By: Oktaviani/ Grollus/ Afriadi | Hot News | 09 Agustus 2011, 15:35:54 | Dibaca: 935 kali
Saat mulai komitmen berhenti dari ikatan seks bebas, keinginan untuk berhubungan seks itu hilang. Tak sebesit pun untuk memikirkannya. Tapi sempat juga terlena dengan godaan-godaan.
Awalnya Gideon Michael Alexander (31) mengenal seks waktu ia masih kecil dengan menonton video porno. Kemudian ketika duduk di bangku SMP ia sudah mulai mengenal dunia pelacuran. Gideon mulai akrab dengan para PSK (Pekerja Seks Komersial). Itu tak lain karena ia jarang bergaul dengan teman-teman sebaya. Di lingkungan tempatnya tinggal di Balikpapan, ia terpaksa bergaul dengan teman-temannya yang lebih tua. “Apalagi mereka belum di dalam Tuhan. Saya di ajarkan tentang banyak hal yang kurang bagus,” tutur bujangan kelahiran Balikpapan, 15 April 1980 ini.
Seiring perkembangan usia, ia mulai punya seorang pacar. Awalnya pacaran sehat-sehat saja. Lalu sering menonton video porno, lambat laun ingin melakukannya bersama sang pacar. Deru nafsu pun tak terbendung. Ia mulai melakukannya dengan sang pacar. Seks semakin terasa mengikatnya. Kenikmatan seks membuatnya ketagihan. Nafsu itu semakin deras saja dan tak terbendung. Mulailah secara diam-diam ia pergi ke lokalisasi, mencari PSK untuk diajaknya berhubungan intim. SEMAKIN GANAS Hidup Gideon waktu itu seperti dipenuhi oleh seks. Matanya, pikirannya dipenuhi oleh adegan-adegan hubungan seks. Maka tak mengherankan jika ia sangat nafsu melihat perempuan cantik. Dalam otaknya langsung tergambar imajinasi liarnya tentang wanita itu. “Aduh, aku jadi menginginkannya. Ingin menikmatinya. Keinginan itu semakin besar. Dalam keterikatan itu dalam benak saya hanya satu, wanita itu sudah aku anggap sebagai pemuas,” jelas Gideon di kantor tempatnya pelayanan full time di Family Blessing Ministry. “Ada kepuasan tersendiri. Melakukan sama pacar dan sama orang lain itu sangat berbeda rasanya, sehingga semuanya tidak biasa saja.”
Tak ada perasaan bersalah dalam benak Gideon. “Karena kalau sama pasangan sendiri kan sama-sama mau. Sehingga setelah itu kan biasa saja, yang penting puas. Selain pasangan juga tidak ada rasa bersalah. Malah enjoy.” BERANI MELAWAN Yulius Tukiran (57) adalah guru di SD Negri 04 Sore, Kebayoran Lama, Jakarta. Sebelumnya, Tukiran pernah menjadi guru di Jawa Barat selama sekitar 10 tahun. “Sepuluh tahun itulah saya sering terlibat bentrok atau melawan pada atasan saya, kepala sekolah atau siapa pun yang berwenang di atas saya,” tutur bapak tiga anak dan satu orang cucu ini. “Karena itu pula, saya sering dipindahtugaskan dari sekolah satu ke sekolah lainnya, sampai saya ditempatkan di sekolah yang ada di pelosok Jawa Barat.”
Suatu ketika pertanggungjawaban pengelolaan uang sekolah kepada tingkatan atas tempatnya dulu mengajar tidak sesuai dengan nominal uang yang sudah di tentukan. Itu karena sudah ada potongan dari sana-sini sebelum sampai ke sekolah. Korupsi itu sudah berjalan dari tingkatan atas dan itu berlaku di hampir semua departemen. “Biasanya itu terjadi setiap kali ada pembangunan gedung sekolah yang akan di rehabilitasi. Untuk mendapatkan tender pembangunan sekolah, pemborongnya harus juga menyerahkan uang supaya datang tender itu. Dan pastinya kontraktor itu juga harus punya orang dalam. Biasanya yang terlibat itu kepala sekolah. Guru, tidak memiliki wewenang. Itu karena pengelolaan uang itu dilakukan di tingkatan luar sekolah,” jelasnya. Tak ayal, bentrok pun terjadi. Akibatnya ia pun secara tak langsung menerima sanksi dengan dipindahkannya ia di pelosok Jawa Barat. Hingga akhirnya ia keluar jadi guru.
Karena sudah berkeluarga Pak Tukiran kembali melamar jadi guru di Jakarta. Kondisi Pak Tukiran waktu itu bisa dibilang sangat memprihatinkan. “Sebagai keluarga baru dan sudah punya anak satu, saya disarankan oleh seorang teman untuk memilih menjadi guru agama saja. Saya juga mendapat jaminan dari bimas guru agama Katolik. Dari jatah 15 orang, saya di janjikan satu tempat.”
“Menjadi guru agama Katolik, sebenarnya saat itu saya pilih dengan rasa terpaksa. Saya terbeban untuk mengajarkan ilmu yang lebih luas pada murid-murid,” lanjut Tukiran. “Ketika saya mulai mengajar, saya pun jadi tidak bisa terlibat terlalu jauh dalam hal kebijakan sekolah yang saya rasa kurang benar. Sebagai guru agama pun, saya makin merasa bahwa saya punya tanggung jawab yang lebih besar lagi untuk menerobos hal-hal yang tidak benar semacam itu. Tapi saya mesti melihat, apa saya punya kapasitas untuk melakukan hal itu,” tuturnya kepada BAHANA.
