08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Menjembatani Jurang Komunikasi dengan AnakBy: Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha | Tips | 02 September 2010, 13:11:06 | Dibaca: 856 kali Malam Minggu di akhir Juli lalu kami membawa anak-anak jalan di Mal Paris van Java, Bandung. Aduh, ramainya, parkir saja susah. Untuk dapat tempat parkir saya perlu 20 menit. Maklum, malam panjang. Lorong depan toko-toko di mal sesak rasanya. Resto dan kafe padat, dipenuhi manusia yang sedang kelaparan. Saya mengamati pengunjung mal. Di depan saya beberapa remaja sedang makan. Salah seorang makan dengan satu tangan pegang sendok, tangan yang lain memencet keypad BB/HP, mulut mengunyah makanan, sambil ngobrol dengan teman di sebelahnya. Dia bicara tanpa melihat kawannya. Sekali dayung dikayuh, dua-tiga pulau terlampaui, kata pepatah. Hebat? Di bagian lain ada seorang gadis belia dengan dandanan elok sedang ber-SMS-ria. Tangan kirinya mengapit rokok, yang kemudian dihisapnya dalam-dalam. Teman di dekatnya dibiarkan melongo, menungguinya. Melihat suasana malam itu, saya membayangkan kehidupan remaja masa kini. Tidak jauh beda, di kota mana pun mereka berada, Bandung atau Jakarta. Sama saja. Mereka punya gaya hidup sendiri, yang sangat berbeda dengan masa remaja kami 30 tahun yang lalu. Tidak Nyambung Hal yang terpenting adalah teladan. Banyak anak makin kehilangan teladan dari orangtua dan pemegang otoritas lain, misalnya guru, aparat, pejabat. Media massa kita sekarang ramai memberikan informasi soal korupsi di kalangan pejabat, perceraian dan perselingkuhan di antara public figure, perbuatan asusila yang dilakukan guru dan pendidik terhadap siswanya. Pemberitaan yang demikian dapat menghilangkan rasa hormat anak terhadap orang yang seharusnya diteladani. Bagaimana cara orangtua masa kini berkomunikasi dengan anak-anaknya? Seorang teman saya sudah berhari-hari tidak berjumpa dengan anak-anak remajanya karena kesibukan masing-masing. Maka komunikasi dilakukan lewat secarik kertas di pintu kulkas. Kalaupun mereka sempat makan bersama pulang gereja di hari Minggu, teman saya ini sibuk dengan HP/BB-nya, sedangkan anak-anaknya main Play Station atau membaca di dekatnya. Beberapa anak mengeluh dengan kami dan berkata: “Mau ngomongin apa, ya? …habis nggak nyambung sih…. Mama dan papa sudah nggak bisa masuk di dunia kita-kita.” Jika komunikasi kita dengan anak hanya searah, berisi nasihat yang itu-itu saja bisa membuat anak-anak jengkel. Hal ini akhirnya memperlebar jarak di antara kita dengan mereka. Menjembatani Gap Dalam situasi remaja masa kini maka ada beberapa sifat orangtua yang diperlukan dalam mendampingi remaja. Pertama, dapat menoleransi paradoks dalam diri remaja. Misal, menerima anak remaja yang sering berjanji namun tidak dapat menepatinya. Sebaiknya kita tidak usah terlalu menuntut mereka sempurna, tapi belajar menerima mereka apa adanya (walau kita tetap menyatakan secara asertif, ketidaksetujuan kita terhadap sikapnya). Kedua, mempunyai rasa humor. Dengan humor atau bercanda lebih mudah kita mengkomunikasikan pesan kepada anak-anak. Anak butuh teman ngobrol dan bercanda. Ketiga, sikap fleksibel. Kita bisa menyesuaikan diri dengan remaja. Jangan kecewa kalau nasihat kita kadang diabaikan. Anak pada masa ini bisa jauh lebih mendengarkan sahabat mereka daripada orangtuanya sendiri. Dalam situasi ini kita perlu ingat dan masuk ke dalam masa remaja kita dulu namun tetap memberikan arahan yang jelas pada anak tentang apa yang baik dan benar. Anak-anak era sekarang membutuhkan tidak saja orangtua yang baik dan jujur, tetapi juga orangtua yang hangat menyambut teman-teman mereka. Orangtua perlu bersimpati atau toleransi terhadap anak yang dalam beberapa hal berbeda dengan kita. Anak juga membutuhkan penerimaan. Jika kita mampu menerima mereka, maka kita akan bisa berelasi secara positif dengan mereka. Adakalanya kita memberi anak kesempatan kedua, yakni memperbaiki dirinya saat dia gagal atau melakukan kesalahan. Belajar dari pengalaman kami memberikan konseling keluarga selama sepuluh tahun terakhir ini kami melihat masalah anak salah satu pemicu konflik suami-istri. Jika masalah anak tidak diselesaikan di rumah, anak bisa bermasalah di sekolah. Bahkan setelah anak dewasa dan bekerja, masalah yang tidak diselesaikan saat anak (seperti trauma dan kemarahan), dapat menghambat perjalanan karir dan keluarga anak-anak kita. Membaca situasi ini, kami terpanggil mengadakan Seminar Konseling Anak di 16 kota - info: www.pedulikonseling.or.id . Seminar interaktif ini akan membahas tema “Mendidik Anak Utuh Menuai Keturunan Tangguh”. Marilah kita terus mengingatkan diri, memberi waktu dan energi terbaik kita mengasuh dan membesarkan anak titipan Tuhan kepada kita. [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||