By: Jaclyn Litaay | Artikel | 05 Maret 2010, 13:40:33 | Dibaca: 259 kali
Suatu Minggu pagi di bulan November 2009 lalu, saya menghadiri kebaktian di sebuah gereja yang terletak di pusat kota Jakarta. Gedungnya lebih tinggi dari pusat perbelanjaan di sebelahnya. Saya sangat berharap mendapat suntikan multivitamin rohani Minggu itu. Dua Minggu sebelumnya saya tak bisa ke gereja. Tapi, Minggu itu saya butuh bertumbuh secara korporat maka khotbah pagi itu menjadi konsen utamaku. Saya disambut dengan hangat dan mendapat isi khotbah yang benar-benar saya butuhkan. Sampai di situ saya cukup puas. Namun, respons saya sedikit berubah saat sebelum ibadah selesai, pengumuman disampaikan.
Seorang petugas, sekaligus pelayan gereja mengumumkan akan ada perayaan Natal gereja tersebut pada tanggal yang telah ditentukan di bulan Desember 2009. Katanya, ia berdoa dan Tuhan berbicara untuk membuat Natal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Natal kali ini harus bermakna. “Untuk Natal kali ini, kita tidak butuh dana banyak”, sambil tersenyum kecil ia menyebut,”Dananya hanya 60 juta rupiah. Hanya 60 juta rupiah.” Saat ia mengatakan hal itu, spontan saya dan dua saudara yang datang bersama saya saling memandang kaget dan bersamaan kami saling berucap, “Enampuluh juta itu banyak! Kok bisa bilang ‘hanya’?”. Selanjutnya pelayan yang menyampaikan pengumuman itu masih berbicara begini, “Gereja-gereja denominasi kita yang kaya-kaya di Jakarta merayakan Natal dengan mewah. Mereka butuh dana lebih besar. Kita tidak usah seperti mereka. Kita cuma butuh 60 juta rupiah untuk acara Natal kali ini.”
BANYAK YANG MEMBUTUHKAN Glekk!! Tiba-tiba saya nyaris lupa dengan semua isi khotbah yang mengenyangkan saya tadi. Kok begini ending-nya? Saya lalu teringat pada SMS seorang teman yang berbunyi begini: “Mbak, saya bisa minta tolong, nggak? Saya butuh buku-buku pelajaran, krayon, puzzle, pensil, dan tas untuk anak-anak pedalaman Kalbar yang tidak bisa sekolah. Kasihan Mbak. Mereka juga jarang pakai baju. Mereka suka main tanah, ingusnya meleleh. Tidak terawatlah. Saya bisa dikirimi 50 ribu nggak? Soalnya saya butuh beli supermi dan sarden juga untuk makan.” Tidak hanya itu pikiran saya juga melayang ke kehidupan kampung kumuh di bantaran Bendungan Dempet yang tidak jauh dari tempat tinggal saya. Setiap kali lewat situ, saya harus latihan tahan napas karena bau air yang menguar dari selokan besar yang disebut sebagai bendungan itu sudah bercampur dengan sampah dan limbah rumah tangga dan pasar. Sepanjang bendungan itu mata saya bisa menangkap jejeran rumah petak yang luas, kamarnya 2x3 m² dengan tumpukan perabotan yang tidak kalah kumuh dan jemuran pakaian basah yang digantung di balkon-balkon mereka yang menghadap ke bendungan.
JANGAN EGOIS Bagaimana mungkin gereja yang mampu beribadah minimal dua kali di gedung bertingkat di pusat kota Jakarta dan berencana merayakan Natal dengan biaya ‘hanya’ 60 juta bahkan gereja-gereja berdenominasi sama di Jakarta mampu merayakan Natal secara mewah, sementara di pelosok rimba sana, ada seorang pelayan Tuhan lain yang kesulitan melayani di tengah anak-anak pedalaman yang tak melek baca, tidak sehat, dan serba kekurangan? Pada hari yang sama saya juga mengetahui kalau gereja ini sedang mendatangkan seorang hamba Tuhan internasional yang acaranya akan diselenggarakan di Hotel Ritz-Carlton. Saya dilarang meliput acara tersebut dan ketika diminta informasi nomor kontak orang yang bisa saya hubungi agar dapat mewawancarai hamba Tuhan terkenal itu, saya dibuat berputar-putar oleh panitianya.
