Temukan Metode Kontekstual

By: Manati I. Zega dan sumber | Hot News | 06 Aug 2009, 08:10:18 | Dibaca: 4143 kali

Pewartaan Kabar Baik adalah tanggung jawab orang-orang percaya. Untuk tujuan itulah kita dipanggil keluar dari kegelapan. Tujuan utamanya adalah memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Lantas, bagaimana pewartaan itu dilakukan dengan efektif? Metode apa yang relevan?

Kabar Baik harus diwartakan sebab itulah amanat Tuhan Yesus. Karena namanya Kabar Baik, maka perlu dikabar-kabari. Tidak disimpan untuk diri sendiri melainkan diwartakan, dalam arti disebarluaskan agar orang lain beroleh anugerah keselamatan. Bak seorang anak yang beroleh hadiah dari orangtuanya, ia amat bersemangat untuk menceritakan kepada teman-temannya. Prinsip Kabar Baik demikian adanya. Kita telah menerima anugerah keselamatan secara cuma-cuma, maka kita berkewajiban membagikan cuma-cuma pula.

Akan tetapi, untuk mewartakan Kabar Baik bukan tanpa kendala. Bukan pula seperti jalan tol bebas hambatan. Terkadang mendulang problem karena metode yang kurang relevan—cara yang kurang tepat. Atau, si pemberita kurang pengetahuan dan pengalaman. Maka, dibutuhkan wawasan yang luas agar Kabar Baik sungguh-sungguh diterima dengan baik. Bukan sebaliknya. Lalu, bagaimana metode yang tepat agar Kabar Baik dapat diterima? Inilah persoalan yang perlu dianalisa dan didalami serius. Kalau tidak, Kabar Baik akan berubah menjadi kabar buruk yang tak berdampak. Tidak membuahkan apa-apa. Karena itu, metode yang relevan sungguh dibutuhkan.

KENALI PENGHALANG 
Aktivitas apa pun tak luput dari penghalang. Demikian pula pewartaan Kabar Baik. Pasti mengalami berbagai kendala. Seperti diungkapkan Dr. Bambang Eko Putranto, Th.M (55), kendala pasti selalu ada. Bagi ketua Sekolah Tinggi Misiologia Yogyakarta ini, penghalang tersebut dapat berbentuk tradisi, adat istiadat, bahasa, kepercayaan atau pola hidup masyarakat setempat. Maka, kearifan amat dibutuhkan.

Menyadari adanya berbagai kendala, maka diperlukan langkah-langkah yang bijak. Berkaca dari pengalaman Pdt. Henoch Edi Haryanto, M.Th (51) mungkin dapat menolong kita mengefektifkan pewartaan Kabar Baik. Penatua Gereja Bethel Tabernakel (GBT) Kristus Alfa Omega Ngesrep Semarang ini, mengusulkan pewartaan yang kontekstual. Artinya, sesuai dengan konteks masyarakat dengan budaya yang ada. Pengalamannya mewartakan Kabar Baik lintas budaya, modal kontekstual amat menolong. “Kendala selalu ada, namun dengan kontekstualisasi meminimalkan segala kendala,” tegasnya kepada Zega dari Bahana.

Pewartaan Kabar Baik memang membutuhkan seni tersendiri. Terlebih dalam konteks Indonesia. Seorang pewarta Kabar Baik harus tahu area tempatnya berpijak. Dr. Eko menjelaskan, setidaknya terdapat tiga area yang harus dipahami. Area pertama disebut dengan high resistance (area yang penolakannya tinggi). Area ini punya penolakan yang sangat tinggi terhadap Kabar Baik. Maka, Pdt. Henoch berpendapat jangan demonstratif—agresif untuk area yang seperti itu. Lebih baik, saran Henoch, pahamilah apa yang menjadi kebutuhan mereka. Mungkin kebutuhan akan pendidikan atau perdagangan, di sanalah nilai-nilai iman ditanamkan. Area kedua dinamakan low resistance—middle resistance. Area seperti ini, penolakannya rendah. Pewartaan Kabar Baik dapat dilakukan lebih leluasa. Dan, area ketiga disebut no resistance. Pewartaan Kabar Baik dapat dilakukan dengan sangat leluasa di area seperti ini. Metode verbal (pewartaan secara langsung) dan non verbal dapat diterapkan. Umumnya, area-area seperti ini mayoritas masyarakatnya sudah percaya. Hanya saja kelesuan rohani sedang melanda. Banyak orang yang sudah lama meninggalkan ibadah. Karena itu, kobaran api Kabar Baik perlu dihidupkan lagi.

