29 Juli 2010, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kaya atau Miskin, Apa kata Alkitab?By: Pdt. Herodion Pitrakarya Gunawan | Artikel | 09 Februari 2010, 13:41:53 | Dibaca: 585 kali Masih ingat lirik lagu “Andai aku jadi orang kaya”, yang dinyanyikan oleh Oppy Andaresta? Membayangkan punya mobil mewah, rumah mewah, bahkan punya pulau…” andai saja itu aku miliki, tapi nggak usah pakai kerja. Siapa yang tidak mau? Tapi apakah kaya, bahkan kaya raya, tanpa kerja itu menyehatkan jiwa? Pasti tidak! Leo Tolstoy, seorang pengarang Rusia yang terkenal, mengarang sebuah cerita sebagai berikut: Pada suatu hari iblis mencari seseorang yang semula murah hati untuk dijadikan kikir, yang semula berserah akan dijadikan serakah dan cepat marah. Setelah berputar-putar ke sana kemari, akhirnya iblis memilih seorang petani miskin yang pada waktu itu dilihatnya sedang bekerja di ladang. “Nah, petani miskin ini akan kujadikan lebih miskin. Pasti ia akan menjadi kikir dan serakah.” Sebagai langkah pertama, iblis mencuri bekal makanan milik petani itu. Pada waktu makan siang tiba, petani itu mencari-cari bekalnya, dan ia merasa heran. “Aneh, tadi kutaruh di sini. Kok sekarang tidak ada.” Wah, ia pasti akan merasa lapar sepanjang hari itu. Pikir petani itu. Tetapi petani itu berkata di dalam hatinya, “Nggak pa pa, lah. Mungkin yang mencuri membutuhkan makanan itu daripada diriku.” Karuan saja iblis merasa heran melihat reaksi petani itu. Makanannya hilang, kok iklas dan damai. Rencana si iblis gagal total. Dengan lesu ia melapor pada iblis lain. Bukannya dikasihani, ia malah ditertawakan teman-temannya itu. “Pantas saja kau gagal,” kata mereka. “Kalau mau membuat seseorang kikir dan serakah, jangan jadikan ia miskin. Jadikan dia kaya.” Mendapat saran rekan-rekannya, si iblis segera tanpa membuang banyak waktu segera menyusun rencana baru. Ia memberi kesuburan khusus pada ladang petani itu. Ketika para petani lain mengeluh karena mengalami gagal panen, ia malah mengalami kelimpahan panen. Lumbungnya dipenuhi gandum. Petani itu mendadak menjadi kaya. Lalu si iblis memberi ilham pada petani itu, “Bukankah kelebihan gandum ini dapat dijadikan vodka?” Dan ternyata minuman keras bikinan petani itu laku keras. Amat digemari oleh orang-orang kota. Petani itu menjadi semakin kaya. Akan tetapi, apa yang terjadi pada dirinya sesudah ia menjadi orang kaya? Sekarang ia suka berfoya-foya dan mabuk-mabukan. Dalam keadaan mabuk ia menagih tetangga-tetangganya untuk mengembalikan gandum yang mereka pinjam. Ia langsung naik pitam ketika mereka belum sanggup melunasi hutang mereka kepadanya. Maklum sedang masa paceklik. Tetapi ia tidak peduli. Ia memaki-maki. Bukan cuma itu. Keluarga petani yang semula tenang dan damai berubah menjadi ketegangan. Umpamanya, hanya karena istrinya menumpahkan sedikit vodka, petani itu marah bukan kepalang. “Bodoh! Kamu kira ini air hujan? Ini vodka. Mahal harganya!” Misi si iblis terselesaikan dengan baik. si iblis menang. Alkitab sering berbicara lantang tentang tentang kekayaan. Tuhan Yesus bahkan pernah berkata. “Alangkah sukarnya orang kaya masuk ke dalam kerajaan surga. Lebih mudah seekor unta masuk ke dalam lobang jarum.” Tetapi walaupun demikian, Alkitab tidak anti kekayaan. Alkitab tidak membenci orang kaya. Tuhan Yesus sendiri mempunyai pengikut yang kaya raya. Misalnya; Yusuf dari Arimatea. Juga para wanita yang melayani rombongan Yesus dengan kekayaan mereka. Sebenarnya kekayaan itu bersifat netral. Tidak jahat atau baik kepada dirinya. Bahkan bisa amat positif. Kekayaan menjadi baik atau menjadi jahat, ditentukan oleh tiga hal: Pertama, oleh bagaimana kekayaan itu diperoleh. Dengan cara yang halal atau haram. Kedua, oleh apa dampaknya bagi si pemilik. Menyejahterakan atau menghancurkan. Ketiga, oleh bagaimana atau untuk apa kekayaan itu dimanfaatkan. Untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Rasul Paulus menulis. “Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini. Agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberi kepada kita segala sesuatu yang dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” (1 Timotius 6:17-18). Rasul Paulus tidak menuntut orang-orang kaya di dunia agar mereka menjadi miskin. Sama sekali tidak! Ia hanya memperingatkan mereka tiga hal: Pertama, jangan tinggi hati. Kesombongan adalah