By: Debora Ratna Palupi | Kesaksian | 12 Mei 2011, 13:02:57 | Dibaca: 1932 kali
Kalau diserahkan, kami akan kehilangan anak kami untuk selama– lamanya. Gula darahnya sangat tinggi. Bisa menyebabkan kebutaan, kelumpuhan, bahkan kematian.
Awal tahun 1996, gula darah anak kedua kami, Andika Nuchrista menunjukkan angka 321 mdl dan urine positif (+3). Saat kami periksakan ke rumahsakit, Dokter menyatakan, Andika terkena DM. tipe I / IDDM (Insulin Dependent Deabetis Militus).
Dokter menyarankan, setiap sebelum makan, Andika terlebih dulu disuntik insulin dan harus ada anggota keluarga yang bisa menyuntik. Di sakunya harus tersedia permen. Jika ia lemas, harus makan permen atau minum teh manis.
Saya sempat bertanya kepada Tuhan, apa dosa kami? Padahal kami sudah belajar hidup benar, bahkan suami saya sudah mau melayani Tuhan. Mengapa justru ini yang kami dapatkan? Namun, tak lama kemudian, rekaman lama kebaikan Tuhan kepada saya seperti diputar kembali. Saya memohon ampun kepada Tuhan. Saya baru merasakan ketenangan jiwa dan pikiran saya.
Kami mulai menata pola makan, dan pola pikir Andika. Puji Tuhan Andika anak yang penurut dan punya semangat tinggi. Kondisi itu berlangsung selama 4 tahun. Namun, menjelang pelaksanaan ujian kelas VI, Andika merasakan tidak enak badan, sakit perut, muntah, dan agak sesak nafas. Dari pemeriksaan di rumah sakit, gula darah Andika tercatat 407/ mdl. Dia gelisah, sesak nafas, tangannya kejang kaku–kaku, dan selalu mau melepas selang oksigen.
MERENDA IMAN Pujian Pelangi Kasih, Tuhan Sedang Merenda, dan Dia Jamah, saya lantunkan. Saya memohon belas kasih Tuhan seraya melemaskan tangan Andika yang kejang dan membetulkan selang oksigen. Tak lama kemudian, Andika tergolek tidak berdaya, perawat segera memanggil dokter. Dokter datang dan segera memerintahkan rekam jantung (ECG). Dokter memeriksa mata Andika dengan senter. Dokter menyarankan, Andika dibawa ke ICU.
Saya terus menunggui di ICU. Setiap 2 jam darah Andika diambil untuk dicek gula darahnya, lalu diberi suntikan insulin.
Begitu seterusnya selama dua hari. Pagi berikutnya, gula darahnya justru turun menjadi 55 mdl, lalu diberi infus cairan gula hingga naik menjadi 300 mdl.
Andika nampak gelisah, sebetulnya disuruh puasa karena besok pagi akan dicek gula darahnya, tapi nampaknya gula darahnya mulai naik karena dia bilang haus terus. Saya tuntun untuk mengucap syukur. “Tuhan Yesus kasihani aku, tolong aku.”
“Abot kok Ma. (berat Ma),” keluhnya. Tubuhnya bergerak ke kiri sebentar, ke kanan sebentar. Saya ajak berdoa lagi. “Tuhan Yesus, tolong aku, kasihani aku.”
“Tuhan Yesus Juru Selamat-ku Haleluya Amin,” tiga kali Andika mengucapkan itu. “Hop, hop, hop”.
ANDIKA KOMA Pagi itu Andika kritis. Gula darah mencapai 1283 mdl, tekanan darahnya hanya 50/ 30, nafasnya pelan sekali, suhu tubuhnya hanya 35CO, ujung kaki sampai lutut dingin, kotorannya banyak dan seperti ketan hitam, denyut nadi tidak teratur, seluruh badan bengkak, ureum dan creatium tinggi. Beberapa bagian tubuhnya melepuh (decubitus) akibat tingginya kadar gula.“Ibu, sakit adik sangat parah,” kata Kepala ICU saat memanggil kami.
Saya, suami dan kakak perempuan melakukan doa pasrah, jika Andika mau dipanggil Tuhan kami siap dan ikhlas. “Namun jika atas kehendak-Mu, kami ingin diberi kesempatan untuk mengasihi, diberi kesabaran dan dapat menerima keadaannya.”
Kami kembali ke ruang ICU untuk berpamitan kepada Andika. “Dik, mama minta maaf, hanya bisa mangasihi kamu sampai di sini karena kamu sakit parah,” bisik saya kepadanya.
“Dik, bapak minta maaf, tidak bisa memenuhi keinginanmu. Sebelum sakit kamu minta tas, sepatu, sepeda, tapi saat ini kamu sakit parah, Dik?” Mendengar itu, mulut Andika seperti berdengung, “ng …ng.”
