detik kemudian, “Brakkkk!!!” suara yang sangat kencang. Kami tak berhenti. Takut dikeroyok orang.” Tak lama kemudian Obbie mendengar kabar dua temannya itu tewas seketika di tempat kecelakaan.
Setelah beberapa lama, Obbie dan Sholat baru berani balik ke Medan. Tubuh Obbie lemas, wajahnya pucat. Nenek yang melihat kondisi Obbie bertanya, “Kamu kenapa?”. Obbie menceritakan yang telah terjadi. “Ompung boru (nenek, Batak_red) berkata pada saya, ‘Bertobat kau…’ Tuhan bicara juga lewat peristiwa ini.” Kecelakaan maut itu membuat Obbie takut.
Obbie diajak ibunya pelayanan di Kaliurang, Yogyakarta. Saat tidur, Obbie merasa kamar bergoyang. Ia pikir gempa. “Ibu saya bilang, ‘bukan gempa, kamu mimpi kali ….’ Hati saya tiba-tiba dipenuhi perasaan yang ingin dekat Tuhan. Tak terasa saya menangis hampir selama dua jam. Ada kedamaian yang luar biasa,” kisah mahasiwa tingkat akhir UNKRIS jurusan Hukum, kelahiran Medan 9 Mei 1985.
PENYAKIT ANEH Sehari setelah ‘gempa’, siang ketika para hamba Tuhan sedang berkumpul tiba-tiba ada orang gila datang. Anehnya hanya memelototi dan mengejar Obbie. Ia Yakin, bahwa hal itu bukanlah kebetulan. Maka tanpa ragu Obbie mengusir setan di dalam orang tersebut. “Saya takjub pada kuasa nama Yesus,” kata Obbie.
Sejak peristiwa mengusir roh jahat itu, Obbie memiliki kecintaan berdoa, membaca Alkitab. Bersama orangtua dan ketiga saudaranya melayani Tuhan. Ibunya adalah gembala sidang dari Gereja Pekabaran Injil, jl. Denai-Medan dan pembicara di berbagai gereja.
Umur 19 tahun Obbie kena satu penyakit aneh. Berawal dari leher yang terasa gatal. Dahaknya berdarah. Air liur berdarah. Tentu saja Obbie kaget. Untuk menenangkan pikiran ia ke Danau Toba selama hampir dua minggu. Darah dari mulut Obbie tak berhenti. “Kegelisahan saya waktu itu adalah, kenapa ini terjadi saat saya sungguh-sungguh dengan Tuhan? Ketika saya buang ludah sembarangan, tiba-tiba teman saya melihat ada darah. Di situ saya malu dan takut. Nah ketika uang habis mau enggak mau pulang.”
Setelah ibadah, ibunya bertanya, apakah Obbie telah melakukan dosa. Apakah Obbie telah berzinah? Mencuri? Merampok? “Saya jawab, Tidak. ‘Semua itu tidak saya lakukan, Mam’. Saya perlihatkan telapak tangan saya yang penuh darah. ‘Lihat ini, Mam…saya kecewa. Kenapa saya jadi begini?’ Mama malah balik bertanya, ‘memang apa yang telah kau lakukan untuk Tuhan? Kenapa kamu kecewa?’ Saya menangis. Saya bilang ampuni saya Tuhan.”
Esther meminta Obbie untuk doa puasa. Keadaan Obbie malah memburuk. Obbie beberapa kali menolak saat diajak pelayanan oleh ibunya. Alasannya, untuk apa pelayanan? Mendoakan orang sakit sembuh, ia sendiri sakit. “Mama saya menegur saya, ‘kamu prajuritnya Tuhan, seorang prajurit tidak memusingkan diri sendiri, sekalipun kamu sakit.’”
Obbie kembali ikut Esther yang berkhotbah dalam satu ibadah. Esther membuka altar call, tiba-tiba Tuhan memperlihatkan seorang berpenyakit tumor, Obbie mendoakan dan sembuh. Ia berkata dalam doanya “Tuhan, kalau orang lain Tuhan tolong, saya juga. Sembuhkan saya.” Setelah pulang pelayanan dari luar kota itu Obbie pingsan. Ia di bawa ke RS. Pringadi, hari itu awal tahun yaitu 1 Januari 2005. Obbie bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani beberapa pemeriksaan. Ada lima diagnosa, paru flek, TBC, virus, paru bolong, satu lagi, Obbie lupa. “Saya dikasih obat TBC padahal tidak merokok. Dari RS. Pringadi pindah ke RS Methodis dan dirawat satu bulan. Di sana, mereka ambil cairan dari paru. Saya sempat koma. Tubuh saya kalau pagi dingin, siang berkeringat dan malam menggigil. Saya dipindahkan lagi ke RS Adam Malik 3 bulan dalam kondisi tidak bisa berjalan. Virus sudah menyebar ke beberapa bagaian tubuh. Prof Suroso, dokter yang sangat terkenal di Medan ikut menangani saya. Paru saya katanya bagus, cuma karena ada virus harus dibolongin untuk pengobatan. Letaknya di bawah ketiak sebelah kanan. Satu bulan selang dipasang di situ.”
MUKJIZAT VONIS MATI Dokter mengatakan pada ibu dan tantenya bahwa umur Obbie tinggal menghitung hari. “Tinggal kasih makan enak saja, Bu,” kata seorang dokter. Mata Obbie sudah tenggelam, masuk. Cairan gizi keluar. Berat badan turun drastis. Para hamba Tuhan yang berdoa untuknya memberi sinyal, “segera pulang ke rumah Bapa”.
Obbie diingatkan tentang pengharapan yang terdapat pada Yoel 2:32 berserulah dalam nama Tuhan. Ia mulai menggemakan firman yang mulai terpatri di hatinya. Selama sakit delapan bulan itu Obbie tidak pernah mengizinkan orangtuanya tidak ibadah. Ia percaya ibadah itu mengandung janji. Obbie bernazar kalau sembuh, ia akan bersaksi, “Bukannya sembuh, saya masuk ruang isolasi. Tapi saya berkata pada diri sendiri, ‘jadilah engkau sehat..Mesacht kau akan sembuh.’ Jam dua malam saya terbangun melihat sosok Tuhan Yesus yang berkata, “Ratapanmu sampai ke sorga.”
Namun kondisi makin buruk. “Saya sudah menyiapkan 5 lagu untuk ibadah pemakaman saya. Saya minta mama memakaikan baju putih dan celana hitam. Saya sudah menyerah total.“. Namun, keajaiban terjadi. Tiga hari setelah ‘pulang’ itu, tekanan darah, detak jantung, dan paru-paru Obbie lebih baik. Virus negatif! Seminggu kemudian Obbie minta keluar rumah sakit. “Secara medis itu aneh. Saya menjalani terapi, sebulan saya bisa jalan. Mukjizat terjadi,” jelas Obbie yang juga melayani di Gereja Pimpinan Roh Kudus.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)