06 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
KudusBy: Yonky Karman | Vitamin | 07 Juli 2010, 00:13:10 | Dibaca: 667 kali Dalam situasi enak orang dapat lengah, lalu berdosa. Dalam situasi sulit, orang dapat tergoda untuk menyangkal iman. Surat 1 Petrus ditujukan kepada jemaat baru yang mengalami tekanan hidup berat. Mereka menanggung derita yang tak harus mereka tanggung (2:19-20). Mereka difitnah dan menderita justru karena mereka berbuat baik (2:12; 3:13-17; 4:12-16). Wajarlah jika di antara mereka bertanya-tanya mengapa iman tidak membuat mereka terhindar dari kesulitan dan untuk apa beriman. Iman mereka sedang diuji. Bagaimanapun, mereka harus hidup kudus. Dan itu tidak mudah. Alasan utama untuk hidup kudus adalah Allah juga kudus dan adil (1:15-17; 2:23). Ia tidak hanya melahirbarukan (1:3), tetapi juga menghakimi orang yang hidup dan yang mati sesuai dengan perbuatan masing-masing (4:5). Semua orang, tanpa kecuali, harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan dan akan menerima ganjaran setimpal, kalau tidak di dunia ini, di dunia nanti. Allah sebagai hakim adalah gambaran yang kuat dalam Perjanjian Lama, kian kuat dalam Perjanjian Baru yang seluruhnya dilatari kepastian datangnya sebuah hari penghakiman universal. Umat Allah yang pertama-tama dihakimi (4:17). Penghakiman orang beriman tak bertentangan dengan keselamatan karena anugerah. Keselamatan di dalam Yesus bukan karena orang cukup baik untuk diselamatkan. Tetapi setelah diselamatkan, yang bersangkutan perlu membuktikan bahwa dirinya sudah selamat. Ketaatan Kristen merupakan konsekuensi setelah menerima kebaikan dan kemurahan Allah. Daripada menjadi beban, ketaatan itu mendatangkan sukacita. Alasan berikut untuk hidup kudus adalah faktor hidup baru. Kita telah ditebus dari cara hidup sia-sia bukan dengan sesuatu yang murah dan fana, tetapi dengan darah Kristus yang amat mahal dan bernilai kekal (1:18-19, 23). Jangan sampai setelah ditebus, kehidupan kita memperlihatkan bahwa kita tidak semahal nilai tebusan itu. Cara hidup sia-sia adalah kecurangan, kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, fitnah, hidup dalam hawa nafsu, kemabukan, pesta pora, penyembahan berhala, semua itu keinginan-keinginan daging yang selalu berperang melawan jiwa (2:1, 11; 4:3). Orang yang telah ditebus dari cara hidup sia-sia tidak pantas masih hidup dalam cara hidup itu. Itulah cara hidup yang menghargai status baru sebagai anak-anak Allah. Kita tidak cuma hidup di dunia ini tetapi juga di dunia nanti (1:4, 7, 21). Karena kesudahan segala sesuatu dilihat sudah dekat, tema pengharapan muncul sampai lima kali (1:3, 13, 21; 3:5, 15). Ini bukan optimisme buta, sebab dasar pengharapan adalah keyakinan yang kokoh tentang masa depan di dalam dan bersama Yesus. Pengharapan yang mendatangkan sukacita. Pengharapan yang hidup. Moralitas pengharapan adalah kita hidup dengan mawas diri selama “menumpang” di dunia (1:17; 2:11). Kita tidak bisa seenaknya. Gerak-gerik kita terbatas. Kita harus menguasai diri dan tenang agar dapat berdoa (4:7). Yang jelas, kehidupan di dunia nanti ditentukan dari cara hidup di dunia ini. Tidak semua dari dunia ini dapat dibawa ke dunia sana. Pengharapan Kristen tak terpisah dari keseharian. Demi pengharapan yang pasti tentang masa depan, secara moral kita dituntut untuk menyesuaikan diri dengan jenis kehidupan yang pas dengan kondisi dunia nanti. Hidup berpengharapan adalah hidup saling mengasihi dengan tulus (1:22). Kasih adalah pemberian yang agung dari Tuhan. Kasih manusia derivatif kasih Allah. Kasih dapat dirasakan tanpa banyak penjelasan karena dampak positifnya. Kasih menutupi banyak sekali dosa (4:8). Kasih merupakan bentuk pemberian diri seseorang kepada sesama dan karenanya mengobati egoisme masyarakat. Kasih adalah sentuhan pribadi yang memperlakukan sesama menurut harkatnya. Kejahatan berkurang bukan karena khotbah dan seminar, tetapi karena kasih dipraktikkan. Lebih banyak praktik kasih, lebih sedikit orang menderita, lebih sedikit orang berbuat jahat. Semoga kita semua bertumbuh dalam kekudusan. Sumber: Majalah Bahana, Juli 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||