By: Jaclyn Litaay | Artikel | 15 Februari 2010, 11:30:24 | Dibaca: 586 kali
Kemiskinan terbesar manusia bukanlah soal harta, tapi karena diabaikan oleh sekelilingnya. (Mother Theresa)
Beberapa bulan belakangan, media massa dipenuhi beragam berita tentang bunuh diri. Pernahkah saudara menonton sebuah acara reality show dengan judul yang sama dengan tulisan ini? Pasangan suami istri saling membeberkan perasaan, harapan, dan ketikdakpuasan di ruangan publik. Seluruh orang di Indonesia menontonnya. Benang merah yang bisa saya tarik dari maraknya kasus bunuh diri dan makin banyaknya orang membeberkan masalah keluarga di muka umum yakni banyak orang diabaikan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Theresa muda bukanlah orang yang kekurangan kasih sayang dalam keluarga. Namun, ketika ia keluar dari kenyamanan itu, ia menyaksikan banyak pengemis dan gelandangan yang hidup di jalan-jalan Calcutta, India. Mereka kekurangan perhatian dari orang-orang yang semestinya memberikannya. Berbekal kasih dari keluarga dan kasih kepada dan dari Tuhan, Theresa rela meninggalkan zona nyaman demi membagikan kasihnya kepada mereka.
MENGASIHI DIRI VS MENGASIHANI DIRI Tengoklah kalimat berikut, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ada berapa banyak yang dapat memahami makna lain di balik ayat tersebut? Mungkin maknanya jadi terselubung untuk sebagian orang. Namun, beginilah hal yang saya dapatkan bahwa sebelum kita mengasihi sesama, kita harus mampu mengasihi diri kita terlebih dahulu. Namun, sebagaimana ditulis Alkitab di Akhir Zaman, kasih akan menjadi semakin dingin. Orang akan cenderung peduli dengan dirinya daripada memperhatikan sesama. Apa itu gejala narsis? Narsis berbeda pula dengan mementingkan diri sendiri. Narsis itu perlu sejauh dilakukan dengan maksud-maksud yang baik.
Misalnya begini. Kita ingin makan enak yang berkolesterol tinggi padahal tubuh kita sudah terlalu banyak asupan kolesterol dan dokter menyarankan untuk mengatur pola makan atau diet kolesterol. Bahkan dalam kadar tertentu kita sama sekali tak boleh menyentuh makanan berkolesterol tinggi. Jika kita tidak bisa menahan diri untuk menyenangkan lidah dan memuaskan keinginan untuk makan enak, maka kita tidak sayang pada diri sendiri. Sebaliknya karena sayang pada diri sendiri, kita perlu menahan diri terhadap hal-hal enak yang menyenangkan tapi hanya sementara.
Jika kita tidak memikirkan akibat yang mungkin terjadi, artinya kita bukan hanya narsis (yang negatif) tapi juga bodoh. Itu hanya contoh sepele bagaimana kita perlu mengasihi diri sendiri–dan bukannya mengasihani diri sendiri–sebelum kita mengasihi orang lain.
Ukuran mengasihi diri sendiri sebagaimana tertulis dalam Matius 22:39 di atas kiranya dapat dipahami dengan benar. Seseorang tidak mungkin berkata, “Ayam goreng asam manis itu enak lo..” kalau ia belum pernah makan ayam goreng asam manis yang enak. Begitupun mengasihi. Orang tidak akan mungkin bisa memberi perhatian yang tulus dan tanpa mengharapkan balasan jika sebelumnya ia tidak pernah merasakan perhatian yang luar biasa melalui orang lain. Kobaran kasih dalam diri kitalah yang akan menggerakkan hati kita untuk membagikannya kepada yang lain. Ini sesuatu yang umum. Jika orang penuh cinta ia tidak akan menahan diri untuk menunjukkannya melalui kata-kata dan perbuatan.
MODUS BUNUH DIRI Lalu bagaimana dengan mereka yang bunuh diri? Dalam sepekan di Desember 2009, setidaknya ada lima kasus bunuh diri yang terjadi. Modusnya pun sama, melompat dari ketinggian di tempat-tempat umum. Ice Juniar(30/11), Reno Fadillan Hakim(30/11), Richard Zulkarnaen(4/12), DO(11/12), Yani(15/12) dan Linda Sari(15/12) adalah orang-orang yang mungkin kehilangan kasih yang mereka harapkan. Perhatian dan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan lingkungan. Kalau mereka diperhatikan sungguh-sungguh oleh orang-orang di sekeliling mereka mana mungkin mereka mau meninggalkan kenyamanan dikasihi sedemikian indahnya. Dulu, jika orang hendak bunuh diri, mereka akan mencari tempat sepi atau sulit terjangkau, menunggu orang lain tidak ada, lalu masuk kamar, mengunci pintu kemudian aksi itu dilakukan. Sekarang, modusnya terbalik. Lima korban di atas melakukannya di depan umum agar semua orang melihat dan mengetahui. Motifnya apa? Entahlah. Mungkin untuk mencari perhatian dari orang-orang sekelilingnya. Begitupun dengan acara “Masihkah Kau Mencintaiku?”, para pasangan dan keluarganya berharap ada perhatian dari para psikolog, media, dan publik bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dan mereka membutuhkan pertolongan. Mungkin mereka tertolong dengan acara itu, mungkin juga tidak. Untuk mereka yang terlanjur bunuh diri, kesadaran dan pertolongan dari orang-orang yang dibutuhkan terlambat datangnya. Badan sudah menjadi ‘bubur’, bukan nasi lagi yang menjadi bubur.
