08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tolong, Tangan Bugil di Depan KameraBy: Len | Hot News | 16 Agustus 2010, 10:14:36 | Dibaca: 855 kali Dampak permanen negatif begitu banyak. Sedangkan dampak keuntungan bersifat sementara dan dangkal. Inilah konsekuensi yang harus ditanggung pelaku pornografi seumur hidupnya (Paul Gunadi). Sisi lain dari perkembangan teknologi informasi sudah diprediksi sejak dulu. Persaingan luar biasa di dunia kerja, berujung pada pengangguran dan kemampuan ekonomi yang memburuk, kriminalitas, penggunaan obat-obatan terlarang, dan pornografi. Ini kondisi buruk yang perlahan-lahan sedang merasuki umat manusia. Pernyataan ini disebutkan oleh Dra. Magdalena Sukartono, ketika dimintai pendapatnya mengenai kasus pornografi artis yang sedang hangat diperbincangkan. Ia mengatakan, masalah-masalah seperti ini sudah ada sejak zaman dulu. Biasanya terjadi karena kurangnya peran orangtua memberi nilai-nilai kepada anak sehingga ketika anak beranjak dewasa, karakter mereka rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif. Bisa juga karena panutan yang mereka lihat sejak kecil tidak baik. “Seringkali orangtua menyuruh anak melakukan hal baik, tetapi mereka sendiri tidak memberi contohnya,” ucap Magdalena. PERUBAHAN Poin kedua adalah adanya pergeseran extended family. Keluarga yang dulu terdiri dari anak-anak, bapak ibu, kakek nenek, dan saudara lainnya, bahkan hingga mencapai empat generasi dalam satu rumah, kini menyempit menjadi tinggal dua generasi saja. Bapak, ibu, dan anak-anaknya. Hal ini menyebabkan tidak adanya penyangga sosial lain di dalam rumah, apabila kedua orangtua bekerja di luar rumah. Apa jadinya anak-anak? Mereka tinggal teralienasi di rumah sendiri. Tapi tunggu dulu, mereka tidak kesepian. Orangtua juga tidak khawatir karena perkembangan gadget saat ini sudah jauh melampaui kebutuhan manusia. Tinggal telepon, SMS, email, chatting,dan memakai media komunikasi lain, anak tetap bisa berkomunikasi dengan orangtuanya. FACE TO FACE Bukan hanya ketika berkomunikasi melalui gadget, ketika bermain pun, anak-anak sekarang sudah dihadapkan pada mesin – ketika mereka melakukan kesalahan, mereka dengan mudah menyalahkan si mesin tadi. Berbeda ketika bermain bersama teman-temannya dengan permainan tradisional, ada sanksi yang harus dijalani ketika melakukan kesalahan atau tidak taat pada peraturan yang ditetapkan. Keberadaan sanksi ini membuat mereka mau tidak mau harus mematuhi norma yang berlaku. Magdalena menyebut, boleh saja kedua orangtua bekerja – karena memang demikian tuntutan ekonomi, namun mereka harus menyediakan waktu berkualitas yang bisa dinikmati bersama. Bukan sekadar duduk nonton televisi bersama, tetapi perlu adanya komunikasi intensif. Akan tetapi Andreas menambahkan, semakin sedikit waktu interaksi face to face yang terjadi, semakin sedikit pula transfer nilai-nilai dilakukan. Demikian juga, semakin intensif nilai-nilai tersebut diberikan kepada anak, semakin kuat nilai tersebut tertanam. Hasilnya, anak semakin mampu berpikir dan memutuskan mana yang positif mana yang tidak. “Karena masalahnya sekarang adalah, anak-anak bingung menentukan sikap karena lemahnya dasar positif yang mereka punyai,” kata Andreas. MOTIF PELAKU Dari sisi teologis, Saria Marantika mengatakan bahwa konsekuensi melakukan perilaku tidak sopan di depan kamera adalah dosa (lihat tulisan Dari Dalam Terpancar ke Luar). Tetapi konsekuensi lain yang tidak boleh dilupakan adalah semakin rapuhnya wadah yang disebut keluarga. Andreas menjelaskan bahwa anak-anak yang menonton atau bahkan menjadi pelaku perilaku tidak sopan tersebut, mengalami loncatan pemahaman mengenai seks tanpa melalui jalur-jalur yang seharusnya. Akibatnya, terjadi antiklimaks di dalam perkawinan saat perkawinan tersebut seharusnya baru mulai bertumbuh. Lalu segera muncul kebosanan, dan diakhiri dengan perceraian. Bayangkan jika keluarga-keluarga kristiani terus-menerus mengalami hal ini. Bagaimana supaya hal ini tidak terjadi? Caranya tidak lain adalah memprioritaskan komunikasi face to face antara anak dan orangtua, juga anak dengan masyarakat lainnya sehingga timbul kekuatan karakter. Melalui komunikasi face to face tersebut, nilai-nilai kristiani bisa ditransfer ke dalam diri anak seintensif mungkin. NILAI-NILAI Nilai-nilai yang tertanam sejak kecil bisa juga hilang atau terkontaminasi nilai negatif jika tidak dipelihara dengan dukungan orang-orang terdekat dan pimpinan Roh Kudus. Ada tiga cara agar nilai-nilai tersebut bertahan lama, yaitu memeliharanya dengan berpartisipasi dalam kegiatan positif, menghindari sumber-sumber pengaruh yang melemahkan nilai tersebut, dan terakhir, memperbaiki diri dengan nilai-nilai baru ketika jatuh dalam kesalahan. Tetapi, bagaimana jika sudah terlanjur, apakah masih ada kesempatan? Paul Gunadi merangkum empat langkah untuk kembali menjadi manusia baru. Pertama, mohon ampun kepada Tuhan. Selalu tersedia pengampunan bagi mereka yang mau bertobat. Kedua, tetap jalani hidup. Nasi sudah menjadi bubur. Sewaktu-waktu foto atau video tersebut bisa muncul lagi seperti hantu masa lalu, bahkan ketika seseorang sudah bertobat. Akan tetapi tetap yakini bahwa pengampunan Tuhan itu sempurna. Ketiga, jangan mengulanginya lagi. Terakhir, terimalah kegagalan sebagai bagian integral dari kehidupan. Masa lalu sudah berlalu, yang hadir sekarang, dan patut disyukuri adalah masa kini. Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||