UNGKAPAN BELASUNGKAWA Saat termenung di ruang tunggu rumahsakit, saya seolah melihat Andika tersenyum. “Mama aku pergi sebentar ya,” katanya. Saya tersentak dan berfikir, kalau ia pergi sebentar pasti akan kembali lagi, tetapi kenyataannya anak saya tergolek tak berdaya.
Sore harinya kami didatangi seorang hamba Tuhan. “Ibu mau menyerahkan Andika atau minta sembuh?” tanyanya. Saya berfikir, kalau diserahkan, kami akan kehilangan Andika untuk selama– lamanya. Tapi kalau minta sembuh, tinggi kadar gula darahnya bisa menyebabkan kebutaan, kelumpuhan, bahkan kematian. Akhirnya kami sepakat minta sembuh. Kami berempat masuk ke ruang ICU dan hamba Tuhan itu berdoa, “Segala kuasa kematian dan segala kuasa sakit penyakit, dalam nama Tuhan Yesus keluar dari tubuh ini! Satu persatu selang yang menempel di tubuh anak ini, Tuhan lepaskan.”
Hati saya mulai tenang karena sudah menyerahkan kesehatan Andika ke dalam tangan Tuhan. Rasa takut dan khawatir berubah menjadi pengharapan. “Dik Tuhan senantiasa menyertaimu, Lazarus yang sudah meninggal selama 4 hari saja dibangkitkan, apalagi kamu belum meninggal pasti kamu akan diselamatkan,” bisik saya kepada Andika.
Pagi itu saat perawat memberi suntikan lewat selang infus, tangan Andika mulai digerakkan dan diangkat. “Lho, adik bangun?” tanya perawat itu.
“Anakku hidup, terima kasih Tuhan. Engkau begitu mengasihi kami.” “Aduh badanku sakit semua,” keluh Andika dan matanya mulai terbuka. “Ibu hari ini Andika sudah tidak memakai dopamin (pemacu jantung untuk menaikkan tekanan darah),” kata salah seorang perawat.
Andika mulai bisa bicara tapi belum sadar penuh. Andika bisa mengangkat tangannya, bisa mencabut sendiri selang oksigen dan selang makan, sehingga bisa makan.
Tapi proses kesembuhannya masih 2 minggu lagi karena gula darahnya masih 500 mdl. Andika dipindahkan ke ruang perawatan. Suatu hari saat diambil darahnya, hemoglobinnya rendah, hanya 6.0. Akibatnya Andika harus tranfusi darah sebanyak 4 kolef.
Kondisi Andika mulai membaik. Omongannya mulai jelas dan nyambung. Tangannya mulai dapat menggenggam, dapat makan sus kering sendiri. Badannya semakin kuat. Bisa belajar duduk. Dapat merasakan pusing dan ingin buang air .
TERBALIK Kami diijinkan pulang ke rumah “Ini jalan apa to Pak, kok seperti pohon yang bergerak–gerak?” tanya Andika saat perjalanan menuju rumah. “Ini rumah siapa? Kok sejuk?” tanya Andika saat masuk rumah. “Ini rumahmu, Dik,” jawab saya.
Saat diputarkan kaset Westlife, Andika langsung bisa menyanyi lagu, “I Have a dream”. Ia ingat semua kata dalam lirik lagu itu. Tetapi kalau menyebut sesuatu masih suka terbalik–balik. Kalau mau naik andong, ia bilang naik ondang. Mau ngomong minum Caprison, dia bilang Coprasin, mau ngomong acara gebyar BCA, ia bilang gebyar ABC.
Suatu ketika saya tanya, “Dik, di rumah ini ada siapa saja?” ”Bapak, Mbak Dina, aku dan satunya mbak siapa ya? Aku lupa namanya,” jawabnya. Jadi kalau dia minta kepada saya maka dia akan panggil “mbak”. Saya berkata “Ya ampun, Dik, satu bulan saya tunggui di rumahsakit, tetapi sekarang kamu tidak ingat siapa ibumu.” Setelah beberapa hari di rumah, dia ingat saya dan mau memanggil “mama”.
Waktu terus berjalan. Meskipun mukjizat demi mukjizat sudah dialami Andika, bukan berarti sudah tidak ada masalah. Justru seiring dengan perkembangan iman Andika, masalah–masalah tak segan-segan datang menghampiri. Infeksi mata menyebabkan penglihatannya tidak jelas. Infeksi kantung mata seperti bisul cukup mengganggu aktivitasnya.
Semua itu tidak mengurangi kadar iman Andika. Justru makin hari makin ia mengandalkan Tuhan Yesus dalam segala hal. Seperti diceritakan Ibu Ratna Istihawati kepada Debora Ratna Palupi
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)