By: Benny Santosa, S.T., M.Com., CFP® | Tips | 05 November 2009, 07:52:23 | Dibaca: 1896 kali
Untuk buku pengetahuan bagi anaknya, seratus ribu rupiah dianggap mahal. Namun, untuk tas sekolah, tiga ratus rupiah baru dianggap mahal.”
Seorang teman mengeluhkan istri salah seorang saudaranya. Apakah pengetahuan yang nanti akan didapat anak tersebut dianggap lebih rendah artinya dibanding penampilan ketika membawa tas sekolah yang keren?
Ketika mendengar pendapat seperti itu, saya menyadari bahwa ada banyak orang yang mempunyai level harga berbeda ketika menentukan harga suatu barang termasuk mahal, wajar, atau murah. Oleh karena itu, sering kali seorang merasa heran atas pendapat yang dimiliki oleh orang lain.
Alasan seseorang mengambil keputusan di dalam hal finansial seperti di atas bisa dijelaskan dengan istilah “mental accounting”. Fenomena perilaku finansial ini pertama kali diteliti oleh Richard Thaler, profesor dari School of Business Chicago. Mental accounting adalah perilaku ekonomi dimana seseorang menggolongkan masukan dan keluaran finansial yang dilakukan berdasarkan pos-pos seperti halnya yang ada pada akuntasi.
Jadi, seolah-olah mereka memiliki pos pendidikan, pos untuk tampilan, pos untuk hiburan, dan sebagainya, di dalam pikiran mereka. Seperti contoh di atas, pos pendidikan yang ada di dalam pikiran si ibu mungkin saja sudah terlalu banyak dikeluarkan. Bisa saja biaya pendidikan yang harus dikeluarkan untuk biaya sekolah sudah sangat banyak menurut ibu ini, sehingga jika harus mengeluarkan uang lagi untuk pendidikan dianggap sudah terlalu mahal.
Bandingkan dua skenario di bawah ini. Skenario 1, Anda ingin menonton konser dan Anda sudah membeli tiket seharga seratus ribu rupiah. Ketika Anda sampai di pintu masuk gedung, Anda menyadari bahwa tiket Anda hilang. Jika Anda ingin menonton konser tersebut Anda harus membayar seratus ribu rupiah lagi. Apakah Anda akan rela menonton konser ini? Ketika Anda rela mengeluarkan uang lagi, Anda akan menganggap bahwa Anda harus membayar dua ratus ribu rupiah untuk menonton konser tersebut.
Skenario 2, Anda belum mempunyai tiket untuk menonton konser tersebut. Ketika Anda sedang berada dalam antrian membeli tiket, Anda merasa telah kehilangan uang sebesar seratus ribu rupiah karena jatuh di jalan. Anda merasa kecewa. Apakah Anda tetap akan membeli tiket konser tersebut?
Penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa hanya 46% dari orang yang kehilangan tiket (skenario 1) akan membeli tiket kedua untuk menonton konser. Namun, 88% orang yang kehilangan uang dalam jumlah yang sama (skenario 2) akan tetap membeli tiket. Temuan ini menunjukkan, meskipun seseorang kehilangan uang dalam jumlah yang sama besar, ternyata tindakan finansial yang mereka ambil bisa berbeda, tergantung dari pos pengeluaran yang ada di kepala mereka.
Memiliki mental accounting yang salah akan menyebabkan kita mengeluarkan uang dengan cara yang salah pula. Oleh karena itu, kita harus mengevaluasi mental accounting yang kita miliki agar bisa mengambil keputusan finansial yang tepat. Jika selama ini kita mengira bahwa diri kita bukan pemboros, tetapi kita mengalami kesulitan untuk menabung, meskipun kita memiliki penghasilan yang cukup besar, maka ada kemungkinan besar kita memiliki mental accounting yang tidak tepat.
Jangan-jangan mental accounting yang kita miliki selama ini membuat kita tidak bisa melakukan kebenaran sehingga membuat kita kesulitan memberi persembahan kepada Tuhan dan sesama. Perhatikan ayat ini : “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.” (Ams. 23:23)
Agar bisa melakukan ayat tersebut, kita harus memiliki pos pengeluaran yang cukup besar pada mental accounting kita. Dengan demikian, kita tidak akan kekurangan sumber daya, baik dalam hal finansial maupun nonfinansial, untuk senantiasa membeli kebenaran, hikmat, didikan dan pengertian. Amin!.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)