08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Yesus Pernah Mati Muda: Jejak-jejak Kaum Muda Mentransformasi DiriBy: Jimm Song | Artikel | 12 Mei 2010, 13:35:18 | Dibaca: 1239 kali Siapa yang tak bersyukur jika dalam kehidupan ini Allah memberi kesempatan untuk menikmati masa muda. Masa muda itu berada di tengah-tengah, antara masa kanak-kanak dan masa tua. Enaknya berada di tengah-tengah ialah ia boleh menatap ke belakang (masa kanak-kanak) dan ke depan (masa tua). Masa muda diapit oleh masa kanak-kanak yang sudah dijalani, dan masa tua yang akan dijalani. Dan, nyatanya, masa muda adalah masa kekinian (bukan lagi masa yang sudah dijalani dan akan dijalani)! Masalahnya, banyak kaum muda masih bercokol pada masa lalu (masa kanak-kanak), tetapi ada juga yang seakan-akan bercokol pada masa yang akan datang (masa tua). Akibatnya, kaum muda banyak yang kehilangan jati diri kemudaannya, kehilangan kekiniannya! Untuk yang pertama, ambillah contoh: seorang muda melakukan sesuatu (baca: pelayanan) hanya agar diakui oleh orang lain. Orientasinya bukan demi pelayanan, melainkan dirinya sendiri. Ini sifat dasar dari masa kanak-kanak. Karena itu, pekerjaan yang ia lakukan tidak benar-benar lahir dari ketulusan hatinya. Untuk yang kedua, orang muda cepat merasa puas atas apa yang telah ia lakukan. Rasa-rasanya yang lain tidak dibutuhkan sebab ia merasa matang dan tidak perlu belajar dari orang lain. Ini sifat dasar dari masa tua. Akibatnya, ia merasa diri sempurna, padahal ketika orang lain menunjukkan ketidaksempurnaannya (lewat kritik, misalnya) maka ia merasa kehilangan harga diri. Yesus mati muda: bukan meninggalkan, melainkan menjumpai... Seandainya Yesus (dalam menghadapi proses penyaliban-Nya) bercokol pada pola pikir masa kanak-kanak, mungkin Dia akan mengurungkan niat memasrahkan diri untuk disalibkan. Mengapa? Karena orang-orang Yahudi plus Romawi kala itu banyak yang menolak pelayanan-Nya. Malah menganggap-Nya sebagai manusia konyol yang mau saja mati di kayu salib. Maka, untuk apa mati jika orang-orang lain tidak memberi respek pada diri-Nya? Sebaliknya, seandainya Yesus bercokol pada pola pikir masa tua, mungkin saja Dia menolak dibangkitkan oleh Allah pada hari ketiga. Mengapa? Karena Dia merasa sudah puas dengan apa yang telah dilakukan-Nya di kayu salib. Dia merasa sudah matang sehingga tidak perlu ada kebangkitan lagi. Bukankah puncak drama kehidupan yang harus dijalani- Nya adalah untuk mati? Namun, Yesus memilih kemudaan-Nya untuk diakhiri justru untuk mengawali masa muda itu sendiri! “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Yun: Pater, eis kheiras sou paratithemai to pneuma mou - Luk. 23 :46) kiranya boleh ditafsirkan dengan: “Bapa, ke dalam aktivitas-Mu Kupercayakan kemudaan-Ku!”. Kapan harus mempercayakan diri? Dahulukah atau besok? Tidak. Saat ini! Berarti dalam mengucapkan kata-kata ini Yesus menyadari dan menghayati kemudaan- Nya dalam masa kekinian, bukan dalam masa kanak-kanak apalagi masa tua. Yesus memahami bahwa Dia harus menanggalkan pola pikir masa kanak-kanak, lebih-lebih pola pikir masa tua, demi menghidupi masa muda-Nya. Karena itu, kematian-Nya bukanlah berarti meninggalkan masa muda-Nya, melainkan menjumpainya. Bukan pula berarti mematikan masa muda-Nya, melainkan justru menghidupinya. Kenyataan ini diperlihatkan pada kita lewat kebangkitan-Nya sesudah kematian. Masa muda bukan berakhir di kayu salib, melainkan berkelanjutan/ bergerak kepada kebangkitan. Kematian tidak akan ada tanpa kebangkitan, dan sebaliknya, kebangkitan tidak akan ada tanpa kematian. Kekinian masa mudalah yang menjadi benang pengikat (tipis tapi berdaya) bagi keduanya. Surprise! Spiritualitas kaum muda : penyerahan diri dalam ketidakberdayaan aktif Ungkapan Kupercayakan kemudaan- Ku merupakan jalan mistik dan jalan etis. Jalan mistik maksudnya bahwa kita harus mengetahui dan mengalami Allah yang memiliki masa muda kita sekaligus yang mengubah masa muda itu. Harus ada kesadaran bahwa kita sepenuhnya milik Allah, dan kemudian merasakan bagaimana Allah ada dan berkarya di dalam kita. Jalan etis maksudnya kita harus menjaga keselarasan perilaku dengan gerak kehendak Bapa (ke dalam aktivitas/kekuatan Bapa) sekarang ini. Kalau Allah maunya ini, maka kita jangan maunya itu. Kehendak kita haruslah sejalan dengan kehendak Allah. Di dalam kedua jalan itulah kita mengalami transformasi (perubahan) diri. Proses transformasi memang harus berjalan dalam sikap penyerahan diri dalam ketidakberdayaan yang aktif. Dalam hal ini, kita mengerahkan seluruh energi terdalam (inner life) untuk selalu mengikuti gerak masa muda kita kepada Bapa. Dan janganlah dilupakan bahwa dalam menempuh sikap penyerahan diri tersebut kita senantiasa tak lepas dari “kematian”. Namun, “kematian” pula tak perlu dianggap sebagai kesudahan, sebab masih ada kelanjutan bagi kita, yakni kehidupan, masa muda itu sendiri, yang sudah ditransformasi. Maka kerendahan hati untuk memahami semuanya ini, perlu kita lakukan. Seperti dikatakan Bruder Roger, pendiri Komunitas Ekumenis Taize-Perancis, “Jika di dalam kamu terdapat kerendahan hati untuk mencintai Allah, biarkanlah itu dicukupkan bagimu. Kerendahan hati adalah awal beriman, awal sebuah persekutuan dengan Allah. Apabila kamu merasakan sebuah kehadiran, tetapi jika perasaan itu tidak muncul, janganlah terlalu khawatir. Selalu ada waktu di dalam hidup ketika kehadiran Allah hilang begitu saja; tetapi Allah sebetulnya ada di situ, bahkan ketika kita tidak merasakan-Nya. Kehadiran Allah, Kristus, dan Roh Kudus adalah selamanya. Itu selalu ditawarkan bagi kita.” *) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Teologi UKDW, Yogyakarta
Sumber: Majalah Bahana, Mei 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||