08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
"Bisakah Yesus Bersalah?" adalah Pertanyaan SalahBy: Benni E.Matindas | Vitamin | 04 September 2010, 14:22:21 | Dibaca: 626 kali Dalam sebuah seminar teologi, seorang peserta mengajukan pertanyaan menggugat: “Apakah Yesus bisa berbuat dosa? Kalau bisa, maka Ia tentu tak patut disembah. Kalau tidak bisa, maka itu berarti Ia tak lebih cuma robot yang sepenuhnya dikendalikan Allah, sehingga tak layak disembah sebagai Tuhan!” Meski pertanyaan itu sudah melenceng dari makalah saya maupun topik seminar, namun saya menilai perlu menjawabnya. Karena pertanyaan-pertanyaan pop jenis begini saya tahu selama ini kurang diberi penjelasan yang memadai. Sehingga terus menetap dalam kesadaran banyak orang. Tetap sebagai pertanyaan yang tak terjawabkan. Di dalam sistem kesadaran seseorang, itu berfungsi sebagai predator yang secara pasti menggerogoti iman. Kelihatannya penanya itu sudah hafal betul kalimatnya yang kendati cukup rumit nan filosofis. Artinya, ia sendiri sudah sering dengar atau baca dari sumber lain, juga ia sendiri sudah sering mengajukannya ke mana-mana, termasuk ke dalam perenungannya sendiri, tapi tetap masih sebagai pertanyaan dan belum pernah menjadi jawaban tuntas. Pertanyaan — atau barangkali lebih tepat dakwaan jaksa merangkap hakim pemutus — itu memang mengepung. Mengepung dengan logika-logika yang ketat. Membentuk sebuah sirkuit tertutup tanpa jalan keluar. Jawaban apapun yang diberi hanya akan menjerumuskan posisi Yesus. Untuk itu saya harus membuat beberapa irisan, agar dapat membelah ketertutupan yang ketat itu. Pertama, kita perlu membereskan tersendiri proposisi tentang kondisi ketidakbisaan berbuat dosa yang memang betul harus berkonsekuensi pada sifat robot. Dan mengenai hal ini, segera dapat kita tegaskan: jangankan Yesus, setiap manusia pun tidak diciptakan Tuhan sebagai robot-robot yang tak memiliki kehendak bebas (free will). Jadi, jelas bahwa Yesus pun memiliki potensi berbuat dosa. Bahkan harus bisa berbuat dosa. Kedua, kenyataan bahwa Yesus berpotensi melakukan dosa tidak harus berkonsekuensi pada tak layaknya Ia disembah. Karena potensi dosa bukan berarti berdosa. Bisa berbuat dosa bukan berarti sudah berbuat dosa. Kalau tak memiliki potensi dosa lantas tidak berbuat dosa, itu mah bukan cerita, itu tidak istimewa. Ia justru layak disembah karena kesanggupan-Nya untuk menghadang potensi dosa tersebut agar tak sampai berbuah dosa. Hal tersebut diupayakan-Nya secara sangat tekun sedari kanak-kanak. Dengan ketekunan ekstra Ia memperlajari ajaran-ajaran Kitab Suci, dan mengaktualisasikannya, sehingga masih pada usia remaja 12 tahun Ia sudah mampu bersoal-jawab tanpa terkalahkan di tengah para Ahli Taurat di Bait Allah. Ia menggembleng daya olah karsa dan rasa, antaranya melalui puasa tanpa makan dan minum sepanjang siang dan malam (yang dicatat Alkitab hanyalah salah satu puasa yang dilakukan-Nya di masa dewasa, padahal kita tahu sebagai umat Yahudi mereka harus melakukan puasa dan pertarakan pada pelbagai even ataupun keperluan lainnya dalam setiap tahun). Apa yang kita manusia rasakan sebagai kelemahan dalam menghadapi dosa, dirasakan juga oleh Yesus. Ia digoda karena Ia memang berpotensi dosa. Anak kecil pun tak akan menawari makanan pada sebuah batu, karena tahu batu tidak berpotensi untuk makan. Apalagi iblis yang cerdik. Dosa adalah potensial dalam diri Yesus, seperti setiap manusia, tapi Yesus tidak mengaktualkan itu (Ibr.4:15). Yesus menjadi sejatinya mulia karena kesanggupan dan keberhasilan-Nya untuk tak melalukan dosa. Di antaranya, dan merupakan puncaknya, yakni kesanggupan dan keberhasilan-Nya untuk menghalau godaan sifat-sifat manusia, tak menolak rencana serta perintah Bapa-Nya, sehingga rela ditangkap, dinista dan dibantai habis-habisan kendati Ia tak bersalah, Ia adalah Tuhan Yang Mulia, dan Ia sebetulnya mampu mengalahkan segala kekuatan lawan. Ketiga, harus diingat, tujuan Allah menjadi manusia antara lain memang supaya setiap kita manusia memiliki teladan konkrit dalam hal kesanggupan memelihara kekudusan. Yesus menjadi layak dimuliakan oleh kita semua sebab keberhasilan-Nya menjadi teladan nyata dalam hal menaati segenap perintah untuk kebajikan dan kekudusan. Dengan kehadiran Yesus di tengah manusia dan sebagai manusia maka setiap orang beriman tak boleh lagi berdalih “Aah, saya toh cuma manusia….” Setiap ungkapan seperti itu sama dengan menghina Yesus. Sama dengan melupakan Yesus. Kehadiran Yesus di tengah manusia, dan sebagai manusia, membuat sifat suci menjadi sesuatu yang feasible bagi setiap manusia. [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||