Hidup Dekat dengan Berkat Tuhan

By: ryu | Kesaksian | 16 Jan 2010, 10:01:08 | Dibaca: 3854 kali

Jangan pernah berharap diberkati Tuhan kalau tidak mau bekerja. Itulah prinsip yang dipegang bapak Tan Sioe An, lelaki kelahiran Yogyakarta 53 tahun lalu yang berprofesi sebagai penjual sepatu dan buah musiman. Meski tidak memiliki bekal pendidikan formal yang memadai untuk bersaing dalam dunia kerja yang semakin ketat dewasa ini, tetapi sifat ulet serta gigih membuatnya tetap mampu bertahan.

Sewaktu ditemui di rumahnya, lelaki yang biasa dipanggil bapak Anton menuturkan bahwa ia lahir di tengah keluarga yang berkekurangan. “Sejak kecil saya telah diajari orangtua untuk hidup prihatin dan apa adanya. Namun, bukan berarti pasrah begitu saja dengan keadaan. Orangtua saya selalu menekankan pentingnya kemauan dan ketekunan dalam bekerja. Mereka juga bilang bahwa pekerjaan apapun boleh dilakukan asal tidak merugikan orang lain. Jadi, sejak kecil saya sudah mengenal lika-liku dunia kerja.”

Menjual sepatu dan buah musiman memang bukan pekerjaan formal. Profesi ini sendiri baru mulai digelutinya beberapa tahun lalu. “Mengenai sepatu, semua berawal ketika beberapa rekan menawari saya menjualkan sepatu-sepatu stok lama yang tidak laku. Daripada rugi lebih baik jual obral, yang penting kembali modal. Sementara tentang buah, saya menjual salak pondoh. Buahnya saya peroleh langsung dari penanamnya. Dari hasil berjualan sepatu dan salak, saya dapat menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak,” urainya.

Keuntungan yang diperoleh setiap hari memang tidak menentu, kadang banyak kadang sedikit. Tergantung keadaan. Masa paling ramai biasanya saat liburan, terutama saat liburan kenaikan kelas. “Namun itu juga bukan jaminan pulang dengan membawa uang. Saya pernah berjualan seharian tapi tidak memperoleh pembeli satu pun. Jadi saya pulang ke rumah dengan tangan hampa. Apalagi kalau ingat banyaknya kebutuhan keluarga yang belum terpenuhi. Sedih rasanya, tapi bagaimana lagi? Bukankah hidup harus selalu disyukuri? Manusia boleh berusaha, tapi berkat itu ada di tangan Tuhan,” ungkapnya.

Sumber penghasilan lain pun menjadi alternatif jika pembeli salak dan sepatu sedang sepi. Bapak Anton menegaskan bahwa jadi orang harus kreatif, tidak boleh terpaku pada satu cara saja. Berkat itu sebenarnya dapat datang dari mana pun, asalkan kita jeli melihat peluang dan mau berusaha. Biasanya ia menjual kardus bekas, kertas bekas, atau barang bekas lain. “Kemarin dulu ada orang menjual lemari bekas pada saya. Setelah saya perbaiki dan rapikan, barang itu dapat dijual. Itulah pekerjaan saya. Cukup menyenangkan, meski saya terkadang harus berkeliling kota mencarinya,” sambungnya.

Di samping segala usaha dan kerja kerasnya tersebut, bapak Anton juga mengatakan bahwa keluarga memiliki peranan yang tidak dapat dikesampingkan. “Saya selalu berusaha memberikan perhatian sebesar mungkin pada keluarga, karena merekalah pendukung saya. Saat saya lelah, sedih, atau mengalami hari yang buruk, merekalah yang selalu menghibur dan menguatkan saya. Rasanya semua kelelahan dan masalah sirna saat melihat mereka menyambut saya dengan bahagia. Oh ya, satu lagi. Hal terbaik yang saya miliki adalah istri saya. Ia selalu mendoakan saya dan membuat hidup saya lebih dekat dengan Tuhan,” kata anggota jemaat GPdi Sosrowijayan ini.

Di samping segala usaha dan kerja kerasnya tersebut, bapak Anton juga mengatakan bahwa keluarga memiliki peranan yang tidak dapat dikesampingkan. “Saya selalu berusaha memberikan perhatian sebesar mungkin pada keluarga, karena merekalah pendukung saya. Saat saya lelah, sedih, atau mengalami hari yang buruk, merekalah yang selalu menghibur dan menguatkan saya. Rasanya semua kelelahan dan masalah sirna saat melihat mereka menyambut saya dengan bahagia. Oh ya, satu lagi. Hal terbaik yang saya miliki adalah istri saya. Ia selalu mendoakan saya dan membuat hidup saya lebih dekat dengan Tuhan,” kata anggota jemaat GPdi Sosrowijayan ini.

Mengenai harapannya ke depan, bapak Anton mengatakan, “Saya ingin hidup lebih dekat dengan Tuhan, sehingga dapat menjadi sosok suami dan ayah yang baik lagi di tengah keluarga. Sebagai orang yang berpendidikan rendah, saya ingin anak-anak saya kelak memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi sehingga dapat hidup lebih baik.”

Sumber: Renungan Pagi, Januari 2010

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer


Layanan SMS

Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REMA
Untuk Renungan Pagi
Ketik REG <spasi> REPA
Untuk Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG

Kirim ke:
Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363
XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363

Untuk berhenti:
UNREG PAGI / SIANG / MALAM
& kirim ke nomor yang sama diatas

Khusus untuk TELKOMSEL
Ketik REG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA)
Kirim ke 5454.
Untuk berhenti berlangganan, ketik UNREG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA) ke 5454
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN


Pengumuman

RALAT BAHANA cetak edisi November 2012
24 Okt 2012
Lowongan Penerbit Andi
15 Jun 2012
© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2014
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13