06 Februari 2012, |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Apresiasi The Grace of God di Perjalanan WaktuBy: Grollus Daniel Sitanggang | Kategori: Apresiasi | 02 September 2011, 00:18:23 Lima tahun berdirinya Grandiasso Chorus dirayakan dengan pergelaran konser bertajuk The Grace of God. Konser ini menjadi berbeda dengan kehadiran penyanyi papan atas Indonesia yang berkolaborasi dengan Paduan Suara Grandiosso.Selasa malam itu, gema paduan suara dan solo vokal memenuhi atmosfer Gedung Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta Pusat. Rupanya ada Bams-Samsons, Judika, dan Ayu Paramita.Berkolaborasi dengan Grandiosso Chorus, Bams melantunkan You are My Hiding Place. Sedangkan Judika menyanyikan Haw Great Thou Art. Pada kesempatan ini, Grandiasso Chorus menyanyikan Cantate Domino, Adoramus Te, Axultate Deo, Absolve Domine, dan Peter Noster.Empat orang bersuara tenor 1, 5 orang suara tenor 2, 7 ... SelengkapnyaGEREJA SALIB SUCI - Filosofi Hidup, Keterbukaan, dan EstetikaBy: Elisabeth Maretta Sari | Kategori: Apresiasi | 27 Desember 2010, 00:09:27 Gereja tanpa dinding. Kesan itu melekat kuat pada Gereja Salib Suci, Cilincing, Jakarta Utara. Arsitek gereja, Pastor J.B Mangunwijaya Pr sengaja mengadopsi konsep pendapa, tanpa dinding. Desain pendapa sendiri kuat melukiskan keterbukaan, dan musyawarah bagi siapa saja.
Meski sekilas terlihat sederhana, rancangan Romo Mangun ini dinilai rumit oleh para arsitek. Gereja Salib Suci ditopang oleh empat pilar besar, mirip tiang penyangga jalan tol. Keempat pilar di dalam gereja tersebut berbentuk payung. Setiap payung berbentuk obor dengan beberapa guratan lidah api.
Empat pilar besar melambangkan keempat Injil, yang menjadi sokoguru gereja. Sementara empat payung melambangkan empat mata angin. Lidah api melambangkan peristiwa Pantekosta. ... SelengkapnyaTak Perlu Malu Bernyanyi, Melompat, dan MenariBy: Abednego Afriadi/ Widodo S P | Kategori: Apresiasi | 30 November 2010, 15:47:11 Ibadah pun selesai. Patudu mulai nyaring menyapa. Orang-orang berhamburan ke depan, mendekati panggung. Musik dimulai. Yak. Meloncat. Enggak perlu malu.
Kira-kira seperti itulah performance finalis Indonesian Idol 2008 ini, bersama band rohani yang telah dirintisnya. Ada rock, dance, Japanese rock, dan punk. Ingar bingarnya memancing anak-anak muda untuk merapat ke panggung. Bernyanyi bersama, bersorak bersama. Tanpa malu-malu. Semua memuji Tuhan.
Mulanya Patudu Manik dan Yohanes Adianto iseng-iseng bikin band rohani. Tak lama kemudian Patudu lebih banyak ke Jakarta. Keinginan itu sempat sirna. Band yang dibentuk dengan semangat iseng-isengan itu pun vakum. Namun, sebuah artikel di internet mengabarkan, salah satu band rohani senior ... SelengkapnyaLingkaran Penghapus JarakBy: Mareta | Kategori: Apresiasi | 22 Oktober 2010, 16:03:58 Tak kurang dari tiga perempat meter, tinggi panggung itu. Penonton berjingkrak dari berbagai sudut. Tak ada jarak. Siapa saja bisa berinteraksi.
Nanti elu bakal diketawain kalau nyanyi pake gitar kecil,” ledek Ibunda Bams, Desiree Tarigan. Bams nekat menenteng gitar kecil ke atas pentas lantaran musik yang diusung membuka konser itu harus diiringi gitar kecil.
