11 Maret 2010, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ratna Sundari - Sangkakala Sang PelayanBy: Len | Inspirasi | 08 Februari 2010, 10:42:48 | Dibaca: 137 kali Usia senja bukan penghalang. Asal ada kemauan, jalan pasti terbentang. Ratna Sundari (65), satu dari segelintir orang yang masih berkarya di masa tuanya. Saat ini, ia masih sibuk membina Paduan Suara Bunyi Sangkakala, sebuah paduan suara berbahasa Mandarin. Kumpulan lagu-lagu rohani berbahasa Mandarin hasil terjemahan Ratna, yang juga bertajuk Bunyi Sangkakala, resmi di-launching tahun 2007 lalu. Awalnya, Ratna, yang dinamai Mei Lan oleh orangtuanya, sudah mengumpulkan beragam lagu rohani sejak 9 tahun silam. Lagu-lagu tersebut iseng-iseng diterjemahkannya sendiri ke Bahasa Mandarin tanpa tahu untuk apa. Beberapa lagu pun dipakai untuk penyembahan di gereja tempatnya melayani. Ketika itu, ia melayani di Api Kemuliaan-Nya, sebuah wadah pelayanan gereja di Jakarta. Di sini ia melihat, anak-anak muda rindu menyanyikan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Sayangnya, daya tariknya kurang. Ratna pun membuat langkah baru. Bermodal kenekatan, ia berangkat ke Beijing. Apa pasal? “Saya ingin mempelajari tata bahasa mandarin. Memuji dan menyembah itu kan menerobos alam roh, jadi lagu-lagunya juga harus benar,” jawabnya. Mimpinya, lagu-lagu hasil terjemahan itu menjelma menjadi lagu-lagu pengurapan yang menyentuh semua orang. Oh, jadi, setelah dari Beijing, bisa langsung nulis buku, ya? “Tidak juga. Justru, demi buku itu, saya kembali lagi ke Beijing untuk belajar komputer,” ucapnya serius. Lho, belajar komputer kok sampai ke Beijing? “Iya dong. Supaya saya bisa menulis sendiri buku itu. Saya kan tak bisa menyuruh orang lain untuk menulisnya jika mereka tidak tahu lagunya seperti apa,” kilahnya. TANGAN TUHAN Tuhan juga yang membawanya kembali setelah melanglang buana hingga ke Singapura. Waktu kecil, Ratna memang aktif Sekolah Minggu. Ia terkenang, seorang ibu-ibu bersedia mengantar-jemput Ratna kecil karena ibunya sendiri sedang sibuk menjaga adik-adiknya yang masih kecil. Tetapi, rupanya kenangan masa kecil itu tak menyisakan ruang dalam hatinya bahkan hingga ia dewasa dan memiliki 4 anak. “Ilmu pengetahuan menghambat saya karena saya merasa pintar. Ajaran manusia yang selalu saya anggap benar. Banyak teman-teman yang menginjil dan mengingatkan namun itu tidak mempan,” ucapnya. Hingga suatu saat, sang anak sulung membuatnya sakit. Ia berseru kembali kepada Tuhan. Di Singapura, ia memberi diri dibaptis dan menjadi milik Tuhan. Sebagai salah satu bukti pelayanan ia mendirikan sebuah paduan suara. “Anggotanya ya adik-adik sepupu, teman-teman, kurang lebih dari 6 gereja. Ada juga beberapa yang belum mengenal Tuhan,” sebutnya. Semuanya dari Yogyakarta. Di kota inilah mereka mengadakan pentas pertama kali. Selanjutnya, mereka melayani di gereja-gereja. TANPA PAMRIH “Ini bukan gereja, bukan yayasan. Segala biaya yang harus ditanggung adalah tanggung jawab saya,” jelasnya. Meski demikian, ia percaya bahwa Tuhanlah yang selalu mencukupi, bagaimanapun caranya. Ia bercerita, dalam berbagai kesulitan yang kadang dihadapi, Tuhan sering sudah menyediakan jalan keluarnya. Kondisi itu membuatnya semakin yakin bahwa Tuhan yang selalu menuntun dan menyuruhnya melakukan sesuatu. Bagaimana dengan visi? Tampaknya Ratna tidak ingin gembar-gembor dan meluncurkan pernyataan bombatis. Ia hanya ingin tetap menurut pada firman Tuhan. Diberi tempat untuk latihan dan didukung guru-guru pelatih sudah membuatnya bersyukur. “Saat ini, kami sudah memiliki 68 personil. Kami ingin puji-pujian terus menggelegar hingga ujung bumi. Walaupun itu bahasa yang tidak mereka mengerti. Tetapi kami yakin, urapan Tuhan akan terus menjamah hati orang-orang,” tutupnya. Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: 5454 (Telkomsel), 7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Online Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2010 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||