08 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Say No to ShynessBy: aw | Tips | 31 Desember 2009, 08:16:26 | Dibaca: 1202 kali Banyak orang berpendapat bahwa rasa malu merupakan suatu hal yang wajar. Pandangan ini muncul karena rasa malu biasanya menghinggapi banyak orang, sehingga hal itu kemudian disebut wajar. Pada suatu kali, saya menemui seorang teman yang agak malu terhadap lawan jenis. Teman saya ini (sebut saja Tono) sebenarnya memendam perasaanya terhadap teman gerejanya, tetapi ia tidak berani mengungkapkannya. Ia selalu berpikir tidak cukup layak untuk menjadi calon kekasih gadis tersebut. Selidik punya selidik, ternyata ia kurang memahami sisi psikis wanita sehingga ia tidak memiliki kebaranian untuk melangkah ke depan. Jadi, kondisi jiwa Tono tertutup oleh rasa malu, ditambah dengan kurangnya informasi tentang cara seorang wanita merespons kenyataan, sehingga ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Dari kasus tersebut, kita dapat melihat bahwa rasa malu dapat menghambat potensi diri seseorang. Akar Masa Lalu Orang yang semasa kanak-kanak diperlakukan kurang pantas oleh orangtuanya, akan tumbuh dengan perasaan yang tidak yakin terhadap diri sendiri. Mereka cenderung bersikap tertutup dan kurang mampu bersosialisasi. Misalnya kerap dipermalukan, dimarahi di muka umum, dan lain sebagainya. Bahkan saat ia sangat membutuhkan sentuhan kasih dari orangtua, justru kritik atau celaan yang diperoleh. Jika dirunut kembali, pengalaman dalam keluarga bukanlah satu-satunya penyebab timbulnya perasaan tersebut. Peranan media massa dan lingkungan pergaulan sosial juga memberikan pengaruh yang tidak kecil. Saya pernah bertemu beberapa gadis yang merasa kurang percaya diri hanya karena memiliki kulit gelap. Mereka adalah kurban media yang mengatakan bahwa cantik harus berkulit putih. Secara tidak sadar, kita cenderung berusaha melupakan apa pun yang melukai perasaan kita. Proses ini disebut represi atau penekanan. Kita menekan kenang-kenangan yang tidak menyenangkan jauh ke belakang, memaksanya keluar dari pikiran sadar kita dan mendorongnya masuk ke dalam pikiran bawah sadar kita, dan menggantinya dengan pikiran-pikiran yang menyenangkan. Namun, ketika kita di kemudian hari a mengalami sedikit saja pengalaman yang mengingatkan akan pengalaman yang menyakitkan itu, maka kenangan yang tersimpan di alam pikiran bawah sadar kita menjadi terstimulasi kembali. Perasaan tidak yakin terhadap diri sendiri yang diperkuat dengan pengalaman itulah yang akan membuat seseorang terluka dan memunculkan rasa malu (minder) dalam dirinya. Prosesproses di atas mungkin tidak kita ingat secara mendalam. Biasanya hanya emosi kita yang memanas. Kita hanya ingat akan ketegangan, ketakutan, atau perasaan tidak enak yang menjengkelkan. Kita lebih teringat pada perasaan yang menyakitkan yang berkaitan dengan pengalaman tidak menyenangkan tersebut dan bukannya pada pengalaman itu sendiri. Inilah titik simpul yang harus dibenahi. Peran Seorang Teman Untuk memulainya, kita harus membuat hubungan (bersekutu) dengan membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan dan saling mengingatkan dengan sahabat kita, kemudian mulailah untuk jujur terhadap diri sendiri. Kejujuran ini akan sangat mempengaruhi hubungan kita dengan sahabat kita karena melalui keterbukaan, kita akan dipulihkan. Kejujuran adalah awal dari pemulihan. Setelah itu, mulailah berkomitmen untuk saling mendoakan agar kuasa Tuhan tercurah dalam hubungan persahabatan tersebut. Setelah kita melewati proses-proses itu, lihat dan rasakanlah bagaimana jiwa dan kehidupan rohani kita akan semakin sehat dan dewasa di dalam Tuhan. Amin. Sumber: Renungan Pagi, Desember 2009 [Kembali] Top Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||