By: Benni E.Matindas | Vitamin | 27 Juli 2011, 15:34:20 | Dibaca: 922 kali
Kini orang semakin yakin bahwa etika itu relatif belaka. Yang baik bagi si A, belum tentu bagi B. Nilai kebaikan bagi kelompok X, bisa kejahatan menurut komunitas Y. Anggota DPR yang kedapatan korupsi dinilai melanggar Kode Etik dewan, tetapi ia sendiri harus bingung sebab merasa sedang menunaikan kebajikan demi kejayaan partainya.
Kondisi seperti itu berkembang oleh kesempatan, bahkan dorongan, yang diberi teori-teori relativisme etika. Sudah lama. Tapi di kalangan penjaga moral serta penegak hukum pandangan begitu baru marak sejak terbit pemikiran-pemikiran seperti Gilbert Harman dan David Wong. Harman ‘menyadarkan’ dunia bahwa ternyata etika cuma hasil kesepakatan kelompok tertentu saja, bukan atas dasar nilai universal, dan memang tidak ada etika universal sebagaimana selama ini diajarkan umumnya agama maupun filsuf-moral klasik seperti Aristoteles, Immanuel Kant, dan sebagainya. Wong kian membawa pada ketegasan bahwa nilai etis tak mungkin diperbandingkan antar-kelompok maupun antar-individu.
Di dunia filsafat, semua itu jauh dari baru. Bahkan ketika jauh sebelum Harman dan Wong muncul karya-karya Paul Feyerabend — nabi filsafat relativisme yang paling radikal — sudah tak mengguncang samasekali. Logika-logika Hume yang dari 4 abad lalu sudah terlalu cukup mengukuhkan relativisme, belum lagi ditambah sederet panjang filsuf relativisme kemudian. Di bidang etika, empu-empu seperti Machiavelli dan Nietzsche sudah sampai pada penjungkirbalikan moral. Begitu juga di kalangan studi etika Kristen, kehebohan sudah memuncak pada Joseph Fletcher puluhan tahun lalu.
Tapi sungguh nisbikah etika? Sebelum menjawab, saya perlu menunjuk sebab kenapa teori-teori relativismeetika tersebut sampai mengguncang kaum beragama. Umat beragama sampai harus bingung. Khusus di kalangan Kristen, itu tak lain disebabkan ajaran yang selama ini dikhotbahkan pendeta dan dikuliahkan teolog sesungguhnya tidak sejati konsep Yesus. Salah satu akibatnya: kita menganut kekristenan yang sakit! Indikasinya antara lain: ketergantungan (atau sekadar: kepentingan) kita pada agama hanya demi meraih “mukjizat” yang pula hanya dimaknai secara sempit (yakni pengalaman pengidap kanker stadium 4 yang sembuh atau pengusaha bangkrut dikejar hutang bisa kembali bangkit berjaya, sedang kenyataan kita bisa hidup sehat kendati di tengah alam yang polutan dan sarat virus ganas itu tak kita lihat sebagai mukjizat apalagi karena itu banyak dinikmati juga oleh orang yang bukan Kristen).
Masyarakat Kristen di negara-negara Barat yang maju dan cerdas kini berbondong ikut New Age, aneka aliran filsafat kebatinan Timur, tak kecuali beberapa aliran kejawen, tak lain karena itu memang merupakan kerinduan alamiah makhluk ciptaanNya. Untuk memenuhi kebutuhan pada ajaran etika yang secara logis dihitung dapat meng-konstruksi hidup dan penghidupan yang lebih unggul, sehat, berbahagia. Etika agama sering cuma berupa daftar panjang syarat ritual maupun aturan organisasi yang disusun menurut selera politis dan estetis para pendiri aliran baru atau sekte baru. Maka, ketika umat disadarkan bahwa etika yang dikeramatkan itu ternyata tanpa dasar obyektif, bingunglah…!
Kita beretika karena untuk mencapai tujuan utama di akhirat kita harus menjalani suatu jarak ruang dan waktu di semesta ini, dan rambu-rambu serta peta jalan itulah Firman-Nya. Firman itu pula yang mengarahkan jalan idealnya semesta itu sendiri. Sehingga hanya dengan Firman-Nya setiap kita dapat menjalani hidup yang benar, baik, dan indah secara jasmani maupun rohani.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)