PENDEKATAN
Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, perlu didekati dari sisi sosial. Berbicara masalah sosial berarti berbicara mengenai masyarakat dan budayanya. Pdt. Stefanus Nurhadi, S.Th (39) punya pengalaman unik. Ketua STT Doulos Yogyakarta ini masuk ke dalam relung budaya masyarakat setempat. Di daerahnya, ia lebih dikenal dengan sebutan Ki Nur. Sangat sedikit orang yang mengenalnya sebagai pendeta. Hamba Tuhan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) ini mengakui budaya sebagai pintu masuk yang efektif untuk mewartakan Kabar Baik. Maka, Ki Nur tidak canggung berbaur dengan masyarakat di sekitarnya. Bahkan diundang kenduri pun ia bersedia. “Saya mau datang bila warga di sini mengundang kenduri,” jelas Pdt. Nurhadi tersenyum.

Masuk ke dalam budaya, tidak berarti tenggelam dengan budaya yang melawan firman Tuhan. Maksudnya, masuk untuk menjadi garam dan terang. Dalam sejarah, Paulus pernah berlaku demikian. Sebagai pewarta Kabar Baik yang ulung ia menuliskan. “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat” (1 Kor. 9:20). Dapat dikatakan inilah metode Paulus ketika menjangkau orang-orang Yahudi dan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

Menyitir Yohanes 4, Pdt. Henoch meyakini Tuhan Yesus juga melakukan pendekatan dalam pelayanan-Nya. Ambil contoh, Dia melakukan pendekatan terhadap perempuan Samaria di Sumur Yakub. Menurut dosen beberapa STT ini, dalam percakapan dengan perempuan Samaria, Yesus melakukan pendekatan lintas budaya. Sejarah mencatat, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Untuk menjembatani jurang yang terpisah itu, Yesus melakukan pendekatan. Tujuan pendekatan itu adalah agar perempuan Samaria beroleh Kabar Baik yakni air hidup dari Sang Kristus. Air kehidupan yang membawa keselamatan.

SARANA ATAU KABAR BAIK?
Bagi sebagian orang, pewartaan Kabar Baik cukup dengan aktivitas sosial. Mendirikan rumah sakit, panti sosial, atau lembaga pendidikan. Lalu, aktivitas semacam itu dinamakan pewartaan Kabar Baik. Namun, sebagian lagi kurang sepakat dengan pemahaman demikian. Menurut Pdt. Nurhadi, harus dibedakan antara sarana dan Kabar Baik itu sendiri. Gembala Jemaat GGP Anugerah Yogyakarta itu mengatakan tindakan sosial bukan pewartaan Kabar Baik. Pewartaan Kabar Baik kiranya dilakukan secara verbal. Hal yang sama dipahami pula oleh Pdt. Henoch. Suami Dra. Pudjiastuti menyebutkan tindakan sosial bukanlah pewartaan Kabar Baik. “Pewartaan Kabar Baik sama seperti yang Kristus lakukan dalam Alkitab,” dalihnya. Memang, ia tidak menampik perlunya tindakan-tindakan sosial. Namun, sosial tidak boleh menggantikan pewartaan Kabar Baik. Tindakan sosial hanyalah jalan masuk untuk pewartaan Kabar Baik.

Kalau demikian, hal apa yang paling esensi dalam pewartaan Kabar Baik? Unsur apa yang paling mendasar dalam pewartaan Kabar Baik? Menurut Pdt. Gideon Rusli,S.PAK (36) pewartaan Kabar Baik yang efektif harus disertai follow up (tindak lanjut, red). Menurut Gembala GBI Johar Salatiga ini, 50% orang datang kepada Kristus karena pendekatan pribadi—man to man. Berarti, metode umum yang berlaku adalah verbal. Pdt. Gideon tidak membantah bila metode lain dapat pula digunakan sesuai konteks. “Metode verbal dapat digunakan dalam konteks tertentu, namun dalam konteks lain non verbal juga oke,” jelasnya kepada Bahana.

Masih menurut Pdt. Gideon, sesuai dengan perkembangan zaman, media pun dapat digunakan sebagai sarana. Radio, TV, atau internet dapat dipakai sebagai alat pewartaan Kabar Baik. Meskipun, menurut data Haggai Institute Singapura, efektivitas pewartaan Kabar Baik lewat media hanya 1%. Namun, ia masih mempertanyakan validitas data itu. Pengalaman di GBI Johar, pernah seseorang datang ke gereja yang ia gembalakan karena membaca artikel yang dipasang di- website. “Saya yakin, internet media yang akan berdampak dalam pewartaan Kabar Baik,” tegasnya. Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Seorang rekannya yang melayani di Pakistan memakai radio sebagai sarana pewartaan Kabar Baik. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Lewat cerita-cerita yang diadaptasi dari Kitab Suci, mereka mem-follow up banyak orang. Respons pendengar amat banyak. 

