Keindahan Kematian di Tana Toraja

By: Pdt. Wahyu Pramudya, M.Th. | Inspirasi | 28 Mar 2009, 10:43:22 | Dibaca: 8340 kali

Tana Toraja dikenal sebagai andalan obyek wisata di Sulawesi Selatan. Selain keindahan alamnya, kawasan pegunungan ini juga kaya dengan seni dan budaya. Upacara kematian merupakan salah satunya.

Orang Toraja mengenal dua upacara adat yang menjadi keunikan mereka, yakni rambu tuka dan rambu solo. Rambu tuka adalah upacara adat yang berhubungan dengan pengucapan syukur pernikahan, panen, atau peresmian tongkonan (rumah adat). Rambu solo adalah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang ditinggalkan membuat pesta sebagai tanda penghormatan kepada yang meninggal. Pesta ini dapat berlangsung mulai dari satu malam sampai dengan tujuh malam, tergantung pada tingkat sosial orang yang meninggal dalam strata sosial masyarakat Toraja. Pesta pemakaman ini dimeriahkan oleh kehadiran seluruh kerabat dan tetangga orang yang meninggal. Mereka membangun pondok-pondok sebagai tempat duduk sementara upacara berlangsung. 

Rombongan kami, para pendeta peserta Bina Kader Organisasi GKI (Gereja Kristen Indonesia) yang dipimpin Pdt. Dr. Robby I. Chandra mendapatkan kesempatan untuk duduk di salah satu pondok terdepan dan menikmati kemeriahan acara pemakaman ini. Kami menyaksikan penyembelihan tedong (kerbau) dan babi yang kemudian diolah untuk dinikmati bersama. Sayang, kami tidak dapat menyaksikan serunya ma ‘pasilaga tedong alias adu kerbau. Oh, ya di Tana Toraja terdapat tedong bonga alias kerbau albino yang harganya ratusan juta, dan biasa digunakan dalam upacara kematian orang dengan status sosial yang tinggi.

Mengomentari perayaan upacara kematian ini, Pdt. Em. Dr. Theodorus Kobong yang lahir di Tana Toraja dan menulis disertasi doktoral yang kemudian diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dengan judul Injil dan Tongkonan, di halaman 21, mengungkapkan pandangan orang Toraja, “Kematian itu hanyalah sebagai pintu untuk kembali kepada realitas semula. Meninggal berarti sule lako tampa rapa’na (kembali ke status semula), yaitu kehidupan semula dalam kepenuhannya.” Mungkin itulah sebabnya, orang Toraja selalu menyambut kematian dengan perayaan yang luar biasa megah dan meriah. Mari kita simak catatan perjalanan ke tempat-tempat yang terkait dengan kematian bagi orang Toraja. 

Pemakaman Adat
Rante adalah tempat upacara pemakaman secara adat. Di rante terdapat puluhan atau bahkan ratusan buah menhir (batu megalit). Batu megalit atau simabuang batu ini memiliki ketinggian 2-5 meter. Batu-batu megalit ini menjadi tempat penambatan kerbau yang akan dikorbankan untuk pesta perayaan kematian. Tidak setiap orang menanamkan batu megalit, hanya kalangan pemuka masyarakat. Untuk pendirian tiap batu megalit, setidaknya 24 kerbau disembelih.

Saya bersyukur rombongan kami yang terdiri dari beberapa pendeta GKI (Gereja Kristen Indonesia) dapat mengunjungi rante kalimbuang bori’ di Kecamatan Sesean. Kami mendapatkan penjelasan dari Pdt. Dr. Henriette (Erry) Hutabarat Lebang, Ketua Institut Teologi Gereja Toraja yang menemani perjalanan kami. 

Londa: Kuburan Unik
Londa adalah sebuah gua alam yang berfungsi sebagai kuburan. Di dalam gua ini terdapat ratusan tengkorak dan ribuan tulang belulang yang sebagian sudah berumur ratusan tahun. Terdapat juga peti-peti mati yang masih baru. Walaupun demikian, udara di dalam gua terasa sejuk dan tidak berbau. Londa terletak di desa Sendan Uai, Kabupaten Sanggalai, yang berjarak 7 kilometer di sebelah selatan kota Makale, ibukota kabupaten Tana Toraja. Sayangnya, tidak terdapat kendaraan umum untuk menuju Londa. Kita dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun menyewa kendaraan dari kota Rantepao.

