08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Makna Kekudusan Bagi Mereka (2)By: Rob/Zega/Luci | Artis dan Tokoh | 15 Februari 2010, 12:31:22 | Dibaca: 1967 kali Weyni Marcylia Moniaga (20), Mahasiswi-Jakarta Kendala terbesar adalah pergaulan anak muda yang makin modern dan mendorong kita tergiur mengikuti tren. Pengaruh lingkungan yang negatif akan mempengaruhi karakter. Penting diperhatikan adanya kerja sama antar keluarga untuk mengikis ketidakpercayaan, emosional, kurang mampu mengendalikan diri, ingin cepat menyelesaikan masalah tanpa melihat dari berbagai sisi, serta dukungan keluarga. Pdt. Onekhesi Zega, M.Th (38), Rohaniwan—Medan Ketika orang Kristen sudah diampuni, maka ia tidak boleh mencemarkan diri dengan rupa-rupa gaya hidup duniawi: keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:16). Hidup kudus adalah perintah Allah. “Sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:16). Agar tetap kudus hindarilah setiap godaan. Keinginan daging merupakan kendala utama untuk mempertahankan hidup kudus Robert Adil Nugroho. (20), Mahasiswa-Klaten Terkadang dalam hati pasti banyak pertentangan, antara menolak atau menuruti godaan itu. Benar kata firman Tuhan “….: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat. 26:41b). Cara yang paling ampuh adalah bertekun dalam doa, melakukan kegiatan dan berpikiran yang positif. Hidup kudus tidak mustahil saat kita mengenal Yesus lebih dekat. Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010 [Kembali] By: Ivendris Lodju (20) Mahasiswa Teologi | 06 Maret 2010 | 12:13:34 Hidup kudus haruslah tetap di junjung tinggi sebagai bentuk ucapan syukur kita kepada Tuhan Yesus atas pengorbanan-Nya di kayu salib. Orang yang menjunjung tinggi akan kekudusan berarti dia menghargai anugerah Tuhan... Karena Tuhan mengatakan kuduslah kamu sebab Aku kudus... By: Kasieli Zebua | 21 September 2010 | 13:54:29 Hidup kudus bukanlah pilihan tapi keharusan karena Allah sendiri yang memerintahkan supaya kita kudus sebab Ia kudus (1Pet. 1:16). Seringkali manusia berdalih bahwa tidak mungkin kita kudus seperti Allah. Tapi pertanyaannya, apakah Allah memberi standart yang mungkin tidak dapat kita capai? Dalam kitab nabi Yesaya menggambarkan kekudusan Allah yang luar biasa dalam Yesaya 6: 3. Allah membuat kekudusan-Nya diketahui sehingga kita pun dapat dibuat kudus. Pengudusan adalah tindakan membuat seseorang, tempat, atau benda menjadi kudus. Orang, tempat, dan benda dipisahkan dari kegunaan dan tujuan mereka sebelumnya untuk kegunaan dan rencana yang lain menurut kehendak Allah. Panggilan Nabi Yesaya barangkali salah satu contoh terbaik untuk memahami kekudusan Allah dan bagaimana Allah menguduskan seseorang untuk tujuan dan tugas pelayanan bagi-Nya. Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu pun penuhlah dengan asap. Lalu kataku: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan sipakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku! (Yes. 6:1-8) Perkataan Yesaya sangat dramatik. Tuhan diungkapkannya sebagai yang “tinggi dan agung.” Alas ambang pintu bergoyang dan rumah itu pun dipenuhi asap. Bahasa dalam pasal ini mencerminkan sikap kemahakuasaan dan kedaulatan Allah dan kemegahan, kuasa, dan keterpisahan-Nya dari yang biasa dan kotor. Kehebatan penglihatan tersebut ditingkatkan dengan penggambaran Serafim yang melayang di sekitar tahta menyerukan, kudus, kudus, kuduslah TUHAN. Pemakaian kata kudus sampai tiga kali adalah cara Alkitab menunjukkan kekudusan tertinggi. Tidak ada yang kudus seperti Tuhan. Tak heran Yesaya menyerukan “celakalah aku” dan “aku binasa.” Yesaya menyadari ketidaklayakkannya dan ketidaklayakkan orang-orang generasinya. Namun, sebagaimana kita lihat, Allah bertindak untuk menguduskan, memisahkan, dan membuat kudus. Salah seorang Serafim terbang mendapatkan Yesaya, mengambil bara dari atas mezbah, dan menyentuh bibirnya dengan bara itu. Dengan tindakan ini, Yesaya disucikan. Ia dipisahkan dari dosanya. Sebenarnya, Serafim tersebut berkata, “Kesalahanmu telah dihapuskan dan dosamu telah diampuni.” Namun, seperti kita baca dalam pasal tersebut, Allah yang kudus tidak hanya bertindak untuk memisahkan Yesaya dari dosanya, tetapi juga menyiapkan Yesaya untuk rencana-Nya. Yesaya dipisahkan dengan tujuan agar menyampaikan pesan kekudusan kepada bangsanya. Seperti halnya Yesaya disucikan oleh Allah yang kudus, begitu pula bangsa Israel harus disucikan. Seorang sarjana berkata, “Israel dan Yehuda tidak akan sanggup mengalami kebaikan hati Tuhan sebelum mereka disucikan dan dikuduskan; sesudah itu barulah mereka dapat mengalami hadirat Allah Israel yang Kudus,” Berilah diri dikuduskan oleh Tuhan, dan hiduplah dalam kekudusan itu. Semoga Tuhan Yesus Kristus menolong kita semua, Amin! Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||