Saya jadi berpikir lagi, ada orang mau memberitakan Kabar Baik dari balik mimbar gereja kepada semua orang lain di luar sana yang butuh makanan rohani kok gereja malah menutup pintu? Saya jadi heran, resah, dan gelisah dengan situasi ini. Gereja–yang saya yakin tidak hanya gereja yang saya datangi itu–seperti orang autis yang sibuk dengan dunianya sendiri. Apa iya Yesus terlalu nyaman dengan segala urusan di surga sana dan enggan menginjakkan kaki di dunia kita? Kok kita malah mikir diri sendiri sih?
Kisah Kasih di Wonogiri Jejak-jejak Kesembuhan di Hari Jadi Wonogiri ke-269
Langit di Kabupaten Wonogiri sedang tak bersahabat. Mendung, hujan, ... Selengkapnya
Remaja & Pacaran Wajarkah jika remaja Anda mulai melirik lawan jenisnya? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Sebagian orangtua ... Selengkapnya
•
Mempersulit Tuhan? “Tetapi kata Musa: “Bangsa yang ada bersama aku ini berjumlah enam ratus ribu orang berjalan ... Selengkapnya
•
Jangan Terperdaya Rancangan orang benar adalah adil, tujuan orang fasik memperdaya (Ams. 12:5)
Seorang teman dengan penuh semangat ... Selengkapnya
•
Menghargai Kemampuan Diri Orang yang puas dengan dirinya akan menghargai kapasitasnya. Dia membangun motivasi internal untuk mendisiplin diri, ... Selengkapnya
Berjalan dalam Waktu Tuhan Ester Setiawan (43), adalah seorang staf administrasi keuangan di salah satu perusahan kontraktor di Jakarta. ... Selengkapnya
Kristen Popeye Mazmur 119:97-105Popeye The Sailor Man adalah nama serial kartun yang cukup terkenal di kalangan anak-anak. ... Selengkapnya
•
Bejana yang Diremukkan Yeremia 18:1-7Setelah berkhotbah di hadapan ratusan orang, Hokkie diminta berkhotbah di hadapan tidak lebih dari ... Selengkapnya
•
Awasilah Pikiranmu Bacaan: Filipi 4:2-9 Sebuah sistem elektronik baru untuk fungsi sensor bernama ClearPlay kini mulai diterapkan ... Selengkapnya
•
Dua Kunci Sukses Bacaan: Amsal 24:1-7Hoka-Hoka Bento, J.CO Donuts & Coffe, Lea, dan Byon adalah beberapa merk asli ... Selengkapnya
•
Everything Is Possible Bacaan: Matius 19:16-26Percayakah Anda bahwa suatu saat kelak manusia akan dapat terbang? Inilah pertanyaan yang ... Selengkapnya
•
Menghadapi Jalan Buntu Bacaan: Mazmur 25:14-22Sewaktu kecil saya sering bersepeda mengelilingi kompleks tempat tinggal saya. Meski terkadang melelahkan, ... Selengkapnya
•
Adakah Tuhan? Bacaan: Keluaran 17:1-7Sebuah situs radio internasional menyebutkan, menurut hasil penelitian yang melibatkan Vrije Universiteit di ... Selengkapnya
•
Gagal Itu Biasa Bacaan: Hakim-hakim 16:23-31Berbicara mengenai kegagalan, kita pasti tidak mau mengalaminya, tetapi harus mengalaminya jika ingin ... Selengkapnya
Ateisme Masih Menjadi Masalah Jakarta, BahanaAteisme masih merupakan masalah. Sebagai cabang aliran ini masih terus bertumbuh dan mengambangkan sayap. ... Selengkapnya
•
Yulia dan Kawan-kawannya Jakarta, Bahana
“Di akhir 2009, saya sedang mendengarkan lagu-lagu rohani. Saat itulah muncul kerinduan saya untuk ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
>Ketik REG <spasi> REMA Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke:
5454 (Telkomsel),
7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti:
UNREG <spasi> REMA atau REPA
atau SIANG
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN