By: Abd | Apresiasi | 11 September 2009, 09:23:04 | Dibaca: 818 kali
Pasien-pasien itu pun tak sabar menunggu untuk diobati. Tapi sebelum semuanya diatasi, tiba-tiba banjir datang.....
Pohon-pohon talok, bambu, dan semak-semak belukar dibiarkannya tumbuh tanpa sedikit pun dipotong, atau ditebang, kecuali beberapa batang pohon bambu china. Semua mengalir begitu saja. Sepeda motor masuk, sepeda ontel masuk, dukun gadungan bertingkah layaknya orang bijak, para pria mengeluhkan penyakit jorok, pasangan homo seksual dihajar bapaknya, dan seorang pemuda stres histeris, sehingga membuat warga ikut lari terpontang-panting menghindari banjir. Padahal waktu itu sedang musim kemarau. Tidak ada hujan, tidak ada petir.
“Ping pong” percakapan bersahutan. Kadang cepat kadang lambat. Namun, jeda sesekali memunculkan titik jenuh.
Kilasan cerita di atas bukanlah peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, namun bisa jadi mirip dengan kejadian di tengah masyarakat. Khususnya kaum marjinal di beberapa kota. Lakon berjudul Lho dimainkan oleh Teater Jejak ISI Solo. Lakon berdurasi kurang lebih 80 menit tersebut menggunakan Bahasa Jawa ngoko (sehari-hari-red).
Digelar di halaman belakang Gedung F, deretan ruang sanggar pun disulap menjadi pemukiman padat penduduk. Nyaris tidak ada nuansa panggung sedikitpun kecuali tata lampu untuk kebutuhan artistik, dan penentu waktu. Penonton pun dibiarkan duduk lesehan beralasakan tikar.
Lakon ini berkisah tentang seorang dukun bernama Supeno, yang belakangan diketahui adalah dukun bohong-bohongan. Supeno dengan baju dan celana komprang hitamnya menyelupkan songgok batu besar ke dalam air, kemudian airnya diberikan kepada pasien. Tapi apa lacur? Sekembalinya dari dukun, para pasien malah banyak yang mengeluh, sakitnya tambah parah. Situasi pun bertambah kacau balau.
Sutradara/ penulis lakon Lho, Stefanus Dionisius Matheas Anton Bayu Krisnawan (34) mengatakan, bahwa salah satu adegan dalam pertunjukan ini memiliki pesan, supaya manusia tidak percaya dengan takhayul, dan klenik yang ujung-ujungnya adalah bohongan, bahkan maut.
“Sekarang ini kan zaman modern, ngapain percaya dengan takhayul? Percaya itu ya sama Tuhan,” tukas pria tambun yang akrab dipanggil Bayu Gendut, atau Bayu Jembling ini. Meskipun sarat pesan-pesan, tapi hampir setiap adegan dalam drama realis tersebut menciptakan situasi yang membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Terutama saat adegan pemuda stres yang berteriak, “Banjiiirrr” hingga membuat semua berlari mencari tempat pengungsian, salah satunya dengan memanjat pohon.
AKHIR YANG MENGAMBANG Karena bingung mengakhiri sandiwara tersebut, Umat Gereja St Petrus Gendengan Solo, ini memutuskan, pasangan homoseksual (Suryanto, dan Waluyo) akhirnya menceburkan diri ke Sungai Bengawan Solo, karena hubungannya tidak direstui oleh kedua orang tuanya. Mereka disuruh minggat dari rumah. Saat tubuh kedua pasangan homoseksual ini meloncat ke sungai, lampu pertunjukan mati seketika, dan musik penutup pun mengalun. Tepuk tangan riuh bersahutan turut mengakhiri reportoar yang digelar Kamis, (2/7) tersebut.
“Sebenarnya ini hanya cara saya mengakhiri cerita. Cuma saya berharap penonton menafsirkan sendiri secara positif, bahwa kedua pasangan homo seksual tersebut setelah mencebur sungai tidak jadi mati tenggelam karena ternyata musim kemarau kaya gini kan airnya keruh, ya to? Dan akhirnya mereka sadar, dan tidak jadi homo lagi,¨ tutur Bayu Jembling sembari sesekali tersenyum. “Tapi bisa jadi penonton menafsirkan, bahwa mereka mati bukan karena bunuh diri,” tambahnya.
Lebih Suka Jadi Atlet Pebasket Denny Sumargo rupanya tengah sibuk menyiapkan dua film terbarunya sekaligus.Sebetulnya, untuk debutnya di dunia ... Selengkapnya
Asuransi yang Tepat Pak Eko di BAHANA, Saya mau tanya, sebaiknya asuransi seperti apa yang kita miliki? Saya ... Selengkapnya
•
Mempertahankan Kekayaan Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan- ... Selengkapnya
Kuhidup dalam Kemenangan Yesaya 43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau ... Selengkapnya
•
Ada apa di Keluargaku? Seseorang yang memiliki roh penolakan yang kuat, secara sadar atau tidak sadar akan mengirimkan sinyal-sinyal ... Selengkapnya
•
Aku Punya Sahabat Dalam hidup ini ada dua hal yang kita nikmati, yaitu ketenangan batin dengan Sang Khalik ... Selengkapnya
Hadiah Terindah Bacaan: Kolose 2:6-15 Menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan pasti terasa sangat menyenangkan. Biasanya, ada hadiah ... Selengkapnya
•
Posisi di Hadapan Tuhan Bacaan: Kejadian 3:8-15Ketika menggunakan komputer, kadang kita merasa lelah, nyeri pada bagian tangan, atau mata ... Selengkapnya
•
Jangan Wariskan Utang Bacaan: Amsal 13:20-22 Kepengurusan PSSI era Nurdin Halid ternyata meninggalkan utang, bukan hanya utang prestasi ... Selengkapnya
•
Bertobat Secepat Mungkin Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10 Apakah Anda sering mengalami cegukan dan bingung bagaimana mengatasinya? Cobalah salah ... Selengkapnya
•
Jangan Mau Dibohongi Bacaan: Imamat 19:23-31 Meski gelombang modernisasi telah lama merambah Cina, hal-hal takhayul rupanya masih kuat ... Selengkapnya
•
Pemimpin yang Melayani Bacaan: Yohanes 13:1-20 Sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama tentu selalu mendapat pelayanan kelas satu ... Selengkapnya
Dampak Kawin Campur Jakarta, BAHANAKawin campur bisa menimbulkan dampak terhadap emosi dan psikologis. Hal tersebut dipaparkan Ketua Program ... Selengkapnya
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)