By: Ret | Artis dan Tokoh | 07 Juni 2011, 15:11:41 | Dibaca: 3036 kali
Aksinya kerap memergoki masyarakat yang melanggar aturan. Di saat seperti itu, biasanya orang tidak bisa berkutik dibuatnya. Itulah tingkahnya saat memandu tayangan John Pantau di stasiun televisi Trans TV.
Menjadi presenter acara TV sebetulnya bukanlah cita-cita John Martin Tumbel. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan John Pantau ini awalnya ingin menjadi news anchor atau pembaca berita. Pasalnya ia ingin sekali bisa beraksi seperti Arief Suditomo dan Putra Nababan.
Untuk bisa meraih mimpinya, akhirnya pada 2006 John melamar menjadi reporter Trans TV. “Tujuan utama saya masuk Trans TV untuk menjadi news anchor. Tetapi ternyata untuk jadi news anchor, khususnya program Reportase, harus bisa ke lapangan,” jelas John.
Alhasil John pun melakoni profesi sebagai reporter. Setahun kemudian, ternyata mimpi John belum juga terwujud. Padahal satu per satu teman seangkatannya sudah berhasil menduduki kursi news presenter. Kondisi tersebut membuat John putus asa. Namun rasa itu berusaha ditepisnya. Ia terus mencoba berpikir positif, mungkin memang belum waktunya untuk menjadi pembaca berita. Apalagi beberapa temannya ada yang belum didaulat menjadi presenter berita. “Saya enggak diberi alasan kenapa enggak naik-naik menjadi news anchor. Padahal waktu itu kayaknya lancar-lancar semua. Saya juga enggak bikin kesalahan,” cerita John.
Akhirnya pada 2008, John kembali di-casting untuk menjadi news presenter. “Dari 10 orang tinggal tiga. Kami pun dicasting. Wah, senangnya minta ampun. I think this is my time.” Setelah di-casting, ternyata hanya John yang ditolak. Kali ini John betul-betul stress, kecewa, dan bertekad untuk mengundurkan diri. “Saya sangat stress dan kecewa. Kalau saya kurang, kenapa saya tidak pernah dievaluasi, tidak pernah diberi masukan,” kenang pria yang pernah menjajal kompetisi Indonesian Idol ini.
Ternyata pada saat John ingin mengundurkan diri, banyak kursi news presenter yang kosong. “Banyak teman-teman pindah ke TV baru. Akhirnya saya bertahan dulu. Siapa tahu, mungkin ini waktunya saya jadi presenter berita.” Apa yang dipikirkan John rupanya meleset. Trans TV mengambil langkah membuka rekrutmen news presenter. John kembali terpukul dengan keadaan itu.
Di tengah kondisi pelik tersebut, John mendapat tawaran dari stasiun televisi baru. Namun, sama seperti di Trans TV, untuk bisa menjadi pembaca berita diharuskan menjabat sebagai reporter terlebih dulu. “Puji Tuhan saat saya down, saya dikuatkan setiap kali saya ibadah di gereja. Saya juga selalu dibangkitkan oleh teman-teman Komunitas Sel (Komsel). Saya diajarkan prinsip-prinsip excellent, doing my best.” John berpikir, mungkin tidak semua pintu terbuka dari Tuhan, pintu tertutup juga dari Tuhan. “Tuhan enggak cuman bisa buka pintu tetapi juga bisa menutup pintu.”
Alhasil John berhasil menyingkirkan rasa kecewanya. John berusaha melakukan firman Tuhan untuk doing excellent. Ia pun bekerja lebih giat lagi. “Kata Tuhan kalau kamu diminta satu baju, maka berikanlah dua baju. Akhirnya saya lakukan yang Tuhan mau. Saya pun enggak lagi hitung-hitungan jam kerja. Teman-teman pulang jam 7 malam, saya jam 12 malam. Setiap liputan biasanya bawa dua berita, saya bawa tiga berita,” tukas cowok yang sejak SD menghabiskan waktu dengan kegiatan gereja.
Lagi-lagi apa yang diperbuat John tidak berhasil membuat dirinya duduk sebagai news presenter. Buruknya lagi, ia dipindah ke Program Magazine, tidak lagi di Program Reportase. “Keputusan itu merupakan tamparan keras buat saya.”
Meski kecewa tetapi John tidak mau tenggelam dalam kekecewaan. Ia berjuang untuk tidak komplain kepada Tuhan. Ia berusaha untuk mengikuti kehendak Tuhan dan selalu bersyukur. “Saya coba berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Memang gampang diucapkan tetapi kalau di hati susah,” ungkap pria yang tidak suka dan tidak pernah menyentuh alkohol, rokok, dan narkoba ini.
