By: Benni E.Matindas | Vitamin | 11 Agustus 2011, 15:31:28 | Dibaca: 849 kali
Seorang ibu yang saleh nan takwa merasa terluka hatinya oleh perilaku putri kesayangannya. Anak yang sudah susah payah disekolahkan setingginya, sampai ke luar negeri, dan sekarang sudah meraih kedudukan dengan income besar, justru tak lagi jadi kebanggaan orangtua. Anak gadisnya kini bisa dengan mantap, tenang, dan terang-terangan, melakukan apa yang sejak dulu dinilai dosa. Agama yang boleh dibilang sebagai benteng terakhir upaya manusia, sebab di area ini manusia sudah menyerahkan harapannya pada kuasa di luar dirinya sendiri, yang justru diyakininya sebagai kuasa yang sangat ampuh, malah dijauhkan si anak. Anak ini menertawakan setiap aktivitas iman dan ibadat ibunya, semua itu dihitungnya sebagai sia-sia. Dan perbedaan yang berseberangan kutub dalam pelbagai hal moral atau etika ini, oleh si anak dinyatakan tegas namun dengan nada ringan saja sebab sudah jadi keyakinan yang bersifat nature dalam pribadinya: “Apa yang penting buat Mama kan belum tentu penting buat aku…!”
Semuanya sudah terjungkir balik! Dan gejala seperti itu sebetulnya kita temui sehari-hari, di mana-mana, tak kecuali dalam sikap dan tindak-tanduk kita sendiri.
Yang terjadi adalah sikap relativisme-etika dan bahkan anti-etika sudah menjadi kerangka dasar pandangan mengenai etika. Sudah menjadi semacam meta-etika. Jelasnya begini: manusia selamanya hidup dengan etika, tapi lantas pelbagai falsafah sesat dan nilai budaya ngawur menggiringnya pada sikap yang memandang etika sebagai hal yang relatif belaka, atau bahkan anggapan bahwa etika itu sebetulnya tak ada (cuma pernak-pernik adat yang diwariskan dari zaman nenek moyang kita masih rendah taraf kecerdasannya sehingga gampang dibelenggu tradisi maupun agama), namun walau sejauh itu manusia tetap hidup melekat dengan etika, sehingga anti-etika itulah yang lantas ia fungsikan sebagai pengarah pada etika yang dipilihnya.
Apa penyebabnya? Jangan salah, jangan buru-buru menuding filsafat relativisme maupun nihilisme-nilai.
Penyebab utamanya tak lain adalah agama sendiri yang gagal mengajarkan etika yang sebenarnya. Agama, terlebih agama-agama samawi, begitu kemaruk untuk buru-buru meraih kemahakuasaan-Nya melalui iman, sehingga amat kurang dalam upaya mengembangkan etika secara sistematis dan benar. Etika yang diajarkan lebih sering cuma mengenai etiket ritual, selebihnya hanyalah pasal-pasal etika yang dicomot secara harfiah dari ayat-ayat kitab suci yang difungsikan buat menyogok Tuhan setelah kita hancur akibat pelanggaran etika-Nya yang sebenarnya.
Etika-Nya yang sebenarnya adalah totalitas hukum-hukum semesta ciptaan-Nya yang di dalamnya setiap kita manusia menjadi bagian integral. Di situlah kita manusia meraih damai sejahtera, sehat, bugar, cerdas, produktif, makmur, dan sejahtera yang terus-menerus berkembang. Itulah eksistensi kita. Sehingga setiap pelanggaran etika tak lain adalah pengingkaran atas eksistensi kita sendiri berikut segala akibatnya. Walau sampai di situ kita harus mensyukuri anugerah pengampunan Tuhan atas perilaku ingkar kita tersebut, dan sah bagi kita untuk mengharap mukjizat Tuhan bagi pemulihan kita.
Etika itu harus ada, dan memang ada. Dan ia tidak mutlak relatif. Bukan saja karena memutlakkan kenisbian (mengabsolutkan hal yang relatif) itu secara filosofis saja sudah salah pada dirinya sendiri, melainkan karena memang etika berbasis fisika yang pasti. Bahwa sifat api panas dan bisa membakar seluruh tubuh seorang ibu yang saleh itu adalah pasti, dan putrinya yang sudah menganut segala paham modern yang berimplikasi anti-etika serta relativisme-etika tak mungkin bisa mengatakan bahwa api tak akan bisa membakar dirinya walau sehelai rambut pun!
Bahkan seorang Nietzsche, filsuf anti-etika yang selalu bernafsu meniadakan Tuhan, tak mungkin menghindar dari kuasa etika. Nietzsche menuliskan kata-katanya yang terkenal “Tak ada etika, yang ada hanyalah tafsir etis atas fenomena!” Maksudnya, etika sebetulnya tak ada, hanya diciptakan oleh orang zaman dulu dan kita terus memeliharanya sehingga setiap pengetahuan kita mengenai segala sesuatu dipengaruhi oleh nilai-nilai etika yang tidak kita buang itu.
Katanya tak ada fenomena moral, yang ada hanya tafsir moral atas fenomena. Tapi fenomena-fenomena apakah semua itu sehingga kok selalu cocok diberi tafsir moral atau etika?! Tak lain adalah semua fenomena di dalam semesta ini! Semua semesta ini berlangsung di dalam dan oleh etika-Nya. Meta-etika haruslah fisika semesta yang diarahkan Firman-Nya.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)