08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Memahami Akar-akar KekerasanBy: Go Thiam Hok | Artikel | 09 Juni 2010, 15:21:39 | Dibaca: 1065 kali Masih ingat peristiwa 14 April 2010 lalu? Peristiwa itu merupakan catatan kelam dalam sejarah perjalanan bangsa kita. Hari itu ratusan massa yang mempersenjatai diri dengan kayu, batu, bom molotov, dan berbagai senjata tajam terlibat bentrok berdarah dengan Satpol PP di daerah Tanjung Priok. Alhasil, puluhan orang terluka dan beberapa tewas karena mengalami luka yang serius. Pemerintah memperkirakan kerugian yang dialami para pengusaha akibat peristiwa itu mencapai miliaran rupiah. Hal ini disebabkan terhambatnya arus keluar masuk truk-truk kontainer yang membawa barang-barang ekspor atau impor selama kerusuhan berlangsung. Peristiwa kerusuhan di Tanjung Priok, sebenarnya merupakan salah satu contoh dari banyak kasus kekerasan yang kian marak di tengah masyarakat kita. Jika kita menonton televisi atau membaca media massa, kekerasan dengan berbagai variannya dapat dengan mudah ditemukan. Pelakunya pun berasal dari berbagai kelompok umur, dari anak-anak hingga orangtua, dari orang awam hingga mereka yang terpelajar. Yang paling memperihatinkan adalah fakta bahwa budaya kekerasan telah menjalar masuk hingga ke bagian-bagian sentral dari bangsa ini. Perhatikanlah kasus kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Jatinangor pada tahun 2007 silam, hingga peristiwa saling serang dengan anak panah yang terjadi di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis di Kotaraja, Abepura, pertengahan Maret lalu. Bukankah suatu keprihatinan tersendiri jika di sekolah-sekolah calon pemimpin, yang seharusnya mengandalkan otak daripada otot pun, kekerasan masih dipertontonkan? MENURUT WHO Seperti pepatah yang mengatakan bahwa ada api ada asap, demikian pula kekerasan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri tanpa faktor-faktor pemicu yang mengikutinya. Dari banyaknya kasus kekerasan yang terjadi, setidaknya ada dua hasil mendasar yang menyebabkan seseorang melakukan kekerasan. ALASAN Kedua, lingkungan pergaulan yang buruk. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33). Nasihat firman Tuhan tersebut mengingatkan agar kita berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan. Leon Czolgosz semula adalah seorang pemuda yang baik dari keluarga Kristen yang taat. Namun karena pergaulan yang salah, ia terlibat dalam serangkaian aksi kekerasan dan pengrusakan (vandalism). Puncaknya ia menjadi pembunuh William McKinley, presiden Amerika Serikat, pada 6 September 1901. Ketiga, tingkat toleransi yang rendah terhadap perbedaan. Tanpa mengesampingkan setiap kesamaan yang ada, pada dasarnya setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain. Hal itu nampak dari karakter, sikap, cara pandang, pola pikir, dan masih banyak lagi lainnya. Suka atau tidak, pahamilah bahwa Anda berbeda dengan orangtua Anda, berbeda dengan kekasih Anda, dan Anda yang sekarang pun berbeda dengan Anda semenit yang lalu. Hal ini sengaja dibuat Tuhan supaya setiap orang tidak hanya mengenal dirinya dengan baik, tetapi juga meraih pencapaian-pencapaian hidup yang lebih tinggi. Namun demikian, perbedaan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterima begitu saja. Dalam banyak kasus kekerasan, hal perbedaan kerap menjadi objek yang dieksploitasi. Oleh sebab itu, sikap toleransi terhadap setiap perbedaan yang mungkin timbul di lingkungan sekitar kita mutlak diperlukan. Upaya-upaya peningkatan pemahaman dan dialog harus lebih dikedepankan. Ketika kita telah mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memicu timbulnya kekerasan, maka sudah seharusnya kita memberikan perhatian lebih terhadapnya. Karena bagaimana pun, kekerasan dengan segala bentuknya harus dijauhkan dari kehidupan kita. Kekerasan bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah. Jadi, beranilah untuk menolak tegas setiap kekerasan.” Sumber: Majalah Bahana, Juni 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||