• PELUANG EMAS UNTUK MENJADI AGEN MAJALAH BAHANA
  • SEKALIGUS PEWARTA KABAR BAIK!
  • ANDA BERMINAT? SILAHKAN HUBUNGI: KANTOR MAJALAH BAHANA:
  • JL. BEO 38-40, YOGYAKARTA 55281
  • TELP. (0274)561881 EXT 113/208

Menyadari Kesalahan

By: sly | Renungan | 22 Mar 2011, 16:26:22 | Dibaca: 1765 kali

Bacaan: Lukas 15:11-24
Seperti pada penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya, FIFA memutuskan untuk membuat bola khusus untuk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Bola bernama Jabulani tersebut dibuat oleh produsen olahraga Adidas, dikembangkan di Universitas Loughborough di Inggris, dan diresmikan di Cape Town, Afrika Selatan pada tanggal 4 Desember 2009. Namun beberapa pemain yang pernah mencoba Jabulani mengatakan bahwa bola tersebut bermasalah. Sayangnya kritikan tersebut tidak dihiraukan FIFA. Alhasil, Jabulani pun menjadi sasaran kritik para pemain, pengamat, dan penonton karena dinilai terlalu liar saat dimainkan. Meski terlambat, karena kejuaraan telah usai, akhirnya FIFA menyadari kesalahannya dan menyatakan permohonan maafnya terkait banyaknya kelemahan yang dimiliki Jabulani. FIFA pun berjanji untuk memperbaiki kualitas bola pada kejuaraan-kejuaraan berikutnya.

Seseorang pernah berkata pada saya bahwa betapa indahnya dunia ini jika setiap orang menyadari setiap tindakannya, sehingga dengan demikian terhindar dari kesalahan. Pemikiran seperti itu memang baik, tetapi yang terjadi tidak selalu seperti itu. Dalam salah satu perumpamaan-Nya, Tuhan Yesus mengisahkan tentang seorang anak yang meminta warisan dari ayahnya. Setelah diberi, ia kemudian pergi ke kota yang jauh dan menghabiskan segala kepunyaannya untuk bersenang-senang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya adalah salah. Kesadaran itu akhirnya datang setelah ia jatuh miskin dan terpaksa makan ampas makanan babi untuk menyambung hidupnya. Mungkin kita akan berkata bahwa kesadaran yang diperoleh si bungsu saat itu tidak berguna, karena semuanya telah terjadi. Namun kita harus ingat tentang sebuah nasihat yang mengatakan bahwa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mengapa demikian? Karena dengan adanya kesadaran, maka orang yang bersalah memiliki kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki dirinya.

Hal yang sama juga berlaku bagi kita. Berbahagialah jika saat ini kita disadarkan tentang kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu.

Sumber: Renungan Malam, Maret 2011

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer




Berita IT

© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2015
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13