22 Mei 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Paulina Anaeli, Berjuang Membela Sang Pemilik Periode EmasBy: toni | Misi Gereja | 25 September 2010, 09:51:57 | Dibaca: 1277 kali Paulina, adalah guru TK Pemakatan Terpadu yang berdiri di desa Sekabuk, Kec. Sadaniang, Kalimantan Barat. TK ini berdiri sejak 2005 dan sesuai namanya “Pemakatan” yang dalam bahasa Dayak berarti hasil kesepakatan bersama. Paulina mulai mengajar di situ sejak 2006. Desa Sekabuk, menurut Paulina, dihuni oleh masyarakat Dayak yang sebagian besar adalah petani karet dengan penghasilan yang lumayan bagus. Hanya saja kesadaran pendidikan di sini, terutama pendidikan usia dini masih sangat rendah. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, di antaranya adalah kurangnya pengetahuan orangtua dan masyarakat akan arti penting pendidikan (usia dini). Selain dari orangtua, kendala datang dari instansi terkait; SD (jenjang pendidikan di atasnya). Di satu sisi, orangtua berpikir untuk apa masuk TK, merepotkan, lebih baik usia 5 tahun langsung masuk SD saja. Sementara di sisi lain, kepala SD di sini mau menerima murid di bawah 6 tahun, jelas Paulina. “Hal ini sungguh bukanlah kerjasama yang baik antar penyelenggara pendidikan, malah cenderung melanggar aturan, “ tambahnya. Padahal, sesuai surat edaran dari Dinas Pendidikan, usia minimal masuk SD adalah 6 tahun. Bila kurang dari 6 tahun, dianggap belum saatnya masa sekolah. Menurut Peraturan Pendidikan Nasional (Diknas), usia 4-6 tahun adalah masa mendapatkan pendidikan di TK atau PAUD. Menurut pakar pendidikian anak, Jika di pendidikan dasar awal, anak tak sesuai dengan konsep pendidikan usia dini, maka berbagai kendala sudah siap menghadang. Terutama mental yang akhirnya akan berdampak pada proses belajarnya. Salah satunya anak akan bingung dan merasa tidak siap menerima materi pelajaran. “Bayangkan anak usia 5 tahun langsung masuk SD, sedangkan memegang pensil saja mereka belum bisa, lalu mereka dididik dengan gaya pendidikan formal, matematika, dan sebaginya,” ujarnya. Akibatnya, bukan mustahil anak lantas mogok sekolah. Kalaupun dijalaninya, besar kemungkinan penuh keterpaksaan, sehingga materi pelajaran yang disampaikan guru tak dapat diserapnya dengan baik. Dampak buruk berikutnya, potensi kecerdasan anak tidak berkembang secara optimal. Dampak yang mungkin juga muncul nantinya adalah adanya kejenuhan bagi si anak untuk melanjutkan sekolah di jenjang-jenjang berikutnya di kemudian hari, karena mereka tidak memiliki dasar yang benar. “Saya lihat, anak-anak yang lulus SD kemudian masuk SMP, mereka hanya bertahan 3 bulan sampai 1 tahun ajaran saja, sesudah itu berhenti sekolah, lalu bekerja, atau menikah di usia 13-14 tahun,” tegas Paulina. Terang saja, pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar, yang merupakan suatu upaya pembinaan bagi anak agar memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa. Itulah mengapa hingga saat ini Paulina yang didaulat sebagai kader dusun di desa Sekabuk, masih penuh semangat mengampanyekan pendidikan anak usia dini. Mengapa pendidikan anak usia dini itu penting? “Ya, karena masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan,” katanya menutup percakapan. Sejak Februari 2010, Paulina dan rekan-rekan guru lainnya telah menambah intensitas layanan mereka. Sebuah program pembinaan dan beasiswa bertajuk “The Future Center” telah diluncurkan Sekabuk, dengan harapan agar anak-anak bisa terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang paling tinggi, sehingga potensinya berkembang maksimal dan meraih cita-citanya. Sumber: Majalah Bahana, September 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||