07 September 2010, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Dibutakan Untuk Sebuah SensasiBy: aryat | Artikel | 28 Juni 2010, 16:01:19 | Dibaca: 273 kali Saya ingat teman saya dari Bali, bernama ‘Rai’, yang terkenal jago taekwondo. Waktu itu kita masih duduk di bangku SD, Rai dikenal sebagai anak yang multi-talent oleh teman-temannya. Di waktu istiharat sekolah, saya, Rai dan beberapa teman melakukan permainan berbahaya, yaitu melompat dari ±10 anak tangga, sambil meraih kayu diatas untuk bergelantungan. Seingat saya, Rai sempat berhasil melakukan adegan itu, namun setelah mencoba kedua kalinya dia terpelanting jatuh dari ±10 anak tangga dengan posisi kepala terlebih dahulu. Alhasil kepalanya mengeluarkan darah yang cukup banyak, untung saja hal ini tidak berujung fatal bagi masa depan Rai. Saya yakin bukan karena ajaran taekwondo yang membuatnya harus bermain penuh resiko seperti itu, hingga harus jatuh dan kepalanya mengeluarkan banyak darah. Namun, karena kebandelan seorang anak-anak bercampur rasa ingin mencari sensasi yang membutakan Rai, akan bahaya yang sedang mengancamnya. Kalau sudah gini yang rugi juga diri sendiri, tapi namanya anak laki-laki suka sekali dengan tantangan yang dapat mengumbar sensasi. Tak pelak juga, kadang semua ini dilakukan untuk mengejar popularitas diantara teman-teman kita, terlebih supa mendapat pengakuan bahwa kita bisa melakukan adegan hebat, yang mereka tak bisa lakukan. Memang, menjadi terkenal dengan meraih popularitas dikalangan teman-teman adalah suatu hal yang nikmat. Apalagi lagi, kalau memiliki talent yang tidak semua orang dapat melakukannya. Tapi diposisi inilah manusia sering dibutakan untuk mencari popularitas, dengan membuat sensasi didepan teman-teman mereka. Hingga akhirnya kita dapat menarik perhatian mereka, agar mereka dapat menyanjung kehebatan yang sudah kita tampilkan. Tapi apa yang terjadi bila semua itu berujung petaka, seperti yang terjadi di air terjun Santiago Oaks Regional Park di California Selatan. Dimana, Brian Smith dan kawan-kawannya telah berulang-ulang berhasil melompat di air terjun itu dari ketinggian 20 kaki dan menceburkan diri di air yang jernih. Sedangkan di tempat itu sudah terpampang tanda larangan berenang dan melompat, tetapi Brian dan kawan-kawannya tidak mengindahkan larangan ini. Dan di moment terakhir, Brian ingin menyelam sekali lagi, namun dengan salto. Tindakan ini sangat membahayakan dirinya, dan akhirnya benar, menurut para saksi mata Brian mendarat dengan perut terlebih dahulu dan setelah menyelam Brian tak pernah muncul kepermukaan air lagi. Kawan-kawannya pun segera masuk kedalam air untuk menariknya keluar. Tetapi hal tersebut sudah terlambat. Dan Brian meninggal keesokan paginya. (Cerita ini disadur dari “Flip Dive Fatal for Man”, Lihat: Dan Schaffer, “Keputusan-keputusan yang Mengubah Hidup”, Jakarta: Metanoia Publishing, 2006; hlm.117.) Ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebandelan yang dilakukan. Dan kebandelan ini terjadi karena keinginan membuat sebuah sensasi. Lagi-lagi 3 urutan yang mematikan terjadi, “Kebandelan, Sensasi dan Petaka.” 3 hal mematikan ini memang sudah sering dilakukan terlebih oleh anak muda, sudah terlalu sering makan korban. Dari yang ugal-ugalan dijalan, atraksi-atraksi berbahaya, atau olahraga berbahaya, dst. Jangan Sesumbar Sebenarnya, manusia mana yang tidak suka dipuji? Karena, emang pujian yang tulus dari hati dapat memacu semangat kita!! Begitu juga dengan kekristenan, siapa sih yang ga pingin tulisannya jadi inspirasi orang lain, atau khotbahnya bisa memberkati orang lain, atau mungkin permainan musiknya bisa membawa jemaat masuk lebih dalam lagi dalam hadirat Tuhan, dsb. Permasalahannya, kita yang sering mendapat pujian-pujian itu akhirnya jadi sesumbar dan merasa sok senior, atau sok paling hebat, sampai-sampai dalam persiapan pelayanan pekerjaan Tuhan sudah ga perlu lagi yang namanya persiapan khusus (seperti doa, minta penyertaanNya,dst.). Kita jadi lupa siapa yang memberi karunia talenta itu; taunya, siapa yang mengasah talenta itu (saya), jadi (saya) patut membanggakan diri (saya) karena semua itu berkat usaha (saya) dan sudah sepatutnya pujian itu buat (saya). Bisa dikata, inilah tipikal manusia lama yang belum benar-benar diubahkan. Dimana tindakan kita seakan dibarui, tetapi motivasi dan pikiran kita belum dibarui. Kalau motivasi kita dalam pelayanan pekerjaan Tuhan saja sudah salah, pastinya kita bakal dengan mudah jatuh dalam dosa."Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." (2Koribtus 10:17). Apabila pujian dari sahabat datang jangan keburu sesumbar, tapi ingat bahwa semua talenta yang kita punyai itu adalah berkat kemurahan Tuhan pada kita. (2Korintus 10:18), “Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.” [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
![]() Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: 5454 (Telkomsel), 7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Online Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2010 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||