BERDIAM Seiring perkembangan waktu, dan usia, Pak Tukiran sekarang hanya diam jika tidak cocok dengan kebijakan kepala sekolah. Apalagi yang menyangkut dengan ketidakberesan dalam pengelolaan keuangan. Menurutnya, kalau pun melawan kebijakan yang tidak benar itu, Tukiran toh tidak mendapatkan apa-apa. “Saya merasa bahagia ketika saya bisa mengajarkan anak-anak ilmu dan kebaikan. Saya orang yang memiliki idealisme. Saya tidak tersinggung jika dibilang sebagai guru galak. Tapi saya paling tidak suka disebut guru mata duitan karena tidak demikian. Lebih baik murid mengumpat saya dengan sebutan guru galak, daripada guru mata duitan.”
Tukiran memang tak pernah takut diancam karena dia merasa benar. “Dulu, selain sore mengajar di sekolah negeri, paginya saya mengajar di sekolah swasta, sekolah untuk anak-anak TNI Angkatan Darat. Anak-anak itu menilai saya sebagai guru killer. Sampai saya pernah didatangi oleh orangtua murid. Dan saya di todongkan pistol. Tapi saya ga takut, karena saya enggak salah. Toh, setelah mereka dewasa, banyak anak murid saya yang menyapa saya dengan hormat.”
Pak Tukiran untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai pengajar dengan profesional dan penuh pengabdian. Dengan begitu Tukiran terbebas dari jeratan penghambaan terhadap uang. Jika tidak, mungkin juga akan berdampak bagi murid-muridnya. Seperti yang dialami Samson (30) bersama teman-temannya satu angkatan kala masih duduk di bangku SMA. Pria yang kini membuka bengkel Vespa di rumahnya, Mojosongo, Solo ini mengaku waktu pelajaran Kimia, siswa diwajibkan membeli modul dari Pak Guru sebesar sekitar Rp 7.500,-. Padahal modul itu hanya terdiri dari 50-an lembar kertas buram. Kalau dihitung-hitung waktu itu harga satu lembar fotokopi buram tidak sampai Rp. 50,-. “Mungkin itu juga karena untuk kepentingan koperasi sekolah, atau memang guru tersebut membuat modul untuk meningkatkan prestasi menulisnya,” sanggah Veri, salah seorang mantan guru yang juga sudah tidak mengajar di sekolah tersebut.
Peristiwa yang paling ironis waktu itu adalah ketika pengumuman kelulusan. “Kami satu kelas merasa gembira dan meluapkannya dengan mencorat-coret meja dan kursi kami dengan tipex. Kamu menuliskan kata-kata tentang kenangan akan kelas, sekolah, dan khususnya bangku yang kami pakai selama setahun. Tapi Pak Kepala Sekolah berang. Akibatnya kami satu kelas diwajibkan membayar ganti rugi sebesar kalau tidak salah seratus atau duaratus ribu rupiah per kelasnya. Tapi waktu itu kami tidak punya cukup uang sehingga hasil iuran kami baru sekitar seperempatnya. Akhirnya salah seorang teman kelas yang terkenal sebagai wanita panggilan menutupi kekurangan tersebut. Uang kami bayarkan. Tapi selang beberapa bulan setelah kami lulus, saya tengok kelas. Ternyata tidak ada perubahan apa-apa. Corat-coret itu masih ada di bangku-bangku, meja, dan jendela kelas. Coretan kami,” pungkas jomblo berambut gondrong yang tak mau difoto ini.
TITIK JENUH Sejak awal menjadi guru, Pak Tukiran berupaya membebaskan diri dari permainan kotor keuangan di lembaga pendidikan. Meskipun berbagai kendala akan dihadapi. Bedanya, jika dulu Pak Tukiran berani menegur, dan melawan secara frontal. Tapi tidak untuk saat ini. Saat hanyut dalam seks bebas, Gideon mencoba banyak hal hingga akhirnya ia mencapai titik jenuh. “Saya berpikir bahwa saya harus berubah. Jiwa tidak bisa hanya dipuaskan dengan hal itu. Ada rasa capek. Semua itu yang mebuat saya memutuskan untuk berubah. Saya percaya bahwa pertobatan itu sudah waktunya Tuhan dan sudah rencananya Tuhan,” katanya. Gideon pun bertobat, dan berusaha meninggalkan kehidupan lamanya nan kelam.
Meskipun bertobat, bukan berarti Gideon bebas begitu saja dari jeratan itu. Waktu awal memutuskan berhenti seks bebas, keinginan untuk menikmati seks itu langsung hilang. Musnah. Tak ada sebesit pun dalam pikirannya untuk melakukannya. Namun, roda waktu terus berputar. Suatu ketika Gideon terjatuh lagi dalam pelukan dosa. Dia seks bebas lagi. “Tapi saya selalu berdoa minta ampun dan mencoba lagi untuk kembali ke tekad untuk bertobat. Tidak lagi jatuh. Tapi saya tidak mau munafik, saya datang ke Tuhan, berdoa, minta ampun dan bangkit lagi. Iblis pasti enggak suka untuk kita bertobat. Saya diintimidasi dengan masa lalu saya. Tapi saya tahu bagaimana menjaga komitmen dan bagaimana kembali lagi ke Tuhan dan menjaga hubungan dengan Tuhan. Dan Puji Tuhan sampai sampai saat ini sudah tidak jatuh lagi,” katanya.
Dalam proses pertobatan itu, Gideon sempat dibimbing oleh gereja hingga akhirnya memutuskan untuk melayani di persekutuan pemuda.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)