Setiap kali doa, sebetulnya John ingin komplain pada Tuhan. Sebab, selama ini ia selalu menuruti kemauan Tuhan. “Saya merasa masa depan saya abu-abu. Tetapi saya tahan hati saya untuk tidak komplain. Enggak mungkin rencana Tuhan berhenti sampai di sini. Saya latih diri untuk bersyukur dan menjaga perkataan. Kalau ingat hal ini, saya mau nangis karena berat banget dijalani,” imbuhnya, terenyuh.
PANTAU Suatu hari, tiba-tiba John dipercaya mengerjakan sebuah segmen kritik sosial dalam program acara Jelang Sore. “Waktu itu saya berpikir: kenapa saya ya? Kalau susah dilimpahkan kepada saya. Saya merasa kali ini jalan saya menjadi news anchor betul-betul tertutup.”
Setelah menggarap empat episode segmen kritik sosial yang dinamai Pantau tersebut, ternyata segmen ini disukai banyak pemirsa. John pun semakin semangat, walaupun dimusuhi orang karena Pantau dinilai terlalu berani mengkritik. “Di episode kelima, saya bilang: kalau Tuhan taruh saya di sini, saya akan taruh hati saya di sini. Mimpi saya jadi presenter berita pun sudah terkubur. Tuhan, terserah saya mau jadi apa tapi saya mau taruh hati saya di sini. Saya lakukan apa pun untuk segmen ini.”
Akhirnya, karena acara Jelang Sore sudah tidak lagi tayang, segmen Pantau menjadi sebuah program acara yang dinamai John Pantau, yang tayang perdana pada 26 April 2008. “Di John Pantau itulah nama saya ditulis sebagai reporter sekaligus presenter. Janji Tuhan memang betul. Saya terima buahnya. Puji Tuhan, rating John Pantau oke.”
ANCAMAN VIA SMS Walau cita-cita John menjadi news anchor pupus, namun ia berhasil menjadi seorang presenter. John akhirnya menyadari, ternyata Tuhan membentuk dirinya bukan untuk menjadi news anchor melainkan menjadi seorang presenter. “Ternyata Tuhan siapkan saya untuk ini.”
Pria yang dikenal dengan julukan “Polisi Norma” ini betul-betul bersyukur bisa menikmati profesinya. Walau gara-gara menjadi presenter John Pantau ia kerap mendapat ancaman keras, seperti ditusuk bahkan dibunuh, John tetap enjoy. Memang tidak dipungkiri, awalnya John merasa takut dan khawatir dengan ancaman yang dilayangkan lewat SMS itu. “Tetapi saya pikir kalau Tuhan tempatkan saya di sini, Tuhan yang akan jamin keselematan saya. Puji Tuhan, sampai sekarang saya tidak pernah cacat, dipukul orang, secara fisik saya tidak pernah disentuh,” ujar mantan karyawan Trans TV ini.
John berharap nantinya ia bisa memiliki sebuah acara yang bisa menginspirasi masyarakat. “Saya akan memasukan prinsip-prinsip Tuhan di acara itu.” Semoga saja impian kamu terwujud ya John. Sukses selalu!
Terpuji nama Tuhan, jika dalam setiap aspek kehidupan, kita hadirkan Tuhan Yesus sebagai andalan satu-satunya dalam mengarungi hidup ini.
By: JABENDEUS BANJARNAHOR | 06 Juli 2011 | 20:57:51
MANTAP...kualitas rohani seperti inilah yang dibutuhkan artis Indonesia. Kebanyakn artis Indonesia hanya karena mengejar popularitas rela meninggalkan Tuhannya. Pada hal di ujung karirnya sebenarnya amblas dan tak berarti apa-apa. Saya yakin Tuhan tetap melirik Integritas yang dimiliki seperti Jhon Pantau ini. Karena Karisma boleh membawa kita ke puncak namun hanya Karakter seperti Kristuslah yang membuat kita bertahan di puncak...Maju Terus..Pertahankan Imanmu...jadilah garam dan terang..JLU
By: ESTER MELY YEMIMA | 12 September 2011 | 09:09:31
waw.. kerenn semangat buat jhon pantau, semoga tuhan selalu berkati kmu yaa :")
By: Harnopelin | 05 November 2011 | 06:08:54
Shalom,,bagaimana saya dapat memperoleh, alamat surat atau nomor hp John...siapa tau dia dapat menjadi pembicara tamu di dalam KKR untuk anak muda di Palangka Raya,tks GBU
By: Henny | 09 November 2011 | 14:22:16
amien, ko. Biar apa yg ko2 kerjakan untuk Tuhan Yesus biar itu yg jadi kehendakNya.
By: Monica N. Sihaloho | 24 Januari 2012 | 16:59:04
Kisah bang john sangat menginspirasi saya. Semoga dia selalu diberkati oleh Tuhan. God is good! :D
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)