08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Guru, Panggilan Mulia dan Pelayanan BerdampakBy: HGA | Misi Gereja | 03 Juli 2010, 09:00:03 | Dibaca: 1159 kali Saya ingat guru SD yangg sangat saya kagumi. Kesabarannya dan kasihnya menuntun murid-murid, untuk bisa memahami pelajaran demi pelajaran. Setelah 20 tahun saya meninggalkan kampung halaman dan kembali berkunjung, ternyata beliau masih saja mengajar sebagai guru. Sementara murid-muridnya telah menjadi dokter, insinyur, sarjana hukum, dll. Namun, ia tetap mengajar sebagai guru. Mengajar bagi seorang guru adalah bagian hidupnya, suatu panggilan yang mulia. Keberhasilan baginya tidak berhenti pada dirinya, melainkan saat melihat orang lain (Dulu Indonesia mengirim guru ke Malaysia, namun sekarang hanya mengirim TKI. Bahkan Malaysia menjual/memasarkan sekolah dan universitasnya ke Indonesia, diperkirakan ribuan siswa/mahasiswa dari Indonesia belajar di Malaysia akhir-akhir ini. Apa yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan kita? Dulu guru adalah suatu status sosial yang terhormat dan banyak orang tua bangga kalau anaknya menjadi guru. Namun kemudian orang mulai berkata bahwa jadi guru itu adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Ada sisi positifnya, namun negatifnya seakan menyatakan bahwa jadi guru itu masa depannya suram, gajinya rendah) menjadi seseorang sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Bersamaan dengan itu jumlah guru yang diproduksi dianggap telah berlimpah, melebihi kebutuhannya. Padahal ada banyak sekolah-sekolah di pedesaan/pedalaman yang kekurangan guru sampai saat ini; persoalannya adalah kurangnya pemerataan guru dan rendahnya pengabdian. Di sisi lain, fakultas keguruan mulai ditinggalkan peminatnya; sehingga mau tidak mau IKIP berubah/berkembang, menjadi universitas-universitas dengan berbagai program pendidikan. Tentunya situasi ini semakin membenarkan, bahwa untuk menjadi guru sungguh-sungguh dibutuhkan kesadaran. Bukan sekedar profesi melainkan suatu panggilan. Firman Tuhan menegaskan bahwa menjadi guru tidak mudah, perlu hikmat dari Tuhan. Menjadi guru harus berbeda sudut pandangnya dengan kebanyakan orang, dan harus memberikan teladan yang baik. Dari hidupnya sang murid akan belajar tentang kehidupan. Bayangkan sedikitnya 15-35 jam setiap minggunya sang murid berinteraksi dengan guru. Contoh hidup seperti apakah yang dibagikan oleh sang guru? Apakah yang akan diserap oleh seorang murid? Tahun-tahun terakhir ini, pemerintah tampak lebih serius memperjuangkan nasib guru. Ternyata dengan disahkannya Undang-Undang Guru, pelaksanaan sertifikasi guru dan adanya upaya-upaya untuk merealisasikan anggaran pendidikan 20% dalam APBN. Situasi ini sepertinya menggairahkan kembali semua perguruan tinggi, yang kebagian tanggung jawab untuk melakukan peningkatan profesionalisme guru. Semua ini patut disyukuri, namun tidak boleh menjadikan salah dalam meresponinya. Janganlah kegairahan atau semangat belajar hanya dipacu oleh kepentingan materi/keuangan semata, melainkan haruslah tetap menyadari bahwa itu bagian panggilan Tuhan. Kalau kita yakin bahwa menjadi guru adalah panggilan, maka guru harus setiap hari belajar sehingga ia dapat memberikan yg terbaik bagi muridnya. Guru, pelayanan yang berdampak Proses mengasah membutuhkan waktu; berbicara tentang iman, kesabaran dan ketekunan seorang guru dalam membina murid-muridnya. Yusuf membutuhkan waktu 13 tahun, sebelum ia menjadi penguasa di Mesir; Daud memerlukan waktu 8-9 tahun sebelum menjadi raja bagi seluruh Israel. Ini adalah hukum proses, tidak ada yang instan dalam membentuk seorang murid. Menjadi seorang guru, sesungguhnya adalah suatu pelayanan yang membawa dampak. Apa yang menyebabkan mereka bertahan? Saya melihat 2 hal ini ada dalam mereka, yaitu sadar bahwa apa yang mereka kerjakan adalah suatu panggilan Tuhan yang mulia, dan pelayanan yang berdampak. Sumber: Majalah Bahana, Juli 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||