08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Mengenai Sekolah di Hari MingguBy: Len/Redaksi | Hot News | 16 Juli 2010, 15:35:24 | Dibaca: 1036 kali “Hidup tanpa Yesus seperti donat, seperti donat, seperti donat. Hidup tanpa Yesus seperti donat, ada lubang kosong di dalam hatimu.” Hayo, Guntur, pernah nggak dijanjikan sesuatu sama orangtua? Pernah, kata Mama dan Papa, kalau sudah lulus sekolah mau dibiayai ke luar negeri. Nah, Yesus juga pernah berjanji akan memberikan Roh Kudus kepada para murid setelah Ia naik ke Sorga… Lima orang anak berbeda usia itu manggut-manggut mendengar penjelasan Omega Padmanatali (23), mahasiswa salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Selama lima belas menit berikutnya, Mega, demikian panggilannya, menceritakan kepada anak-anak itu pribadi Yesus yang tidak pernah lupa akan janji-Nya. Sebuah buku bergambar ditunjukkannya, lalu ia membiarkan mereka menebak-nebak apa yang dimaksudkan gambar tersebut. Sebagai penutup dari kegiatan Sekolah Minggu hari itu, mereka belajar membuat pembatas Alkitab. Terlewatkan Menurut Nunung, ada begitu banyak kendala yang mereka hadapi. Misalnya saja, belum optimalnya pembinaan guru-guru Sekolah Minggu karena terkendala waktu. Akibatnya, regenerasi berlangsung lambat. “Saat ini ada sepuluh orang guru Sekolah Minggu, kurang lebih. Tapi itu pun mereka yang sudah berumur,” tegas Mega. Sementara pembinaan yang biasanya diadakan bekerja sama dengan klasis kadangkala tidak berjalan rutin. Bagaimana dengan gereja? “Di sini belum ada,” jawab Nunung. Mengenai metode belajar, Nunung mengaku bahwa mereka selalu memakai kurikulum yang telah ditetapkan oleh sinode. Beruntungnya, di dalam kurikulum tersebut, ada tuntunan untuk membuat kreativitas sendiri disesuaikan dengan kemampuan guru serta dana. “Terus terang, tidak semua alat peraga bisa kita beli karena terkendala oleh dana. Meski juga perlu diakui, gereja sudah memperbesar anggaran untuk itu,” tukas Nunung. Minggu Kelima Angelia Zebua (25), Pembina Komisi Anak GKI Gejayan, membenarkan. Selain kelas-kelas reguler yang diadakan tiap minggu, aktivitas di minggu kelima ini menjadi daya tarik tersendiri. “Kita buat berbeda dari biasanya. Meski tidak harus di luar, yang jelas persentase aktivitasnya lebih banyak dari biasanya,” ujarnya. Jumlah anak yang terhitung sekitar 150 orang hingga 180 orang ini, jika di minggu biasa mereka dibagi dalam enam kelas sesuai tingkatannya di sekolah formal. Mereka diajar oleh hampir 50 orang guru – meskipun tidak semuanya aktif. Tugas bergilir, masing-masing sudah ada jadwalnya tersendiri. Yang lowong dan setia, menjadi tonggak utama bagi berkembangnya Sekolah Minggu di gereja ini. “Selain kegiatan mingguan itu, kita juga mengadakan acara tahunan, baik untuk anak maupun gurunya sendiri. Tujuannya sih agar dua-duanya dapat berkembang,” tambah Nelson Manasye (22), Ketua Komisi Anak GKI Gejayan. Misalnya, Februari lalu, mereka mengadakan training untuk guru-guru Sekolah Minggu yang baru. Ada tiga hal utama yang ditekankan, iman dan pengajaran, metode kreatif, serta psikologi anak. Paulus Lie, Gembala GKI Gejayan, yang memiliki basic pelayanan anak, juga turun tangan menjadi salah satu trainer. Mengenai program, ada koordinasi yang dilakukan. Jalur komunikasi antara majelis, khususnya yang membidani pelayanan kategorial usia, dengan para guru Sekolah Minggu. Hasilnya, kesepakatan yang dicapai lewat komunikasi tersebut lebih mudah diterapkan. Durasi Firman Apa saja aktivitas yang terjadi di sana? Di kelas junior (19-24 bulan), pengajar bercerita dengan suara keras, dibantu alat peraga. Namun, para bayi ini lebih suka asyik dengan diri-sendiri. Ibu, serta babysitter ikut duduk mendampingi mereka di atas karpet yang tergelar. Ada juga yang makan dan minum. Tidak heran, mereka masih sangat muda. Informasi yang sempat didapat Bahana, di kelas yang lebih tinggi, durasi firman semakin lama. Bukan hanya sepuluh atau lima belas menit, tetapi bisa mencapai satu jam. Bahkan dalam jangka waktu selama itu, untuk kelas besar (satu hingga enam), tidak lagi harus melakukan aktivitas. Mereka hanya konsentrasi pada firman Tuhan. Namun, yang unik adalah, sebelum Sekolah Minggu dimulai, para guru biasanya mengajak anak-anak tersebut ngobrol terlebih dulu. Bicara satu-satu atau sekaligus. Hal ini dilakukan untuk menciptakan relasi. Tidak tanggung-tanggung, 30 menit pertama dipakai untuk hal sederhana itu. Mereka Berubah “Akhir-akhir ini ia terlihat aktif sekali. Mereka (pengajar SM, red) datang ke rumah saya dan bercerita. Kami berdiskusi mengenai bagaimana cara yang enak untuk mengatasi itu. Kadang mereka juga takut menegur, karena pernah di suatu kasus, ada orangtua yang tidak setuju jika anaknya ditegur,” urai Vera. Berbedanya perilaku Hogie dari biasanya dipahami Vera sebagai gejala psikologis saja. Dari hasil sharing dengan sesama ibu-ibu pengantar anak di Sekolah Minggu itu, ia menyadari bahwa Hogie perlu diberi perhatian yang lebih intensif, terlebih oleh dirinya sendiri. “Hogie itu, kalau saya nonton, dia juga ikut nonton. Jadi, saya mengalah, lebih baik tidak nonton daripada dia ikut. Menurut saya, acara televisi banyak yang tidak bagus buat anak-anak.” Jadi, Vera mengatur siasat. Jika Minggu pagi tiba, ia tidak pernah menyetel televisi. Hogie bangun, mandi, makan, lalu bersiap ke gereja. Vera mengakui bahwa hal-hal menarik dan selalu baru yang ditemuinya di GKI Gejayan cukup membantu menarik minat anak itu. Dini Isniah (34), yang juga membawa anaknya ke GRII, justru mengakui Victoria (2) mengalami perubahan besar. “Dia dulu pemalu. Kalau lihat orang takut. Sekarang nggak lagi, dia yang nyamperin dan nyapa lebih dulu. Dia juga bisa berdoa sendiri dan bisa menceritakan kembali apa yang didengarnya di Sekolah Minggu meski tidak selengkap gurunya.” Sumber: Majalah Bahana, Juli 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||