22 Mei 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ibu Guru Agustina Salle - Hatiku Selalu di Momi Waren..By: toni | Misi Gereja | 26 Oktober 2010, 08:56:40 | Dibaca: 1100 kali Hampir mati dipanah, beberapa kali kena malaria, ditinggal teman seperjuangan, bahkan melayani tanpa dana operasional tidak membuatnya mundur. Tina Salle: “Kami terpaksa keluar karena tidak boleh memakai tempat itu lagi, jadi anak-anak saya kumpulkan dan kami belajar di bawah pohon.” Melalui akun facebook-nya dara kelahiran Toraja 24 tahun yang lalu ini, sesekali mencurahkan pergumulannya sebagai guru di pedalaman Manokwari, karena Sekembalinya dari kota untuk kuliah, ia kaget bukan kepalang melihat sekolahnya telah beralihfungsi menjadi tempat tinggal para pengerja projek Status di atas ditulis ketika ia baru kembali dari Manokwari ke Momi Waren, sebuah distrik sejauh 100 KM di pesisir Kepala Burung Papua. Tina sedang mengikuti program kuliah Universitas Terbuka (UT) jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, melanjutkan diplomanya ke S-1. Sebulan sekali ia harus ke kota untuk mengakses internet melalui warnet agar bisa berinteraksi dengan ‘kampus’nya. SINGLE FIGHTERS Yayasan PESAT (Pelayanan Desa Terpadu) mengirimnya ke sini sejak Januari 2003, Di Momi Waren TK dan PAUD-nya tersebar di lima dusun dan hanya dilayani oleh tiga orang ibu guru. Kini Tina bersama Arnie dan Tarmi, dua rekan guru lainnya yang masih bertahan, harus berbagi tugas melayani anak-anak. Ia kebagian mengajar di dua dusun; TK Narwastu di pagi hari lalu setelah istirahat makan siang, ia segera menuju PAUD Lecmera Misen mengajar dari petang hingga matahari tenggelam. Jarak antar kedua tempat itu sekitar 8 KM, melewati hutan dan sabana yang sepi tak berpenghuni. Suatu tantangan tersendiri bagi gadis sepertinya. Pernah sekali mau dipanah orang, mengalami ban kempis dan frustrasinya mendorong sepeda motor berkilo-kilo meter, diterjang hujan besar dan angin kencang sepulang mengajar, menghadapi pohon tumbang menutup jalan, sampai beberapa kali kena Malaria dan hampir mati. Tidak ada dokter, seorang suster kampung coba menolong, tapi sayang suntikannya overdosis dan tubuh saya menjadi biru. “Kalau bukan karena Tuhan pasti saya tidak bertahan.” Sembuh dari malaria kini ia bermasalah dengan lambungnya dan ada benjolan di leher. “Aku belum bisa periksa dokter, karena belum ada biaya,” ujarnya kalem. ANTUSIAS DAN MATI MUDA Distrik Momi Waren dihuni oleh orang-orang Suku Sough, masyarakat asli Mandacan yang datang dari daerah-daerah di Pegunungan Arfak. Sebenarnya, masyarakatnya sangat antusias pada pendidikan ketika Tina dan teman-teman datang untuk mengajar mereka. Makanya, pembangunan TK Narwastu di dusun ini dilakukan secara gotong-royong. Selama pelayanannya banyak anak didiknya yang bisa terus melanjutkan sekolah, dan kini banyak yang telah duduk di SMP. Hal ini tidak mudah karena berbenturan dengan kebiasaan mereka yang kadang pindah tempat tinggal, lalu tidak sekolah, bahkan menikah di usia 10 tahun. “Aku sangat berharap TK juga bisa menekan jumlah perkawinan usia dini dan tingginya angka mati muda,” ungkapnya. Tidak hanya anak-anak, orang-orang tua pun begitu antusias ikut belajar baca-tulis dalam program keaksaraan fungsional (pemberantasan buta huruf). Namun, beberapa waktu kemudian sekitar 20 orang sudah bisa membaca dan menulis. “Setidaknya itu adalah modal awal mereka bisa baca Alkitab,” ujar Tina. MAKAN DAUN SINGKONG Sudah berbulan-bulan belakangan ini ia belum menerima honor dan biaya operasional dari yayasan. Meski berjalan terseok-seok ia tetap gigih berjuang melayani anak-anak. Kesulitannya semakin terasa disaat biaya keperluan kuliahnya tak bisa ditunda. “Untuk beli buku, untuk ongkos ke kota mengirim tugas, sungguh terasa berat buatku, untungnya Mamaku membantu sedikit-sedikit menyisihkan hasil kebunnya dan mengirimi aku.” Tapi untuk makan sehari-hari Tina memanfaatkan daun singkong yang ia tanam di samping rumah, jarang makan nasi, lebih banyak pisang. Keterasingan tempat yang minim fasilitas serta dukungan, bahkan penuh resiko ini tak lantas menyurutkan tekadnya. “Saya bingung juga, kalau pergi ke tempat lain seperti tidak betah, segera ingin kembali ke sini. Hatiku selalu untuk Momi Waren.” Katanya mengakhiri. Tina mempunyai harapan supaya Orang Soug di Momi Waren dapat keluar dari tempurung kebodohan. Sumber: Majalah Bahana, Oktober 2010 [Kembali] By: Ronny | 03 September 2011 | 20:12:28 SALUT BUAT KOMITMENNYA....!!!!!!!!!!!! Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||