08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
JIKA KEINDAHAN TANPA PANGGUNGBy: Abednego Afriadi | Apresiasi | 27 Maret 2010, 08:34:56 | Dibaca: 1518 kali Panggung seni tak harus eksklusif. Ruang publik, dan lingkungan pun bisa jadi tempat interaksi antara seni dengan masyarakat. Jemek Supardi pun kerap kali demikian. Bahkan di tempat yang tak sewajarnya untuk pentas. Pesan apa yang disampaikan tokoh pantomim Indonesia ini? Mari kita simak! Separo rambutnya gundul. Putih warna make-up menutup lingkaran mukanya tanpa gradasi. Hanya menyisakan bagian mulut, dan mata. Celana kodok, kaos dalam motif lorek pun dikenakannya, seiring dengan gerakan-gerakan imajiner yang atraktif, estetis, bahkan terkadang memancing penonton untuk tertawa terpingkal-pingkal. Setiap cerita, setiap tema dikembangkan melalui gerak tubuh dan ekspresi wajah. Adalah Jemek Supardi ketika menyajikan pantomim. Ekspresi wajah, dan gesture-nya mengisyaratkan suatu adegan, peristiwa, dan cerita tanpa sekecap pun dialog. Namun, seniman ini mulai mengeksplorasi ruang berekspresi yang tidak selalu berada di atas panggung. Seperti, pinggir jalan, tempat pembuangan sampah, serta sungai. “Khusus untuk garapan sampah nanti saya mempunyai tafsir sendiri tentang sampah, selain pesan ajakan untuk melestarkan lingkungan. Yah, ini hanya sekadar refresh aja. Saya pengen panggung out door sehingga bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat.” PANTOMIM UNTUK SEMUA Selama proses sebelum menggelar reportoar, Jemek melakukan penggalian ide, lantas menyatukannya dengan ruang dan gerak. Namun, tidak lupa plot-plot, outline yang sudah siap menjadi keutuhan cerita. “Saya harus mencari terus, saya harus latihan terus. Saya jadi lebih bebas, lagi pula saya kan selalu bermain tunggal,” kata penggemar Rowan Atkinson ini. Meskipun demikian Jemek mengaku merasakan titik jenuh kalau berlama-lama serius. “Maka saya buat jeglongan atau mencairkan garapan tanpa harus terjebak ke hal-hal yang vulgar. Seperti adegan buang air kecil yang menghadap penonton, tapi dengan ekspresi malu-malu, saya balik arah pelan-pelan. Nah, seperti itu penonton jadi tertawa,” katanya kepada Bahana di rumahnya di sebelah Warung Sate Tambak Segaran Jl Brigjen Katamso 194 Yogyakarta. Apapun bentuk penyajian, saya tidak main-main. Saya buat karya harus maksimal, katanya lagi. Dunia seni pantomim bagi Jemek Supardi merupakan rahmat Tuhan. “Saya dapat menemukan kembali kesadaran saya sebagai manusia normal yang harus bermasyarakat.” Baginya pekerjaan seperti ini membutuhkan keyakinan kuat meskipun tidak menjanjikan kecukupan finansial. Begitu juga ketika dia melayani pementasan di panti asuhan, atau gereja. “Itu semua adalah pilihan, dan saya tidak menjadikan kesenian ini sebagai satu-satunya mata pencaharian. Saya kerja serabutan, seperti jualan akik, terkadang jadi makelar peti mati, kalau kebetulan saya pas nongkrong.” Bapak Kinanti Sekar Rahina, dan suami Reda Mariyanti ini tak mau banting stir dari dunia seni. “Usia saya kepalang tanggung kalau banting stir. Lha umur saya sudah setengah abad kok.” 20 tahun bergelut di pantomim, Jemek telah mengusung beberapa pementasan. Seperti Lingkar-lingkar, Dokter Bedah, Tukang Cukur, Halusinasi Seorang Pelukis, Jangan Pilih Aku, Dokter Bedah, Perahu Nabi Nuh, Air, Sedia Payung Sesudah Hujan, Adam dan Hawa, Balada Tukang Becak, Halusinasi, Stasiun, dan Wamil, Menanti di Stasiun, Sekata Katkus du Fulus, Se Tong Se Teng Gak, Kesaksian Udin, Pak Jemek Pamit Pensiun, Badut-badut republik atau Badut-badut Politik, Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi, Pantomim Yogya-Jakarta di Kereta, 1000 Cermin Pak Jemek (2001), dan Menunggu (Kabar) Kematian.
Sumber: Majalah Bahana, Maret 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||