By: Manati I. Zega | Hot News | 08 Februari 2010, 10:15:08 | Dibaca: 1461 kali
Menjalani hidup yang kudus bukan perkara mudah. Diperlukan pengorbanan, ketaatan, dan kesetiaan. Mungkinkah menjalani hidup yang kudus itu?
Tidak berlebihan bila harus diakui bahwa hidup dalam kekudusan bukan hal mudah. Pasalnya Allah yang kudus itu tidak terlihat. Bandingkan dengan godaan yang kasatmata. Berada di depan mata dan amat menggiurkan. Akibatnya, banyak orang yang akhirnya menyerah. Tak kuasa menghadapi terpaan godaan yang menggoyang sendi-sendi kehidupan. Saking beratnya godaan itu, tiga area berbahaya sering menggulung kehidupan orang Kristen.
Kerap terdengar kabar bahwa si-A jatuh ke pelukan seorang wanita. Padahal ia figur yang amat dihormati. Akibat perbuatannya istri, anak, pelayanan, karier, dan rumah tangga hancur berantakan. Demikian pula si-B yang notabene aktivis pelayanan dipenjarakan karena terbukti korupsi. Tidak jarang pula tersiar berita bahwa si-C bertengkar dengan sahabatnya karena rebutan kedudukan. Masih banyak lagi kasus lain yang menjatuhkan anak-anak Tuhan.
AWAS JEBOL! Secara umum, kejatuhan itu dapat disebabkan oleh tanggul pertahanan yang jebol. Bukan hanya tanggul Situ Gintung yang pernah jebol. Namun tanggul pertahanan iman pun bisa hancur. Bila tanggul iman hancur berarti ketidakkudusan masuk dalam hidup seseorang. Siapa pun bisa mengalaminya. Bukanlah jaminan bahwa seseorang yang sudah melayani pasti terhindar dari beragam godaan. Pengalaman itu pernah dialami oleh John Wesley.
Sebenarnya berbicara masalah kekudusan tidak dapat dipisahkan dari tokoh yang satu ini. Namanya John Wesley. John Wesley dilahirkan di tengah-tengah keluarga hamba Tuhan. Ayahnya adalah Pdt. Samuel Wesley— pendeta gereja Anglikan.
Ketika kembali ke Inggris dari pelayanan misinya di Georgia, USA, ia melanjutkan pelayanannya di gereja Anglikan. Dalam suatu kesempatan ia bertemu dengan kelompok Moravian yang sedang bersekutu dan membaca surat Roma, menurut tafsiran Luther. Peristiwa ini sungguh mempengaruhi hidupnya. John merasa ada sesuatu yang perlu dibarui dalam dirinya. Bagaimana caranya? Tidak ada cara lain kecuali hidup dalam kekudusan. Ajaran kekudusan ia dengungkan. “Gereja Metodis dan Nazarene adalah penerus moto kekudusan yang pernah diajarkannya,” cetus Pdt. Dr. Johannis Siahaya (47).
DOSA WARISAN VS DOSA PERBUATAN Menurut Pdt. Dr. Johannis Siahaya ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dosa perbuatan telah dibereskan. Namun, masih ada dosa warisan (akar dosa, yang diturunkan dari Adam, bukan karena perbuatan kita). Dosa ini yang selalu membuat seseorang punya kecenderungan berbuat dosa. Kondisi inilah yang menyebabkan manusia harus bergumul setiap hari karena jatuh bangun dalam dosa dan keduniawian. Nah, untuk itulah manusia perlu membereskan dosa warisan atau akar dosa. Caranya dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Roh Kudus akan memimpin hidup seseorang menjalani hidup kudus.
BERSAMA ALLAH SETIAP HARI Ketua Sekolah Tinggi Teologi Nazarene Indonesia (STTNI) Yogyakarta ini mengatakan agar konsisten hidup dalam kekudusan diperlukan langkah awal. Langkah awal yang mendasar adalah hidup dengan Allah setiap hari. Maksudnya bergaullah dengan-Nya melalui pembacaan Alkitab dan berdoa. Pula memelihara ketaatan kepada-Nya. Hidup bersama Allah inilah yang akan memproteksi hidup seseorang. Kita tidak mungkin memproteksi hidup dengan cara lain. Hanya firman dan doa yang mampu memagari dari segala ketidakkudusan.
Selain itu, masih menurut Pdt. Johannis, gereja dan pemimpin-pemimpin rohani harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk mengajarkan tentang kekudusan. Suara kekudusan kiranya terus digemakan. Metode pengajaran pun perlu dipikirkan agar relevan dan menarik. Hidup bergaul dengan Allah setiap hari menghindarkan kita dari tindakan tak kudus. Selamat mempraktikkan!
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)