22 Mei 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Musim Baru di Hulu JembayanBy: Toni | Misi Gereja | 05 Desember 2010, 00:29:50 | Dibaca: 941 kali Anak Mahakam mengalir ke timur menusuk belantara dan desa-desa di pedalaman Kutai, Kalimantan Timur. Sebuah taman kakak-kanak di tepiannya menerangi keremangan hulu dan mengantarkan generasinya menuju masa depan. “Yang ditanam di awal, tak lekang oleh waktu..,”. Rosani tiba di desa ini pada tahun 2002. Anak-anak tidak sekolah bisa dijumpai dengan mudah. Ia lalu mengajari mereka. Kemudian pelayanan berkembang menjadi TK yang diberi nama TK Bakti Terpadu. Rosani tidak sendiri, ia ditemani Hana, lalu Paulina. Nama “Bakti” dipilihnya karena ia menganggap pelayanan ini adalah baktinya kepada tanah Dayak. Rosani adalah perempuan Dayak Kenyak yang lahir dan besar di desa Lekaq Kidau, di tepi Mahakam, 100 KM dari situ. Orang Dayak Basaf mendiami hulu Sungai Jembayan, anak Sungai Mahakam, yang mengalir ke timur membelah hutan belantara dan desa-desa di pedalaman Kutai, Kalimantan Timur. Jumlah mereka kini hanya tinggal 60 keluarga. Banyak yang telah bermigrasi karena pola ladang berpindah yang dianut. Perubahan di Hulu Jembayan Kini mereka hidup berdampingan dengan para pendatang dari Jawa, Kutai, dan Banjar. Keterbukaan Orang Basaf pada pendatang dalam interaksinya kemudian menghasilkan asimilasi budaya dan kebiasaan. Kebanyakan lewat perkawinan campur maupun pergaulan. Herannya, justru kebudayaan mereka seakan tergerus dan menjadi samar. Hampir semua Dayak Basaf yang tinggal di Hulu Jembayan tidak lagi menggunakan bahasa asli mereka selain Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu. Selain menyandarkan hidup pada sungai dan hutan, mereka juga bertani. Biasanya di saat awal musim tanam, kaum laki-laki akan meninggalkan keluarga mereka selama berminggu-minggu untuk mengurus ladang. Waktu berlalu, musim berganti, dan TK Bakti menjadi saksi akan perubahan di hulu Jembayan. Beberapa waktu kemudian, Rosani meninggalkan mereka. Pembentukan karakter anak-anak melalui TK dilanjutkan oleh Paulina, pelayanan terus berjalan dan para guru datang silih berganti, Lestari, Naomi Ratusira, Noni. Kegigihan dan ketekunan perempuan-perempuan belia ini membawa banyak terobosan. Mereka mampu menjadi jembatan lintas budaya, bahkan melabrak dinding kebiasaan yang memarjinalkan, seperti: pendidikan anak laki-laki lebih utama daripada anak perempuan, gadis remaja lebih baik dinikahkan daripada lanjut sekolah toh tempatnya di dapur, anak bertumbuh seturut kehendak orang tua dan minat serta bakat mereka tidak perlu dihargai karena potensi mereka akan berhenti ketika menikah dan mengurus ladang, dan banyak hal lain yang membunuh masa depan. Kini semua itu pupus dari Hulu Jembayan. Orang tua sudah merubah haluan pandangan mereka tentang anak, pendidikan, dan masa depan. Delapan Tahun Kemudian Sungguh mengagumkan bisa bertemu dengan anak-anak. Tahun 2004 Paulina tidak lagi menjadi guru TK, ia telah mengajar di sebuah SMP negeri di sana. Ia akhirnya bisa kembali bertemu dengan mantan anak-anak TK-nya di kelas. Angkatan pertama TK Bakti kini telah duduk di kelas 1 - 2 SMP. “Mereka memang tidak terlalu hebat di beberapa bidang pelajaran, tetapi sikap, karakter, dan kecerdasan emosional mereka sangat baik. Hingga kini TK Bakti telah meluluskan delapan angkatan dan berhasil menghantarkan sedikitnya 320 anak ke jenjang pendidikan berikutnya. Malah sejak Agustus 2008 TK ini telah menambahkan program layanannya dengan Program Pembinaan dan Beasiswa Future Center. Mereka adalah anak-anak penuh antusias akan pengetahuan baru. Berani, komunikatif, cerdas, dan penuh kasih; adalah empat hal signifikan yang bisa ditangkap dari sikap mereka. Beberapa anak usia SD bahkan hampir setiap hari mengujungi rumah dinas ibu guru TK, untuk sekedar bercakap-cakap, mendengar cerita, atau memberikan bantuan kecil kepada ibu guru. Membangun generasi adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan banyak tenaga dan pemikiran. Kehadiran TK Bakti Terpadu bagaikan angin barat yang membawa perubahan musim. Sumber: Majalah Bahana, Desember 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||