12 Maret 2010, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tak Ada Alasan Untuk Tak Hidup KudusBy: Manati I. Zega/Daniel/Beti | Hot News | 05 Februari 2010, 11:30:44 | Dibaca: 234 kali Tepatlah bila orang mengatakan kita hidup di zaman yang bengkok. Artinya zaman yang tidak mengindahkan Allah. Tidak sedikit orang yang mengabaikan hidup dalam kekudusan . Namun, tidak berarti kita tidak mungkin hidup kudus. Mempertahankan kekudusan hidup adalah keharusan. Mengapa? Bagaimana caranya? Di zaman ini, menjalani hidup yang kudus bisa diberi stempel aneh. Bisa juga dicap orang kuno, tidak mengikuti perkembangan zaman. Bahkan gereja-gereja pun lebih banyak memilih bungkam untuk membicarakannya. Bila diamati hanya sedikit mimbar gereja yang lantang menyuarakan pentingnya kekudusan hidup. Mengapa demikian? Mungkin saja takut jika jemaat kabur. Atau, tak berani bila jemaat pindah ke tempat lain. Maka hidup yang berhasil, kiat sukses justru dikhotbahkan tiada henti. Padahal, kesuksesan sejati mestinya berawal dari kekudusan hidup. KEBEBASAN TERBELENGGU? Persoalan yang muncul, orang menganggap hidup dalam kekudusan mengekang kebebasan. Karena merasa kekudusan itu mengekang, lalu memilih untuk hidup tidak kudus. Namun Pdt. Joshua justru melihat dari sisi yang berbeda. “Kebebasan adalah hak istimewa yang Tuhan berikan bagi manusia,” kata Ketua STT Iman Jakarta ini. Hanya saja manusia sering menyalahgunakan kebebasan yang diberikan. Sejatinya, Allah tidak pernah menjadikan manusia seperti robot. Manusia bebas melakukan apa saja. Bila kebebasan dilakukan berpusat pada diri sendiri tentu tidak menyenangkan hati-Nya. Sebaliknya melakukan kebebasan yang berpusat pada kehendak Tuhan jelas hal itu diperkenan-Nya. Bila dipikirkan dengan jujur, terkadang manusia itu aneh juga. Mengapa dikatakan demikian? Bukankah Allah telah rela memisahkan diri-Nya bagi kita, mengapa kita justru tidak mau memisahkan diri bagi Allah? “Apabila kita rela memisahkan diri bagai Allah, tentu Dia akan memakai hidup kita bagi kemuliaan-Nya,” cetus doktor jebolan Fuller Theological Seminary USA ini kepada Daniel dari Bahana. Terus terang, sukar untuk mengatakan bahwa seseorang mengenal Allah jika ia tidak hidup dalam kekudusan. Artinya, salah satu wujud pengenalan akan Allah tercermin dalam kekudusan hidup yang dijalani setiap hari. Bukankah seorang anak mempermalukan ayahnya bila ia berlaku sembrono dalam hidup? Kudus adalah sifat dari Allah. Kita pun disebut anak-anak Allah. Nah, bila kita berlaku tidak kudus pantaskah kita memanggil-Nya Bapa? “Mengenal Allah secara pribadi pasti membawa kita memiliki hubungan dengan-Nya. Bila kita punya hubungan yang pribadi pasti kita berusaha menyenangkan hati-Nya,” tegas Pdt. Ferry Frans Simanjuntak, M.A (46). Adakah hubungan kegiatan agamawi dengan kekudusan hidup? Melakukan kegiatan agamawi merupakan hal yang baik. Namun, kegiatan agamawi bukanlah jaminan bahwa seseorang telah mengenal Tuhan dengan baik. Bisa saja kegiatan tersebut hanya sebatas aktivitas saja. Sebagai contoh, kita kerap menyaksikan orang-orang yang rajin beribadah namun perilakunya kurang sepadan dengan ibadahnya. Sementara rajin beribadah pada saat yang sama rajin pula berbuat dosa. Selingkuh tiada henti. Korupsi tiada akhir. Mengejar kedudukan tak kenal lelah. Jelas ini sebuah ironi. “Apabila orang-orang Kristen belaku tidak kudus mereka sama artinya tong kosong yang berbunyi nyaring,” tambah pembantu ketua tiga Sekolah Tinggi Teologi Imanuel Nusantara Jakarta ini. IBARAT MAKAN TANPA LAUK Tantangan pertama adalah keinginan daging. Bila seseorang tidak memiliki hubungan pribadi dengan Allah, yang menonjol adalah keinginan daging. Ketika manusia memilih menyenangkan diri sendiri, di sinilah terjadi benturan. Benturan antara keinginan daging dengan kekudusan. Di sini masalahnya, Alkitab katakan roh itu penurut namun daging lemah. Tantangan kedua adalah lingkungan. Lingkungan yang buruk dapat mengubah kebiasaan yang baik. Bila seseorang bergaul dengan lingkungan buruk sangat besar kemungkinan pengaruh negatif merasuk dalam hidupnya. Terakhir adalah tantangan kedagingan dan keinginan dunia. Pdt. Simanjuntak menyebut sebagai dosa yang menyebabkan ketagihan. Ya, semacam dosa yang bersifat adiktif. Dosa yang mendorong seseorang mengulang tindakan yang sama. Misalnya: dosa seks, Narkoba, korupsi, dan sebagainya. Di sekeliling kita dosa-dosa seperti ini sangat menggoda. Dosa-dosa tersebut aksesnya sangat gampang. Tantangan bagi orang percaya adalah menaklukkan setiap tantangan yang ada. Manusia harus memerangi ketidakkudusan bersama Roh Kudus. “Roh Kudus pasti memberi kita kemampuan ekstra,” tegas hamba Tuhan dari Gereja Protestan Soteria di Indonesia (GPSI) ini. Mengambil contoh dari kesalehan Ayub, Pdt. Simanjuntak yakin kalau Ayub mampu mempertahankan kekudusan, kita pun pasti bisa. Walau Ayub ditimpa masalah berat, ia tak tergoyahkan. ZAMAN YANG BENGKOK Di luar sana banyak orang yang mengaku tak mampu hidup dalam kekudusan. Alasannya terlalu banyak godaan. Namun bagi Pdt. Joshua, godaan bukanlah segalanya. “Binalah persekutuan dengan Tuhan setiap saat,” cetus Gembala Jemaat Gereja Santapan Rohani (GSR) Jakarta ini. Kualitas hubungan dengan Allah menentukan kualitas kekuatan seseorang saat menghadapi godaan. Bila seseorang setia membaca firman Tuhan, bersaat teduh, dan berdoa maka ketidakkudusan tidak mendapat tempat. Namun, tidak ada waktu untuk bersekutu membuat seseorang gampang jatuh dalam perselingkuhan, perceraian, korupsi, berebut kedudukan, dan lain sebagainya. Hal ini dapat dicek dalam pergaulan kita setiap hari. “Barang siapa yang dekat dengan Allah—bersekutu dengan-Nya, pasti tangguh menghadapi goncangan yang hebat sekalipun,” tandasnya. Sumber: Majalah Bahana, Februari 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: 5454 (Telkomsel), 7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Online Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2010 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||