29 Juli 2010, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tolong, Maaf, Terima KasihBy: Julianto & Roswitha | Tips | 01 Januari 2010, 00:00:00 | Dibaca: 781 kali Dalam sebuah acara Parenting yang saya pimpin, saya menganjurkan orangtua untuk membiasakan berbicara baik pada anak. Saya menyampaikan pentingnya melatih perbendaharaan kata-kata: maaf dan terima kasih. Bukankah kita membiasakan anak-anak mengucapkan kedua kata itu jika mereka melakukan kesalahan atau menerima sesuatu dari orang lain? Sayangnya kata-kata penting itu jarang keluar dari mulut orangtua kepada anak-anaknya. Saat rehat, seorang anak usia sekitar lima tahun menegur saya, “Om, satu lagi kata penting yang perlu.” “Kata apa, dik?” saya balik bertanya. Dunia yang Individual Anak-anak sekarang cenderung nyaman dengan diri sendiri. Mungkin saja itu disebabkan karena orangtua mampu menyediakan semua kebutuhan anak-anak mereka. Bagi yang lain boleh jadi ada hambatan pada masa inisiatif mereka (usia 3-6 tahun) sehingga anak-anak kesulitan memulai sebuah komunikasi. Kalau mereka tidak ditolong, ini mendorong munculnya sikap individualistis. Kurangi Kritik melatih anak agar terbuka dan mampu berbicara santun? Tentu saja, semuanya berawal dari orangtua. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah mengurangi kritik, tidak memberi label pada anak, dan cermat memilih kata. Perhatikan percakapan Albert (6 tahun) dengan papanya di bawah ini. Seorang ibu kesal karena anak TK-nya lamban, berkata, “Kamu selalu saja terlambat. Bisa bangun lebih pagi, nggak sih?” Sambil marah-marah, ibu ini memasukkan tempat makanan anaknya ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Habis makan ibu menegur Ita karena meninggalkan piring dan gelas kotor begitu saja di meja makan, “Ita, taruh piring makanmu di bak cuci piring. Sudah sebesar ini, masa tiap kali mesti diingatkan! Kamu kok pelupa sekali sih?” “Ini sudah kesekian kalinya kamu lupa kerjakan PR,” kata ayah, menemukan Andi yang kelas 4 SD sibuk mengerjakan PR Matematika sebelum berangkat ke sekolah. “Papa ´kan sudah seringkali bilang: periksa agenda sebelum tidur. Kamu selalu mengabaikan kata-kata papa!” Seorang ibu jengkel karena setiap hari anaknya (10 tahun) kehilangan pinsil, “Kapan kamu bisa menjadi anak yang bertanggung jawab atas barang-barangmu sendiri? Tiap hari pinsil hilang. Aduh!” Bagaimana kita dengan anak-anak di rumah? Pentingnya Pemilihan Kata “Maaf” adalah kata yang penting diucapkan jika orangtua menyadari bahwa ada yang salah dalam tindakan atau kata-katanya. Bahkan untuk kesalahan yang diperbuat anak, kita perlu hati-hati menilai; jangan-jangan sikap dan cara orangtualah yang menimbulkan kesalahan tersebut. Misalnya: mengapa Andi sering melupakan PR-nya? Mungkin ia membutuhkan pendampingan ayah-ibunya. Bisa juga ternyata ia tidak menemukan orangtuanya di rumah atau ada penyebab lain. Orangtua perlu sensitif jika kesalahan yang sama sudah terjadi berulangkali. Katakanlah, “Andi, maaf ya, papa belum maksimal menolong kamu mengerjakan PR. Apakah bisa nanti malam kita kerjakan PR-mu bersama-sama?” Selain itu, ucapkanlah “tolong”, jika Anda meminta anak melakukan sesuatu. Dengan demikian kita mengajari anak membiasakan penggunakan kata penting ini. Misalnya, “Albert, bisa tolong ambil kacamata papa di kamar?” Kemudian katakan “terima kasih” padanya untuk bantuan yang diberikannya, “Terima kasih ya, Albert. Papa sangat menghargai pertolonganmu.” Hati-hatilah dengan labeling. Beberapa kata yang nampaknya cocok dengan anak, bisa berakibat negatif dalam dirinya. Misalnya kata: pelupa, tidak bertanggung jawab atau pemalas. Ada juga kata yang bisa membingungkan anak. Perhatikan kata “selalu” dalam kalimat “Kamu selalu melupakan kata-kata mama!” Apakah memang anak “selalu lupa”? Kalau anak cenderung tidak ingat nasihat orangtuanya, mungkin cara penyampaian yang perlu diperbaiki. Komunikasi yang mengkritik terjadi saat kita ingin menyatakan sesuatu yang salah, tapi dengan cara yang tidak tepat. Atau menyampaikan hal yang baik dengan menyebutkan kekurangannya. Misalnya anak perempuan kita yang berusia 10 tahun nampak makin gemuk. Untuk menolongnya mengurangi berat badan kita mengatakan, “Mama lihat kamu makin montok.” Atau kepada remaja putra yang mulai berjerawat, “Kalau makan, kurangi gula. Papa lihat bintang-bintang di pipimu makin banyak!” Jangan-jangan, sebenarnya mereka pun sudah frustrasi dengan tubuhnya! Makin Sulit? Kita tidak bisa membandingkan anak kita dengan anak orang lain. Remaja di desa, misalnya, kemungkinan punya lebih banyak teman sehingga kekerasan orangtua “lebih mudah” ditanggung. Teman bisa menjadi social support bagi mereka. Berbeda di tempat lain. Lagipula, kita tidak pernah tahu isi hati anak, terlukakah ia atau tidak. Ada baiknya orangtua memperhatikan firman Tuhan ini: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Bukankah anak-anak kita adalah sesama kita juga? Sumber: Majalah Bahana, Januari 2010 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
![]() Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: 5454 (Telkomsel), 7363 (Flexi dan XL) Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Online Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2010 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||