Londa memiliki dua gua yang dapat dimasuki oleh pengunjung. Pemandu kami mengatakan bahwa dua gua ini sebenarnya saling berhubungan, tetapi pengunjung harus setengah merayap. Panjang gua ini sekitar 1.000 meter. Pengunjung dipungut tiket masuk Rp 5.000,- Kita dapat menyewa lampu petromaks bersama dengan pemandu lokal yang siap menemani dan memberikan penjelasan dengan membayar Rp 20.000,- Para pemandu ini biasanya masih mempunyai hubungan keluarga dengan jazad orang-orang yang diletakkan di dalam gua, sehingga mereka dapat menjelaskan kisah-kisah yang terkait dengan jenazah di tempat itu.

Kisah Romeo-Juliet versi Tana Toraja juga terdapat di Londa. Ada sepasang kekasih yang dilarang berhubungan lebih lanjut dan kemudian bunuh diri. Kisah bunuh diri mereka ada dua versi. Versi pertama mengatakan mereka terjun dari tebing, tapi ada yang mengatakan mereka menggantung diri. Tulang belulang sepasang kekasih ini diletakkan berdekatan.

Di atas pintu masuk goa di Londa terdapat patung-patung orang yang jenazahnya diletakkan di dalam goa. Patung-patung itu disebut tau-tau dalam bahasa Toraja. Tau-tau adalah patung miniatur dari jenazah yang dikuburkan di dalam gua. Hanya kalangan yang memiliki strata sosial tinggi yang dibuat patung miniaturnya. Tau-tau yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun ini rawan pencurian mengingat harganya tinggi karena nilai seni dan budayanya. 

Keindahan Kematian dan Respons Gereja
Mengapa kematian dirayakan sedemikian indah di Tana Toraja? Ritus-ritus bagi orang mati yang menuntut biaya cukup besar itu adalah upaya agar yang meninggal dapat kembali ke status semula dan menjadi leluhur yang didewakan atau makhluk ilahi. Konon, jika ritus-ritus kematian tidak dilaksanakan, orang yang mati itu akan terus menerus mengganggu dan mengutuki keturunannya. Seperti diungkapkan Pdt. Em. Dr. Theodorus Kobong dalam buku Injil dan Tongkonan, orang Toraja mempunyai pepatah: pa’tondokan marendeng. Artinya, dunia ini hanyalah sebuah tempat perhentian, tempat tinggal yang abadi berada di langit di atas, tempat tinggal para dewa, makhluk-makhluk ilahi, dan para leluhur.

Bagaimana Gereja Toraja memberikan respons terhadap pandangan dan ritus-ritus kematian yang dihayati oleh orang Toraja? Dalam Pengakuan Gereja Toraja di bagian penebusan, pada poin 7 disebutkan: 
“Keselamatan dan kesejahteraan kita kini dan nanti tidak tergantung pada persembahan-persembahan, seperti: korban binatang, amal, kebajikan serta kesalehan kita. Orang berdosa dibenarkan di hadapan Allah hanya oleh korban Yesus Kristus.” Dari pengakuan iman ini tampak upaya gereja untuk menegaskan ajaran Alkitab di tengah-tengah keyakinan tradisional yang mungkin sudah mendarah daging dalam kehidupan orang Toraja. 
Menyikapi ritus-ritus sebagai bagian dari adat istiadat, Pengakuan Gereja Toraja menyatakan: ”… adat tidak dapat dipisahkan dari keyakinan dan agama, sehingga kita wajib menguji setiap adat apakah ia sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.” Tentu saja bukanlah sebuah pergumulan yang mudah, tetapi Gereja Toraja telah menyatakan sikapnya untuk menyuarakan pandangan Alkitab di tengah penghayatan terhadap adat istiadat. 
Berkunjung ke Tana Toraja hanya delapan jam perjalanan darat dari Makassar. Anda akan menerima sambutan hangat orang Toraja sambil menikmati Kopi Toraja yang mak nyuss itu. Selamat menikmati keindahan kematian.

Sumber: Bahana, Maret 2009

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer


Layanan SMS

Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REMA
Untuk Renungan Pagi
Ketik REG <spasi> REPA
Untuk Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG

Kirim ke:
Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363
XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363

Untuk berhenti:
UNREG PAGI / SIANG / MALAM
& kirim ke nomor yang sama diatas

Khusus untuk TELKOMSEL
Ketik REG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA)
Kirim ke 5454.
Untuk berhenti berlangganan, ketik UNREG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA) ke 5454
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN


Pengumuman

RALAT BAHANA cetak edisi November 2012
24 Okt 2012
Lowongan Penerbit Andi
15 Jun 2012
© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2014
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13