Akan tetapi, masih menurut Gembala dengan gaya apostolik ini, di Indonesia, kebanyakan radio-radio yang mewartakan Kabar Baik belum digarap serius. “Kita harus menempatkan orang-orang khusus agar fokus pelayanan makin tajam,” sarannya.

Efektivitas radio komunitas dialami pula oleh Pdt. Henoch—pendiri radio Keruxon Semarang. Dwi Agus Priono, Tim Gembala GBT Ngesrep mengatakan radio Keruxon sangat membantu untuk berkomunikasi dengan jemaat. Dengan demikian, jemaat dan pendengar dapat memperoleh informasi yang dibutuhkan. 

HOLISTIK
Seharusnya, bagaimana pewartaan Kabar Baik dapat dilakukan? Memang banyak pandangan terkait metode yang digunakan. Namun, Dr. Bambang Eko Putranto, Th.M meyakini—para misiolog sepakat 80% keberhasilan pewartaan Kabar Baik adalah pelayanan holistik. “Semua metode dapat digunakan dalam pewartaan Kabar Baik. Tidak usah mempertentangkan verbal atau non verbal. Apalagi perdebatan teologis. Yang perlu diperhatikan adalah konteksnya,” terang penulis An Analysis of Korean Church Growth tersebut.

Dalam pewartaan Kabar Baik, esensi yang tidak boleh dilupakan adalah Kabar Baik dapat diterima. Berita keselamatan mendarat tanpa paksaan. Pula, tidak menimbulkan gejolak sosial. Maka, Pdt. Henoch tidak setuju bila ada yang menerima Berita Anugerah, lalu diumumkan. Apalagi berita itu dieksploitasi besar-besaran. Menurutnya, cara-cara demikian kurang bijaksana. “Bila ada yang menerima Berita Anugerah, lebih baik berada dalam komunitas tertentu. Jangan langsung diajak ke Rumah Tuhan,” ujar Pdt. Gideon Rusli.

Pandai-pandai memilih metode, kalimat itu patut dipertimbangkan. Setiap daerah dan budaya punya keunikan tersendiri. Karena itu, konsep pewartaan Kabar Baik perlu menjadi bahan perenungan. Bagi Dr. Eko, konsep yang perlu dipikirkan adalah: lain daerah lain strategi, setiap dekade lain strategi dan lain denominasi lain strategi. Pewarta bebas memilih yang efektif sesuai konteks lingkungannya.

ROH KUDUS
Pada gereja awal, terlihat sangat jelas peranan Roh Kudus dalam pewartaan Kabar Baik. Maka Lukas menuliskan, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). 

Pekerjaan pewartaan Kabar Baik bukanlah tugas manusia semata-mata. Ini amanat Tuhan. Orang-orang percaya hanya menjalankan Perintah Agung tersebut. Tentu yang paling berperan adalah Allah Roh Kudus. Dialah yang mampu mengerjakan lebih dalam dari semua usaha pewarta. Memang segala usaha atau metode dapat ditempuh, namun hubungan dengan Roh Kudus tetap diprioritaskan.

Pdt. Henoch Edi Haryanto, M.Th., Dr. Bambang Eko Putranto, Th.M., Pdt. Stefanus “Ki Nur” Nurhadi, S.Th serta Pdt. Gideon Rusli, S.PAK sepakat bahwa Roh Kudus sangat berperan dalam pewartaan Kabar Baik. Kita hanya mau menaati apa yang Tuhan kehendaki. Perkara hasil atau dampak bukan urusan kita. Tugas kita adalah mewartakan. Tugas Roh Kudus adalah menginsafkan manusia akan dosa dan kebenaran. 

Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2008

diggdel.icio.usfacebookredditstumbleuponTechnoratiYahoo Buzz!


Warta Populer


Layanan SMS

Untuk Renungan Malam
Ketik REG <spasi> REMA
Untuk Renungan Pagi
Ketik REG <spasi> REPA
Untuk Renungan Siang
Ketik REG <spasi> SIANG

Kirim ke:
Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363
XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363

Untuk berhenti:
UNREG PAGI / SIANG / MALAM
& kirim ke nomor yang sama diatas

Khusus untuk TELKOMSEL
Ketik REG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA)
Kirim ke 5454.
Untuk berhenti berlangganan, ketik UNREG MALAM (atau SIANG, PAGI, MUDA) ke 5454
*) Rp. 1000,- per SMS + PPN


Pengumuman

RALAT BAHANA cetak edisi November 2012
24 Okt 2012
Lowongan Penerbit Andi
15 Jun 2012
© Copyrigth @ CV. Andi Offset 2014
Contact: Online Devision
Jl. Beo 38-40
Yogyakarta, 55281
Indonesia
Tlp: 0274 545 465 ext. 204
ebahana.com v. 3.0.12.13