pencobaan yang paling sering dihadapi oleh orang kaya. Pamer diri dan merendahkan orang lain. Bahkan Malinkundang yang dalam perantauan menjadi kaya, tega tidak mengakui perempuan yang pernah mengandung dan melahirkan sebagai ibu kandungnya. Kedua, jangan berharap pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan. Pencuri, karat dan ngengat serta inflasi dapat melenyapkan kekayaan. Bahkan tidak mustahil terjadi, orang yang tidur sebagai orang kaya, eiit… bangun sebagai orang miskin. Ketiga, jadilah seorang yang bermurah hati. Orang kaya dalam perumpamaan Tuhan Yesus yang tercantum dalam Lukas 16: 19-31 mendapati dirinya dalam neraka, bukan disebabkan kekayaannya, melainkan oleh ketidakpeduliannya terhadap Lazarus yang miskin, yang tergeletak di dekat pintu rumahnya. Ada lagi perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang kaya. Itu dapat kita baca dalam Lukas 12:16-20. Diceritakan bahwa ia adalah pengusaha agro-bisnis yang sukses dan kaya luar biasa. Persoalan timbul ketika ia tidak tahu lagi di mana ia bisa menyimpan hasil panennya yang melimpah ruah. Tapi tidak terlalu lama ia terbingung-bingung. Dengan sigap, cepat dan tepat ia memecahkan masalah. “Inilah yang akan aku perbuat, aku akan merombak lumbung-lumbungku dan mendirikan yang lebih besar.” Hebat, bukan? Tetapi Allah menyebut orang ini bodoh. Kenapa? Mengapa? Ia disebut bodoh bukan karena kekayaannya, bukan karena ia orang kaya. Ia disebut bodoh karena karena tiga hal: Pertama , Ia menganggap sesuatu yang sebenarnya cuma alat sebagai tujuan. Sandang, pangan dan papan itu penting. Siapa berani berkata tidak? Tetapi penting sebatas sebagai alat. Tapi orang kaya ini menganggap sebagai tujuan hidup. “Jiwaku, ada padamu banyak harta, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. Makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah.” Kedua, dalam mabuk rasa berpuas diri ia mengabaikan sesama. Dalam monolognya ia terlalu banyak mengucapkan kata, “aku” atau “ku”. Tak ada lagi tempat baginya untuk orang lain. Ketiga, ia mengabaikan Tuhan. Dalam monolognya itu tak sekalipun ia menyebut nama Tuhan. Alkitab memang sering berkata lantang tentang kekayaan. Tetapi ia juga tidak kurang sering berbicara tentang kemiskinan dan orang miskin. Lebih dari satu kali Alkitab mengatakan bahwa Tuhan berpihak pada orang miskin dan tertindas dan menjadi pembela mereka. Walaupun demikian, jangan salah duga, Alkitab tidak mengidealkan kemiskinan. Juga Alkitab tidak mengidentikkan kemiskinan dengan kesalehan. Kalau Anda sekarang ini orang kaya, saya menyarankan tiga hal: Pertama, mawas diri. Dalam Amsal 6:6-11 dikatakan bahwa kemiskinan tidak mustahil disebabkan oleh kemalasan atau dapat dikatakan bahwa kemalasan dapat menjadikan seseorang itu miskin. Nah, cobalah Anda mawas diri. Apakah Anda selama ini seperti itu? Kalau iya, bertobatlah! Kedua, jangan minder. Jangan rendah diri. Walaupun Anda orang miskin, Anda berhak hadir bersama orang-orang yang jauh lebih kaya daripada Anda. Walaupun sebagai orang miskin mungkin Anda tidak mampu membeli ini dan itu tetapi Anda mempunyai iman kepada Allah, semangat, sukacita, pengharapan dan sebagainya. Jadi, kenapa mesti minder? Jangan! Ketiga, berusahalah untuk meningkatkan taraf hidup ekonomi dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip iman secara konsisten. Belajar dari perumpamaan talenta, kita mesti terpacu untuk mengembangkan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita sehingga berlipat. Dalam 1 Timotius 6:9 Rasul Paulus menulis, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” Di sini yang dianggap salah bukanlah keinginan untuk menjadi kaya. Bukan. Ingin kaya sih oke-oke saja. Yang salah adalah kalau ambisi untuk jadi kaya itu menjadikan seseorang lupa diri dan terutama lupa Tuhan, sehingga ia terjatuh ke dalam percobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan. Jadi? Pingin kaya, oke. Bahkan setiap orang harus berjuang untuk meningkatkan taraf hidup ekonominya. Tapi tetaplah berpegang pada prinsip-prinsip iman. Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
![]() Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: 5454 (Telkomsel), 7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Online Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2010 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||