Alunan musik reggae sekonyong-konyong hadir tatkala Bams menyanyikan lirik tembang Tegar dalam album bertajuk Resurrection. Konser launching album terbaru besutan Giving My Best (GMB) itu digelar dalam bungkusan live recording performance di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis, (5/8). Format live panggung ini memilih konsep intimate. Konsep ini menghapus ... SelengkapnyaCukilan di Alun dan PusaranBy: Yunanto S./A. Afri/ DBS | Kategori: Apresiasi | 16 September 2010, 15:55:35 Setiap karya grafisnya masih setia menggunakan teknik cukilan. Teknik itu mampu menghasilkan beragam karya grafis secara orisinal.
Halusnya puluhan cukilan berbentuk garis melingkar yang menghiasi karya bertajuk Alun dan Pusaran seolah menunjukkan kejelian, kecermatan, dan kesabaran seorang perupa. Pun demikian dengan Toleransi yang diinterpretasikan melalui garis tebal yang mengisi ruang kosong. Perupa Anggara Tua Sitompul ini memandang, Toleransi sebagai kunci yang menciptakan simbol keseimbangan.
Dalamnya perenungan dan corak perupa yang akrab disapa AT Sitompul ini, tertuang dalam karya-karya lainnya. Seperti Semua Ada Waktunya yang melukiskan sebuah siklus hidup manusia yang selalu berubah-ubah. Ada waktunya untuk menangis, ada waktunya untuk tertawa.
Seperti yang tersirat ... SelengkapnyaKasih di Tanah Air BetaBy: Luciana Secitra Pawulan | Kategori: Apresiasi | 14 Agustus 2010, 09:48:40 “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa….” Lagu yang sudah lama sekali tidak terdengar di tengah maraknya lagu pop. Kenapa harus memilih lagu itu? Kenapa bukan lagu yang lain?
Ending cerita pun ditutup dengan sentuhan lagu tersebut. Mungkin karena film ini memang ditujukan untuk keluarga. Penggambaran saat itu adalah orang tua tunggal, ibu seorang. Selain pemilihan musik dan lagu yang sarat dengan emosi, pemilihan pengambilan gambar juga sangat menarik. Seperti keindahan tanah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini mungkin tidak pernah kita perhatikan, poster Bunda Maria dan simbol-simbol kristiani, baik dalam iring-iringan pengungsian, maupun di rumah pemeran utama Tantiana ... SelengkapnyaALTO-SOPRAN SUARA ITUBy: Daniel Grollus | Kategori: Apresiasi | 30 Juni 2010, 11:45:25 Diakui, karakter suaranya berada di antara alto-sopran. Wajar, jika untuk mengetahui dengan jelas perkembangan suaranya, ia mesti melatih vokalnya dengan beberapa guru berbeda dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun sudah mulai menyanyi-nyanyi sejak umur 5 tahun, tapi Olga Victoria mengasah kemampuan vokalnya di Purwacaraka sampai lima tahun. Sang guru vokal selalu memberikan saran dan ajaran lagu ketika olga diikutsertakan dalam lomba menyanyi.
Mereka suka dengan karakter suaranya. Mereka melihat belum ada penyayi cilik yang mau serius setelah era Nikita. Mereka melihat potensinya. Mereka menyiapkan lagu remaja dan dewasa yang bisa diterima oleh semua usai. Mereka menggandeng Jontahan prawira dan Timotius. Mereka berdua menyeleksi ... SelengkapnyaKala Bayang-Bayang TibaBy: Abednego Afriadi | Kategori: Apresiasi | 27 Mei 2010, 16:09:29 Kesenian memang sarat makna. Tak terkecuali seni wayang. Namun, tak semua masyarakat sanggup menerima bahasa-bahasa tutur dalam pewayangan. Wayang Sandosa mencoba menggiring masyarakat awam wayang dapat memahami esensi kisah yang disajikan. Seperti kisah-kisah alkitabiah dalam Wayang Sabda yang juga aktif digelarnya.
Sekitar tahun 1982, saat masih kuliah, Yohanes Sujani Sabdolaksono berpikir mementaskan wayang dengan bahasa Indonesia. “Saya ingin dialog pewayangan itu didaratkan supaya bisa diterima masyarakat yang awam akan bahasa pewayangan maupun bahasa Jawa,” kisahnya. Namun, seiring dengan perkembangannya dalang kelahiran Lamongan, 19 Agustus 1945 ini mengalami banyak kendala. “Tidak semua bahasa Jawa bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pasti akan ... SelengkapnyaPESAN ILAHI DALAM BINGKAIBy: Abednego Afriadi | Kategori: Apresiasi | 26 April 2010, 15:33:52 Banyak perupa bilang lukisannya cenderung dekoratif, dekoratif-ekspresionis, dengan aksesori etnik. Jangan heran jika di gallery lukisannya, Anda menemukan lukisan Yesus memakai blangkon, murid-murid membawa palawija. Perjamuan terakhir dengan ketela dan air kendi.
Sejak menemukan jatidiri lukisannya, Irawan Hadi (45) mulai menuangkan tema-tema Alkitabiah. Ia terpanggil setelah bangkit dari masa suram. “Ketika saya menghisap ganja tiba-tiba ada suara Tuhan, yang meminta saya supaya melayani dengan talenta yang Tuhan berikan. Lalu saya belajar musik, pelayanan sana-sini hingga akhirnya saya memilih senirupa untuk memuliakan nama Tuhan.”
Irawan, demikian ia akrab dipanggil berharap lukisan tersebut mudah dicerna oleh orang yang membeli lukisannya. Banyak simbol yang tertoreh. ... SelengkapnyaJIKA KEINDAHAN TANPA PANGGUNGBy: Abednego Afriadi | Kategori: Apresiasi | 27 Maret 2010, 08:34:56 Panggung seni tak harus eksklusif. Ruang publik, dan lingkungan pun bisa jadi tempat interaksi antara seni dengan masyarakat. Jemek Supardi pun kerap kali demikian. Bahkan di tempat yang tak sewajarnya untuk pentas. Pesan apa yang disampaikan tokoh pantomim Indonesia ini? Mari kita simak!
Separo rambutnya gundul. Putih warna make-up menutup lingkaran mukanya tanpa gradasi. Hanya menyisakan bagian mulut, dan mata. Celana kodok, kaos dalam motif lorek pun dikenakannya, seiring dengan gerakan-gerakan imajiner yang atraktif, estetis, bahkan terkadang memancing penonton untuk tertawa terpingkal-pingkal.
Setiap cerita, setiap tema dikembangkan melalui gerak tubuh dan ekspresi wajah. Adalah Jemek Supardi ketika menyajikan pantomim. Ekspresi wajah, dan ... SelengkapnyaTop Gallery Most Wanted
Semua Warta »Warta Selengkapnya |
Cari Arsip
Warta Kita
Video
Beranda Chat
Sampaikan uneg-uneg Anda dalam Beranda Chat ini, seperti ujud doa, salam-salam, usul, saran, dll. Mohon tidak berbau SARA. (Jam kerja admin: 08.00 - 15.00 WIB)
Online Counseling
Butuh konseling segera
«Klik di sini» *)Konseling ini bersifat gratis dan dibuka selama jam kerja (08.00 - 15.00 WIB) Top Artikel
Polling
SMS Renungan
Untuk Renungan Malam Ketik REG <spasi> REPA Untuk Renungan Pagi Kirim ke: TELKOMSEL (Simpati, HALO, Kartu As): 5454 Telkom (Flexi Classy, Trendy, Combo): 7363 XL (Jempol, Bebas, Explor): 7363 Khusus Renungan Siang Ketik REG <spasi> SIANG dan kirim ke 5454 (Telkomsel) Untuk berhenti: UNREG <spasi> REMA atau REPA atau SIANG *) Rp. 1000,- per SMS + PPN Sabda Tuhan
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hot News | Misi Gereja | Bible World | Inspirasi | Vitamin | Konseling | Kesaksian | Tips | Renungan | Jadwal | Buku | Musik | Book Store |Profil | Artikel | Artis dan Tokoh | Apresiasi | |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Moderator: Admin: |
Copyright © Andi Offset - 2012 - All Rights Reserved Jl. Beo 38 - 40, Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 545465 Fax (0274) 545465 Email: info@ebahana.com Kontak Redaksi Majalah Bahana: redaksi@bahana-magazine.com |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||