Di kota besar, padat, dan ramai seperti Jakarta banyak orang yang merasakan kesepian. Jangankan di Jakarta, di pucuk gunung di Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta sana juga banyak kasus bunuh diri terjadi. Itu bukti kalau banyak orang diabaikan oleh orang-orang sekelilingnya sehingga keputusan bunuh diri itu diambil. Tentu tidak serta-merta orang sekali tidak diperhatikan langsung bunuh diri, bukan? Pastilah sudah beberapa kali mereka membutuhkan perhatian baik itu SMS, telepon, kunjungan, surat, email atau apapun bentuknya. Karena sudah bertumpuk rasa diabaikan itu, maka terjadilah.
***
Ada yang menerjemahkan kalimat inspirasional Ibu Theresa di atas sebagai berikut :
Perasaan kesepian, diabaikan, dan tidak diinginkan adalah kemiskinan yang paling parah.
Coba lihat sekeliling kita, siapa yang sering kita abaikan? Lihat daftar buku telepon di handphone Anda atau lihat daftar nama orang-orang di akun email Anda. Siapa yang sudah lama tidak mendapat kabar dari Anda? Sudah berapa lama kita sibuk mengurusi hidup kita sendiri dan mengabaikan orang-orang di sekeliling kita? Jangan terlambat.
Ya memang bener sih sering kali qta gakmemperhatikan dan tdk hanya tidak memperhatikan bahkan qta juga gak sadar, bahwa qta hidup di dunia ini gak sendirian. Ada sesama qta yg tdk hanya hidup berkecukupan, tp juga ada sesama qta yg butuh kasih Tuhan n uluran tangan qta, sampai ada lagu yg liriknya seperti ini" O betapa indahnya hidup qta jalani, tiada wkt terlewat tanpa bahagia. Mari lihat keluar, terkadang qta lupa, qta tak sendiri menikmati indahnya hidup yg dibierikan o/ sang pencipta. Bagaimana dgn mereka yg menjerit karna lapar dan hidup dari belas kasihan orang s'perti qta Bagaimana dgn mereka yg tak punya apa2, apa yg t'lah qta buat karna qta diciptakan u/ berbagi hidup dgn mereka.
By: uli | 18 Februari 2010 | 12:20:40
saya senang bangat membaca artikel ini, mengingatkan saya supaya tidak cuek terhadap orang di sekitar saya.dan peduli terhadap keluarga, teman, orang lain.thax
Kisah Kasih di Wonogiri Jejak-jejak Kesembuhan di Hari Jadi Wonogiri ke-269
Langit di Kabupaten Wonogiri sedang tak bersahabat. Mendung, hujan, ... Selengkapnya
Remaja & Pacaran Wajarkah jika remaja Anda mulai melirik lawan jenisnya? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Sebagian orangtua ... Selengkapnya
•
Mempersulit Tuhan? “Tetapi kata Musa: “Bangsa yang ada bersama aku ini berjumlah enam ratus ribu orang berjalan ... Selengkapnya
•
Jangan Terperdaya Rancangan orang benar adalah adil, tujuan orang fasik memperdaya (Ams. 12:5)
Seorang teman dengan penuh semangat ... Selengkapnya
•
Menghargai Kemampuan Diri Orang yang puas dengan dirinya akan menghargai kapasitasnya. Dia membangun motivasi internal untuk mendisiplin diri, ... Selengkapnya
Berjalan dalam Waktu Tuhan Ester Setiawan (43), adalah seorang staf administrasi keuangan di salah satu perusahan kontraktor di Jakarta. ... Selengkapnya
Kristen Popeye Mazmur 119:97-105Popeye The Sailor Man adalah nama serial kartun yang cukup terkenal di kalangan anak-anak. ... Selengkapnya
•
Bejana yang Diremukkan Yeremia 18:1-7Setelah berkhotbah di hadapan ratusan orang, Hokkie diminta berkhotbah di hadapan tidak lebih dari ... Selengkapnya
•
Awasilah Pikiranmu Bacaan: Filipi 4:2-9 Sebuah sistem elektronik baru untuk fungsi sensor bernama ClearPlay kini mulai diterapkan ... Selengkapnya
•
Dua Kunci Sukses Bacaan: Amsal 24:1-7Hoka-Hoka Bento, J.CO Donuts & Coffe, Lea, dan Byon adalah beberapa merk asli ... Selengkapnya
•
Everything Is Possible Bacaan: Matius 19:16-26Percayakah Anda bahwa suatu saat kelak manusia akan dapat terbang? Inilah pertanyaan yang ... Selengkapnya
•
Menghadapi Jalan Buntu Bacaan: Mazmur 25:14-22Sewaktu kecil saya sering bersepeda mengelilingi kompleks tempat tinggal saya. Meski terkadang melelahkan, ... Selengkapnya
•
Adakah Tuhan? Bacaan: Keluaran 17:1-7Sebuah situs radio internasional menyebutkan, menurut hasil penelitian yang melibatkan Vrije Universiteit di ... Selengkapnya
•
Gagal Itu Biasa Bacaan: Hakim-hakim 16:23-31Berbicara mengenai kegagalan, kita pasti tidak mau mengalaminya, tetapi harus mengalaminya jika ingin ... Selengkapnya
Ateisme Masih Menjadi Masalah Jakarta, BahanaAteisme masih merupakan masalah. Sebagai cabang aliran ini masih terus bertumbuh dan mengambangkan sayap. ... Selengkapnya
•
Yulia dan Kawan-kawannya Jakarta, Bahana
“Di akhir 2009, saya sedang mendengarkan lagu-lagu rohani. Saat itulah muncul kerinduan saya untuk ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
>Ketik REG <spasi> REMA Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke:
5454 (Telkomsel),
7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti:
UNREG <spasi> REMA atau REPA
atau SIANG
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN