08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Menghargai Kemampuan DiriBy: Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha | Tips | 02 April 2010, 12:55:44 | Dibaca: 2295 kali Orang yang puas dengan dirinya akan menghargai kapasitasnya. Dia membangun motivasi internal untuk mendisiplin diri, mengembangkan kemampuan dan memelihara kesehatannya. Salah satu proyek penting yang harus diselesaikan Josephus sebelum ujian akhir SMA adalah mengumpulkan 150 points untuk Creativity, Action, and Service (CAS). Artinya, selama dia mengikuti program International Baccalaureat (IB) dia melakukan tugas sosial seperti membantu guru atau mengunjungi panti lansia (Service), mengembangkan potensi diri misalnya olahraga (Action), dan belajar hal-hal di luar materi akademik (Creativity), masing-masing items selama 100 jam (dalam tempo dua tahun). Tugas ini tidak diberi nilai (dalam bentuk angka maupun huruf), hanya sertifikat dengan keterangan: complete atau incompleted (diselesaikan atau tidak). Itu saja. Tulisan incompleted bisa membuatnya tidak mendapat ijazah IB. Awalnya kami agak bingung melaksanakannya karena berbeda dengan kurikulum nasional yang selama ini dia jalani. Tetapi lama kelamaan kami mengerti dan menolong Josephus untuk melakukannya, termasuk mengawasi point-nya. Seminggu menjelang batas akhir (due date) yang ditentukan, Josephus kekurangan 7 jam untukCreativity. Padahal, katanya, kalau jam-jam latihan choir, belajar drum, atau les menggambar yang dilakoninya selama ini diperhitungkan, point CAS-nya sudah lebih 200. Masalahnya, Jo tidak melihat itu sebagai bagian yang perlu dihargai, sehingga dia tidak memasukkan itu dalam CAS. Dia merasa biasa saja kalau mesti les ini-itu, tidak melihatnya sebagai kesempatan mengembangkan diri. Salah satu hal dalam diri anak yang perlu kita latih adalah menghargai kemampuan dirinya. Ini adalah bentuk harga diri akademik yang sangat mempengaruhikecerdasan sosial mereka. Anak-anak perlu mengenali berbagai talenta mereka, kemudian orangtua mengarahkan mereka untuk mengembangkannya. Tujuan Hidup Ini pertanyaan yang penting disampaikan pada mereka. Walaupun mungkin cita-cita anak kita berubah setiap saat, tidak masalah. Makin bertambahnya usia, kita dapat mengajak mereka diskusi, mengapa memilih itu sebagai cita-cita. Memasuki dunia remaja anak bisa diajak memikirkan tujuan hidup mereka. Yang dimaksud bukanlah cita-cita (dalam arti karir atau pekerjaan yang akan ditekuni), tetapi lebih dalam dari itu: apakah ada bidang hidup yang demikian mereka sukai sehingga dia mau memperjuangkannya sekuat tenaga, tanpa dibayar sekalipun! Kami memberi contoh pada Josephus dan Moze mengenai tujuan hidup dengan menyampaikan visi kami di bidang konseling. Awalnya kami tidak tahu mau dibawa ke mana oleh visi ini. Kami hanya melihat bahwa ada bagian yang penting dalam pelayanan kemasyarakatan yang belum banyak dikerjakan, yaitu konseling. Ladang ini nampak bertambah luas mengingat banyaknya orang yang membutuhkan pelayanan ini. Keluarga-keluarga bingung bagaimana membangun komunikasi dan relasi dengan pasangan dan anak-anak. Ketidakmampuan ini menimbulkan korban, anak-anak yang kehilangan orangtua di rumah mereka sendiri. Seolah-olah tidak ada jalan keluar, termasuk lewat gereja dan pelayanan rohani. Setelah menekuni pelayanan konseling selama beberapa waktu, kami mulai melihat bahwa bidang ini dapat menjadi saluran anugerah Allah bagi keluarga, gereja, dan masyarakat. Kami mengajak anak-anak melihat bagaimana Tuhan menolong kami lewat pelayanan konseling. Kami memberi tahu Josephus dan Moze untuk mengabdikan diri dalam bidang yang dibutuhkan orang banyak namun sedikit orang yang memberi perhatian. Kami tidak tahu ujung visi konseling kami nantinya. Yang ingin kami tanamkan pada anak-anak adalah hidup itu demikian berharga sehingga perlu dipikirkan bagaimana mengisinya dengan tujuan yang benar, yang diperkenan Allah. Setiap malam, sebelum tidur, kita perlu memikirkan apakah kegiatan kita hari itu mendukung tujuan hidup atau tidak. Kalau memungkinkan, diskusikan itu dengan anak sebagai cerita sebelum tidur. Saya melakukannya dengan Moze beberapa tahun lamanya, ketika dia di SD kelas 3 sampai 6. Hampir setiap malam kami membicarakan hal-hal yang kami capai pada hari itu. Program Hidup Seorang teman saya menyusun program keluarganya ketika ketiga putra-putrinya masih SD, yang terkecil berusia 5 tahun. Salah satu yang direncanakan adalah menyekolahkan anak-anak ke Australia. Untuk itu, setiap anggota keluarga berusaha keras; mulai dari menabung, belajar bahasa, menyiapkan diri dengan ketrampilan praktis sehari-hari, dan seterusnya. Setiap hal yang dikerjakan, dilakukan dengan orientasi masa depan, “Aku mau belajar masak, supaya kalau tinggal di apartemen nanti …” Ketika satu per satu anak-anaknya lulus dari sekolah menengah di Indonesia, kemudian berangkat ke Australia, mereka melihat itu sebagai hasil disiplin dan kerja keras mereka sebagai keluarga. Saya bertemu teman ini di suatu retreat. Dia menceriterakan bagaimana visi masa depan menggerakkan keluarganya. Disiplin dalam pengembangan diri Anak-anak di usia remaja tengah (16-18 tahun) perlu diajak memikirkan hal-hal yang dapat dilakukan agar talenta mereka lebih berkembang. Kalau selama ini mereka les piano sekedar untuk tahu atau agar bisa main musik di gereja, sekarang saatnya mereka menentukan kesempatan lain yang berkaitan dengan ketrampilan itu. Atau kalau nantinya dia ingin bekerja di jalur sosial-politik, dia bisa berlatih berorganisasi untuk meningkatkan pergaulannya. Disiplin dan kemauan adalah hal yang perlu untuk ini. Rasa puas terhadap diri sendiri mendorong remaja menghargai prestasi yang sudah dicapainya. Anak-anak juga membutuhkan kata-kata dari orangtua sebagai konfirmasi. Semua hal baik dan positif yang mereka kerjalan sebagai bagian dari pengembangan diri, perlu apresiasi. Apalagi jika kita tahu mereka membutuhkan usaha untuk menyelesaikannya. Pujilah mereka di mana perlu sambil menekankan betapa kita menghargai kerja keras mereka.
Sumber: Majalah Bahana, Maret 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||