08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Bias-bias Cahaya di Hutan KubuBy: Toni | Misi Gereja | 11 Februari 2010, 10:04:51 | Dibaca: 1743 kali Melayani anak-anak berdampak bagi Kerajaan Allah. Gereja kiranya menggarapnya dengan serius. Bagaimana dengan gereja Anda? Aku segera melompat turun sesegera sampan kayu merapat di satu pemukiman Orang Kubu di tepi sungai. Sore itu cukup cerah sehingga bias-bias cahaya matahari dari celah-celah pohon masih hinggap di permukaan sungai, memantulkan kembali warna-warni jingga cakrawala. Anak-anak bertelanjang badan yang sedang asyik mandi, segera mengiringi menuju hunian mereka. Tempat ini bernama Tanjung Harapan, di tepi aliran Sungai Rupit, pedalaman Rimba Rupit, Sumatera Selatan. Sampai ke sini perlu waktu satu jam dengan perahu motor. Di pemukiman berdiri SD Tanjung Harapan, bangunannya berdinding papan dan cuma punya satu ruang kelas. Ini adalah sekolah bagi anak-anak Suku Anak Dalam, atau yang dikenal dengan Suku Kubu. Di antara ilalang yang tumbuh hampir setinggi orang dewasa, tampak seorang perempuan muda berkulit cokelat, ia melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Ia adalah Leorince, guru SD yang sudah mengajar lima tahun di sini ketika kami datang. Rince, sapaan akrab ibu guru, membawa kami ke rumah dinasnya. Rumah kecil sederhana berdinding papan, dengan lantai semen bercampur tanah. Ia bilang kalau malam harus hati-hati, karena ular dan binatang lain suka masuk ke dalam rumah. Rince mulai berkisah ikhwal kedatangannya di Tanjung Harapan. Saat itu Februari 1998, lulusan Diploma Pendidikan Guru SD PESAT ini tiba di sini. Ia mendapati sekelompok besar keluarga-keluarga Kubu, yang tinggal di rumah-rumah sangat sederhana. Kondisi mereka sangat tidak baik. “Mereka tidak peduli dengan kesehatan tubuh, kuku tangan dan rambut mereka sangat kotor, begitu pula pakaiannya, dan jangan tanya soal baca tulis,” cerita Leorince. Bahkan waktu itu hukum rimba masih berlaku di sini. Tahun pertama di Suku Kubu adalah masa yang sulit. Tidak mudah untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan orangtua maupun anak-anak mereka, kisahnya. Namun kerja keras dan pertolongan Tuhan, akhirnya membuahkan hasil. Ketika satu demi satu anak datang ke dalam kelas. Waktu berlalu dan perlahan-lahan mereka mulai paham banyak hal tentang ilmu pengetahuan, membaca, menulis, berhitung, cara hidup yang sehat, dll. “Mereka sangat rajin datang ke sekolah berjalan beriringan dan bangga dengan seragam sekolah yang dipakai, aku pun selalu terharu melihatnya,” ucap Rince. Masalah nampaknya masih tetap ada, dan hal ini menyangkut masalah perut. Ruang kelas akan segera menjadi kosong, tanpa seorang murid pun yang tinggal saat musim buah tiba. Mereka segera pergi untuk memanen buah-buahan hutan, dan itu bisa berminggu-minggu lamanya. “Tapi mereka akan kembali lagi ke sekolah saat musim panen usai,” Rince tersenyum. Namun waktu jualah yang menjawab semuanya. Beberapa anak akhirnya berhasil menamatkan pendidikan SD mereka. “Mereka yang tamat diberikan surat rekomendasi untuk dapat melanjutkan ke SMP,” katanya. Sayangnya hanya beberapa anak saja yang lanjut sekolah, karena SMP-nya berada di kota, dan sangat jauh dari hutan tempat mereka tinggal. Ditinggal Murid Exodus ke Hutan Kurun waktu lima tahun memang telah membuatnya berhasil men-transformasi-kan Orang Kubu. Ia telah membuat anak-anak yang telanjang itu berseragam putih-merah, membuat mereka kenal huruf dan angka, mengakrabkan mereka dengan pensil dan buku, sabun mandi dan pakaian bersih. Tapi toh Leorince tak cukup kuat untuk mengalihkan hati mereka dari hutan, harta abadi mereka. Ia pun ditinggalkan oleh belasan keluarga Kubu serta murid-muridnya. “Hanya beberapa keluarga yang masih bertahan tinggal di sini,” jelas Leorince. Tanjung Harapan adalah satu lokasi program pemerintah untuk “merumahkan” Orang-orang Kubu, agar mereka tak lagi hidup nomaden, lanjutnya. Tapi ini tidak berjalan, mungkin karena tidak dengan pendekatan budaya, sebagian besar mereka kini kembali ke hutan dan terus mengembara. Seperti induk ayam kehilangan anak, Leorince tak tinggal diam. Ia berusaha mencari dan mendapati mereka, yang kini tinggal tersebar di hutan belantara Sumatera. Lalu satu demi satu keluarga muridnya ia datangi sambil mengajar. Beberapa keluarga akhirnya luluh dan tidak berjalan terus ke hutan yang lebih dalam. Di “rumah” baru mereka di hutan para orangtua mengizinkan anaknya, untuk datang ke Tanjung Harapan meski kini harus menyeberangi tiga anak sungai. Anak-anak yang keluarganya memutuskan menetap di hutan, tetap semangat datang ke sekolah, meski kehilangan puluhan teman mereka. Tapi itu hanya bertahan beberapa saat, sebelum akhirnya mereka benar-benar tak pernah datang sekolah lagi. Rince berjalan perlahan ke ruang kelas biasa ia mengajar, sunyi tak bernafas, coretan kapur di papan tulis masih belum dihapus. “Adalah suatu pengalaman yang luar biasa bisa melayani Orang Kubu, ”ucapnya mengakhiri. Semoga bias-bias cahaya yang pernah masuk ke hutan Orang Kubu dapat terus menerangi hidup mereka di pengembaraan… Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||